Lapak Jadul Ma’e Bangkitkan Kuliner Pati Tempo Dulu, Ada Sego Jagung, Botok Yuyu, dan Pepes Wader -->

Lapak Jadul Ma’e Bangkitkan Kuliner Pati Tempo Dulu, Ada Sego Jagung, Botok Yuyu, dan Pepes Wader

9 Apr 2026, Kamis, April 09, 2026

JATENG.COM, PATI –Kondisi Alun-Alun Kembangjoyo Pati pada hari Rabu sore (1/4) terlihat sepi.

Di beberapa sudut, terdapat warung-warung yang tidak terpakai dengan atap yang mulai rusak.

Bingkai besi lama dan gerobak dagang yang tidak lagi berfungsi menjadi pemandangan yang dominan, memperkuat kesan terbengkalai di kawasan relokasi para Pedagang Kaki Lima (PKL).

Tumbuhan liar mulai tumbuh tinggi di antara batu paving. Namun, dalam suasana yang menyedihkan itu, sebuah papan penunjuk dengan tulisan "Lapak Jadul Ma’e" terlihat mencolok.

Suara percakapan yang hangat dan aroma lezat berasal dari warung kecil dengan dinding anyaman bambu.

Yaitu Retno Septi Anggrahenie (Mak Batok), Endang Sri Asih (Mak Susur), dan Triyono (Lek Kribo), tiga seniman yang memutuskan untuk "berani" membuka usaha di tempat tersebut.

Toko Antik Ma’e bukan hanya tempat bersantap.

Mak Batok menyatakan bahwa tujuan utama mereka adalah memperkenalkan kembali masakan tradisional khas Pati yang semakin langka, selain Soto Kemiri dan Nasi Gandul yang sudah dikenal.

Konsep kami adalah ingin memperkenalkan makanan-makanan khas masa lalu. Yang asli dan khas di sini, kami unggah. Seperti Sego Jagung Brabuk khas Pati Selatan ini," kata Mak Batok dengan penuh semangat.

Makanan yang disajikan sangat autentik, mulai dari Sego Jagung, Bothok Yuyu (kepiting sungai), Bothok Udang Kali, hingga Pepes Wader. Mak Batok menambahkan, ke depannya mereka akan menyajikan hidangan yang hampir punah seperti Tebu Telur dan Ayam Kodok, olahan ayam yang dibentuk mirip otak-otak.

Saat ditanya tentang alasan berjualan di tempat yang sepi dan memprihatinkan, Mak Batok menjawab dengan candaan khas seorang seniman.

"Kami berdua ini orang yang berani. Jika tidak ada yang berani, kapan lagi? Siapa lagi? Jika tidak ada yang memulai, (Alun-Alun Kembangjoyo) akan tetap seperti ini terus," tegasnya.

Ia mengakui bahwa keputusan ini diambil berdasarkan rasa kepedulian bersama Ketua Paguyuban PKL setempat, Thukul, dalam upaya membangkitkan kembali perekonomian di sini.

Meskipun warung ini baru berjalan selama seminggu, tanggapan masyarakat tergolong luar biasa. Kampanye melalui media sosial seperti Facebook dan TikTok menarik banyak warga untuk datang secara sengaja meski lokasi alun-alun sedang sepi.

"Alhamdulillah selalu ada. Pada hari pertama penjualan langsung habis," tambahnya.

Salah satu keunggulan utama Lapak Jadul Ma’e adalah harga yang sangat murah.

Mak Batok mengacu pada istilah "Harga Banderol Ndeso".

Nasi Jagung dengan harga Rp5.000, Pepes Ikan dengan harga Rp5.000, Minuman Tradisional (Kunyit Asam/Kembang Telang) mulai dari Rp3.000 hingga Rp5.000.

"Secara maksimal lima ribu rupiah, sangat terjangkau," jelas seorang perempuan yang sehari-harinya juga bekerja sebagai guru di SLB ini. Karena tugasnya sebagai pendidik dan kegiatan lainnya, Lapak Jadul Ma’e hanya buka setiap Sabtu hingga Rabu, mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB.

Pada hari Kamis dan Jumat, mereka memutuskan untuk berlibur agar dapat fokus pada tugas mengajar serta melakukan istirahat.

Kehadiran Mak Batok dan teman-temannya tampak seperti lampu kecil di tengah gelapnya suasana Alun-Alun Kembangjoyo. Dengan sentuhan seni dan rasa cinta terhadap kuliner lokal, mereka berharap tempat ini dapat bangkit kembali dan menjadi pusat budaya serta ekonomi masyarakat Pati.

Untoro, salah seorang pembeli yang diwawancarai di lokasi, mengatakan bahwa ia sengaja datang karena rasa penasaran setelah melihat unggahan di media sosial. Untoro menceritakan bahwa ia mengetahui keberadaan Lapak Jadul Ma’e melalui Facebook dan TikTok.

Ia merasa kaget menemukan hidangan khas di tengah suasana alun-alun yang kini sangat berbeda dibanding masa kejayaannya dahulu.

"Ternyata di tengah Alun-alun Kembangjoyo terdapat kuliner khas dan istimewa di Pati," kata Untoro sambil menikmati makanannya.

Makanan yang dipesan Untoro pada sore hari sangat beragam, mulai dari nasi jagung hingga berbagai jenis botok. Ia menjelaskan hidangannya yang terdiri dari nasi jagung, botok ikan, botok udang, serta sayur tumis daun singkong. Untuk menghilangkan rasa haus, ia memilih minuman tradisional yang segar.

"Minumnya es bunga telang dan kunir asem. Suasana warungnya menggunakan dinding bambu atau gedhek, hal ini sangat menarik," tambahnya.

Menurutnya, penggunaan bahan alami dalam bangunan warung memperkuat kesan tradisional yang jarang ditemui di tengah kota.

Meskipun menawarkan rasa yang lezat dan pengalaman yang istimewa, Untoro menyatakan bahwa harga makanan di Lapak Jadul Ma’e sangat murah.

Ini menjadi hal yang penting baginya agar tetap dapat menikmati makanan berkualitas tanpa perlu mengeluarkan uang terlalu banyak.

"Harganya terjangkau. Katanya, kantongnya bolong dan ini cukup membantu dalam menikmati makanan," candaannya.

Kehadiran Lapak Jadul Ma’e dengan hidangan klasiknya berhasil mengundang kembali warga seperti Untoro untuk datang ke Alun-Alun Kembangjoyo, sekaligus membangkitkan kembali semangat ekonomi di area yang pernah terabaikan. (Mazka Hauzan Naufal)

TerPopuler