
PIKIRAN RAKYAT - Sepeda listrik yang ditarik gerobak kopi berada di tepi Jalan Peta, Kota Bandung. Di dalam kotak gerobak ini tersedia minuman kopi dan non-kopi hasil kreasi barista, mirip dengan yang tersedia di mal atau kafe mewah yang sering dikunjungi kalangan menengah atas.
Sejak pagi hari, penjual kopi keliling yang sebagian besar dijajakan oleh para pemuda menunggu kedatangan pembeli di tepi jalan. Ada pelanggan tetap, dan ada juga yang hanya lewat secara kebetulan.
Melani (19), penjual kopi dari sebuah merek tertentu, mengatakan bahwa harga kopi yang ia tawarkan paling tinggi adalah Rp10.000. Untuk kopi americano biasa atau yang dicampur es, harganya hanya Rp8.000 per gelas.
"Yang paling mahal Rp10.000, itu untuk kopi gula aren. Yang biasanya hanya Rp8.000," kata Melani saat diwawancarai pada Minggu, 5 April 2026.
Menurutnya, tren kopi di jalanan mulai ramai sejak setahun terakhir. Belakangan ini, teman-temannya sebaya juga memiliki pekerjaan yang sama.
Penjualan kopi keliling di jalanan menunjukkan bahwa produsen memutuskan untuk berpindah dari mal atau kafe-kafe yang selama ini dianggap eksklusif bagi kalangan menengah atas.
Melani menyadari bahwa pasar yang ia jalani berbeda. Ia mempercayai mobilitas serta hubungan pribadi dengan pelanggannya. "Sekarang cukup mengandalkan pelanggan tetap, serta orang-orang yang lewat di jalan," katanya.
Setiap hari, ia mampu menyajikan hingga 60 cangkir kopi. Angka ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap produk kaki lima masih tinggi meskipun persaingan di bisnis kopi sangat ketat.
Sebagai pedagang kopi keliling, Melani tidak berada sendirian. Ia menyatakan bahwa dirinya termasuk dalam kelompok yang lebih besar. Terdapat sekitar 15 hingga 16 rekan kerjanya yang memiliki profesi serupa, tersebar di berbagai lokasi penting di seluruh Bandung.
Tren kopi keliling sesuai dengan temuan penelitian yang menyatakan bahwa komunikasi langsung dalam bisnis kopi keliling mampu menghasilkan pengalaman istimewa yang menjadi daya tarik utama bagi kalangan muda.
Dalam jurnal berjudul "Analisis Perilaku Konsumen Kopi Keliling Sebagai Gaya Hidup Modern Generasi Muda" (2025) yang diterbitkan oleh Universitas Surabaya, disampaikan bahwa tren kopi keliling muncul sebagai respons terhadap keinginan masyarakat akan akses kopi berkualitas yang lebih praktis, cepat, dan hemat tanpa perlu mengunjungi kedai atau kafe konvensional.
Bisnis kopi keliling semakin tumbuh pesat di tengah perkembangan gaya hidup modern, terutama bagi kalangan pemuda yang menginginkan akses yang cepat dan mudah terhadap minuman kopi.
Berdasarkan penelitian tersebut, kalangan muda cenderung menghargai hal-hal seperti kemudahan akses, kecepatan pelayanan, dan harga yang murah yang diberikan oleh penjual kopi keliling. Faktor-faktor ini menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan pembelian mereka, dibandingkan hanya memperhatikan kualitas produk kopi itu sendiri.