Masa Berbunga: Saat Adzana Ashel Belajar Melepaskan untuk Berkembang -->

Masa Berbunga: Saat Adzana Ashel Belajar Melepaskan untuk Berkembang

6 Apr 2026, Senin, April 06, 2026

Musim berbunga sudah tiba!Pengambilan gambar POPCreator kali ini agak berbeda dan sedikit menghadirkan tantangan di bawah teriknya sinar matahari PIK serta suasana puasa. Namun, hal itu tidak menghalangi seluruh tim untuk bekerja dengan maksimal. Termasuk Ashel,the rising star untuk POPcreator edisi April 2026, yang datang dengan penuh keyakinan diri sambil menyebarluaskan senyum hangat dan kegembiraannya.

Puasa tidak mengurangi energi perempuan berusia 21 tahun itu untuk menari-nari kecil mengikuti alunan lagu yang terdengar mengiringi sesi tersebut.photoshoot.Ia bahkan meminta sedikit waktu untuk boost semangat bermain bersama anabul peliharaan seorang fotografer. Meskipun dari luar terlihat seperti sedang berada di 'musim semi', ternyata Ashel mengakui bahwa dirinya justru sedang dalam musim gugur.

Di tengah syuting, sambil duduk rileks di sofa, bintang yang bernama asli Adzana Ashel itu berbagi cerita kepada POPBELA tentang perjalanan hidupnya, bagaimana ia berkembang, hingga makna...‘bloom era’. Bak bunga lili dan bunga dandelion, Ashel mengibaratkan proses bertumbuhnya dan menjadi tetap indah meski sedang terpuruk sekalipun. Musim ini membuat dirinya ‘menggugurkan’ banyak hal, sebelum akhirnya berbunga dengan indah. 

Mari simak detailnya di bawah ini!

Ritual kecil yang mempertahankan Ashel tetap "hidup"

Baju atasan berwarna pink dengan motif bunga dari Suedeson, aksesori Stuudio Particular tersedia di LUMINE JAKARTA

Di balik sorotan kamera dan jadwal yang sibuk, Ashel memiliki cara sederhana untuk tetap "hidup", yaitu dengan mendengarkan suara orang-orang yang ia cintai. Panggilan singkat, percakapanreceh, bahkan sekedar bertanya “lagi di mana?” jadi sumber energi. Untuk seorangextrovert seperti Ashel, interaksi merupakan napas yang mengembalikan rasa penuh dalam harinya.

Aku sangat suka berbicara melalui telepon, bahkan hanya sekadar bertanya, 'eh kamu di mana?' Seperti update langsung saja. Tapi mendengar suara seseorang, berinteraksi dengan orang tersebut membuat energi aku terisi kembali. Tadi aku menelepon ibuku, seperti 'mami besok masak ini ya' atau 'mom nanti begini-begini', yang penting adalah mendengar suara orang yang kita cintai itu membuat hari jadi lebih semangat, ujarnya dengan penuh senyum.

Bahkan mengemudi sendirian di tengah kemacetan Jakarta, didampingi musik yang mengalun lembut, tidak terasa melelahkan. Bagi Ashel, itu adalah kesempatan untuk bernapas dan bersenang-senang. Saat-saat di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri dan“vibing”tanpa ada tuntutan apa pun. Bahkan dalam momen pribadi ini, ia mengakui merasa bercahaya. Dari sini, muncul pengingat sederhana bahwa ternyata bercahaya tidak selalu membutuhkan cahaya sorotan di panggung, tapi ketika bisa rileks dengan diri sendiri yang sebenarnya.

Fase kelelahan ketika tidak mampu mengekspresikan diri

Blazer biru Onycha, aksesori Stuudio Particular tersedia di LUMINE JAKARTA

Perjalanan kehidupan setiap individu termasuk menuju“blooming era”tidak selalu terang. Seperti bunga, kadang daunnya mulai mengkerut satu per satu. Itulah yang dirasakan Ashel, masa kekeringan, yang ia alami pada tahun 2024. Ini menjadi salah satu masa paling berat baginya. Perubahan besar, perpisahan, dan penyesuaian datang secara bersamaan. Pikirannya terlalu penuh, hingga kata-kata tak lagi muncul. Ia pernah sampai pada titik di mana bahkan mengekspresikan perasaan terasa tidak mungkin, seolah emosinya kehilangan cara untuk berbicara.

Ada hari di mana aku tidak bercerita apa pun kepada siapa pun. Aku berada dalam fase yang tidak mampu menulis apa yang kudapatkan karena stresnya, kenangnya. 

Pada saat itu, ia berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi dirinya sendiri. Akhirnya, ia perlahan mampu berbicara baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri. Aura-nya menjadi lebih ringan, lebih tulus, dan lebih penuh kehidupan, ketika akhirnya ia tidak lagi menyembunyikan perasaannya.

Menurutku hal yang penting adalah menyampaikan apa yang kita pikirkan, baik melalui tulisan maupun berbicara langsung kepada seseorang,seorang artis yang lahir di Jakarta.

Menyampaikan diri adalah proses yang terjadi secara alami. Dunia dan segala sesuatu di dalamnya mungkin membuat kita 'layu' karenaoverthinkingdan tekanan. Namun berbagi, baik kepada orang lain maupun kepada buku journalingmelalui setiap kata yang diucapkan, setiap perasaan yang diterima, mampu membuat diri sendiri kembali merasa utuh.

Musim autumn, tahap peralihan yang tidak terlihat menarik, tetapi penting

Blazer biru Onycha, aksesori Stuudio Particular tersedia di LUMINE JAKARTA

Setelah layu, mungkin ada masa dalam kehidupan ketika daun atau kelopak mulai jatuh. Bukan karena pohonnya mati, melainkan karena sedang bersiap untuk hidup kembali. Awal tahun 2026 kembali membawa Ashel pada banyak perubahan. Hal-hal yang dulu terasa akrab,perlahan berubah. Kebiasaan yang sehari-hari, kini memerlukan penyesuaian. Kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan rencana, harus dihadapi. Dan sekarang, ia mengakui sedang berada di musim gugur itu.

“Kayaknya aku lagi di musim gugur,” dikatakan secara jujur menggambarkan kehidupannya saat ini.

Musim gugur sering dianggap sebagai akhir, padahal justru menjadi awal dari sesuatu yang baru. Musim gugur bukan tentang kehilangan, melainkan tentang keberanian untuk melepaskan setiap 'daun-daun lama'. Karena tidak mungkin tumbuh jika masih penuh dengan masa lalu.

Ya tidak apa-apa, kita habiskan saja semuanya dulu. Kita hancurkan dulu, ujarnya dengan keyakinan.

Ia memahami bahwa masa ini tidak akan nyaman, tetapi ia juga yakin bahwa di balik setiap kegagalan, terdapat tunas-tunas kecil yang sedang berkembang. Sesuatu yang perlahan bangkit, lebih segar, lebih kuat, dan lebih lengkap. Karena terkadang, sebelum benar-benarblooming, kita memang perlu berani melewati musim gugur terlebih dahulu.

Pada saat jatuh, nanti akan muncul sesuatu yang baru kembali,tutur Ashel membagikan keyakinannya.

Puncak pembelajaran adalah mengikhlaskan diri untuk berkembang

Gaun mini dengan lipatan Mason Studio, aksesori Studio Particular tersedia di LUMINE JAKARTA

Hidup memiliki cara tersendiri dalam bercerita, untuk mendorong seseorang berkembang. Ketika berani melepaskan, ini juga berarti berani melepaskan sesuatu yang tampaknya menjadi satu-satunya hal yang membuat segalanya terasa "sempurna". Tidak semua yang diinginkan akan...stay. Tidak semua yang dijadwalkan akanwork out. Demikian pengalaman mantan anggota JKT48 ini.

Bintang film Tunggu Aku Sukses Nanti itu berbagi tentang turning point di mana ia berkembang. Satu kata yang terasa sederhana namun seringkali sulit dijalani, yaitu melepaskan. Membiarkan sesuatu yang seharusnya jatuh, secara perlahan tanpa dipaksa. Melepaskan hal-hal yang memang bukan lagi bagian dari hidupnya, jatuh dengan sendirinya. Bukan berarti menyerah, tapi karena tahu bahwa tidak semua hal perlu dipertahankan.

Pada saat aku mampu menerima sesuatu yang sangat kuinginkan... di situ aku merasa sedang berkembang, ungkapnya.

Ashel menyadari ini bukan proses yang instan. Dulu, mungkin ia akan memilih untuk tetap tinggal, stuck di fase yang sama. Tapi sekarang, ada sesuatu yang berubah, bahwa kadang melepaskan justru adalah bentuk paling tulus dari mencintai diri sendiri, dan juga menerima bahwa ada hal-hal yang memang bukan untuk kita. Karena ternyata, pertumbuhan itu nggak selalu datang dari apa yang kita dapatkan, justru dari apa yang akhirnya kita relakan.

Self-Love yang jadi penyelamat

Mini dress pleats Mason Studio, aksesori Stuudio Particular available at LUMINE JAKARTA

Perjalanan yang penuh dengan berbagai tantangan ini tidak Ashel lalui sendirian. Ada hadiah dari Tuhan, suara-suara yang hangat dari orang tua, dukungan dari teman-teman, yang terus mendorongnya untuk melangkah maju. Semua hal tersebut turut membentuk versi dirinya saat ini. Namun, satu sosok yang sering kali terlupakan, yaitu diri sendiri.

Memasuki tahun 2026 yang baru berjalan tiga bulan, Ashel menyadari bahwa setiap perkembangan dalam hidupnya tidak akan pernah terjadi tanpa keinginan dari dirinya sendiri. Karena pada akhirnya, yang menggerakkan langkah itu tetaplah dia. Yang memutuskan untuk bangkit, yang memutuskan untuk bertahan, dan yang memutuskan untuk terus melangkah adalah Ashel sendiri. Untuk pertama kalinya, ia mencoba melakukan hal yang selama ini ia lewatkan dan menyesal; bersyukur kepada dirinya sendiri.

Orang-orang terdekat sangat membantu dalam perkembangan diriku, tapi aku sangat bersyukur pada diriku sendiri, karena sebelumnya aku tidak pernah. Terkadang aku menyesal, jelasnya.

Dalam ceritanya, Ashel mengakui bahwa ia terlalu ketat terhadap dirinya sendiri. Sering kali bertanya “kenapa aku kayak gini?”terlalu sibuk meragukan harga dirinya, hingga lupa bagaimana cara menghargai diri sendiri. Self-loveterasa asing. Hingga akhirnya, sesuatu berubah secara perlahan namun pasti.

Di tahun yang penuh perubahan ini, ia mulai belajar untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk memandang diri sendiri. Dariself-doubt berubah menjadi lebih banyak self-appreciation. Sesederhana,

“makasih ya sudah bertahan,”

terima kasih sudah tetap berjalan,

terima kasih sudah selalu bersyukur,

terima kasih telah selalu baik,

atau bahkan,

mohon maaf jika aku melakukan kesalahan.

Kalimat-kalimat kecil tersebut, tanpa disadari, menjadi awal dari sebuah hubungan yang baru. Hubungan yang lebih lembut dengan diri sendiri. Meskipun mungkin terdengar biasa saja, setiap kata yang diucapkan dengan tulus, secara perlahan membawa penyembuhan. Dan dari sana, rasa cinta terhadap diri sendiri mulai berkembang.

Sejak saat ini aku bersyukur pada diriku sendiri, hal itu membuatku mencintai diriku,katanya dengan senyum yang ramah di wajah.

Ia perlahan mulai menerima dirinya sendiri, menerima segala sesuatu yang harus dilepaskan tanpa menyalahkan siapa pun. Ia menyadari bahwa tidak semua hal perlu dipaksakan. Dan di balik semuanya itu, ia tetap bisa memilih untuk bersyukur. Menjadi diri yang sekarang bukan hanya tentang siapa saja yang membantu dalam pertumbuhannya, tetapi juga tentang bagaimana belajar untuk tidak lagi meninggalkan diri sendiri.

Makna “Blooming” versi Ashel

Keteguhan dan kasih terhadap diri sendiri itulah yang membuat Ashel memiliki makna tersendiri tentangblooming era. Blooming bukan tentang persetujuan orang lain, bukan juga mengenai memenuhi harapan siapa pun. Standar kebahagiaanmu tidak berasal dari ucapan orang lain, melainkan dari dirimu sendiri. Tidak semua yang terlihat“blooming” dari luar, benar-benar terasa mekar di dalam.

Mungkin banyak tahap kehidupan aku yang dianggap orang sedang berkembang, tapi bagi aku tidak,ujarnya dengan jujur.

Kalimat tersebut menjelaskan bahwa makna berkembang tidak selalu identik bagi setiap orang. Apa yang dianggap puncak oleh orang lain, belum tentu dirasakan sebagai kebahagiaan. Sebaliknya, hal-hal kecil yang tampak biasa, justru bisa menjadi momen paling berharga bagi seseorang.

Blooming adalah saat ia menyadari batasannya. Ketika ia memahami kapan harus berhenti, kapan harus melanjutkan, dan kapan harus memilih dirinya sendiri. Dengan demikian, ia tidak lagi sibuk membandingkan. Tidak perlu berpura-pura baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak.

Aku tidak membutuhkan validasi dari siapa pun untuk menunjukkan keberadaanku. Karena jika standarnya berada pada standar mereka, maka itu adalah milik mereka dengan cara berpikir mereka, katanya sederhana, tapi kuat.

Jika aku merasa sedang berkembang, itu berarti standar aku. Yang terpenting adalah kebahagiaan diriku sendiri,tambahnya.

Kebahagiaannya tidak diada-adakan atau dipaksakan, tetapi terasa tulus meski tidak terlihat jelas.Bloomingmungkin bukan saat semua orang mengatakan kamu bercahaya, tetapi saat kamu akhirnya merasa cukup menjadi dirimu sendiri.

Tetap rendah hati di tengah perhatian publik

Saat spotlight terarah, nama mulai dikenal. perhatian datang dari berbagai sisi, baik yang menyenangkan maupun yang terasa tajam,tetap rendah hati terkadang tidak mudah. Namun, Ashel memiliki caranya sendiri untuk tetapgroundedyaitu tetap menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang sedang menjalani perjalanannya.

Kita semua lahir sebagai manusia, namun bagaimana kita berkembang menjadi apa, itu adalah rezeki yang diberikan Tuhan kepadaku,tuturnya.

Sebuah pengingat sederhana yang sering kali terabaikan, yaitu bahwa tidak ada yang benar-benar lebih tinggi atau lebih rendah. Apa yang ia alami hari ini, apa yang berhasil ia raih, dan apa yang dimilikinya bukan hanya karena kehebatannya sendiri, melainkan juga karena rezeki yang Tuhan berikan. Ia tidak lagi memandang orang lain sebagai perbandingan atau ancaman. Baginya, semua orang hanya sedang menempuh jalannya masing-masing dengan kisah, waktu, dan bagian hidupnya sendiri.

Di balik segala perhatian, ia memahami bahwa kebahagiaan yang dirasakannya hari ini juga berasal dari orang-orang di sekitarnya. Mereka yang mendukung, yang hadir, yang memilih untuk percaya, bahkan yang memberikan kritik pun. Bagi Ashel, semuanya tetap memiliki peran, yang baik memperkuat, yang buruk mengajarkan.

Ia belajar untuk tidak menganggap segala sesuatu secara pribadi. Ashel justru membiarkan orang-orang menjadi diri mereka sendiri, sementara ia tetap fokus pada dirinya sendiri tanpa perlu membuktikan apapun atau menjadi siapa pun.

Bunga mawar yang menawan di setiap tahap

Ketika ditanya bagaimana jika hidupnya dibandingkan dengan sebuah bunga, bukan mawar yang disebutkanThe Queen of Flowers yang ia sebut. Justru Ashel memilih bunga dandelion, bunga kecil yang sering dianggap biasa, bahkan dianggap sebagai rumput liar dan nyaris dilupakan. Bagi sebagian orang, dandelion mungkin hanya bunga biasa, tapi Ashel melihatnya berbeda.

Jika dibandingkan dengan bunga, mungkin aku akan memilih bunga krisan, ucapnya.

Dandelion memiliki dua tahap yang berbeda, namun keduanya sama-sama menarik. Ketika masih berwarna kuning, ia terlihat terang, penuh semangat, hangat, seperti matahari kecil yang tumbuh di tanah. Perlahan, ia mengalami perubahan. Mahkotanya hilang, berganti menjadi bola putih yang ringan, siap terbang kapan saja ketika ditiup angin.

Dandelion juga melambangkan ketulusan. Bunga ini melepaskan bagian dari dirinya (biji-bijinya) agar dapat melanjutkan kehidupan, meskipun nantinya ia terlihat "habis" atau layu. Ini mirip dengan kisah Ashel yang akhirnya berani melepaskan sesuatu yang tidak lagi bisa dipegang. Selain itu, dandelion juga memiliki maknaresilience, bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tempat yang keras sekali pun.

Dalam obrolan santai yang juga semakin dalam ini, Ashel menceritakan kekagumannya pada dandelion. Meski berada di fase yang terlihat buruk, di saat siap terlepas, di saat terlihat rapuh, bentuknya tetap utuh. Bunga ini tetap cantik dengan caranya sendiri, tidak kehilangan maknanya atau pesona. Seperti hidup yang tidak selalu berada di puncak, tapi tetap punya keindahan di setiap titik terendahnya sekali pun.

“Walaupun lagi di fase paling tinggi, atau justru paling terpuruk… tetap indah,”kemungkinan besar seperti itulah cara Ashel memandangnya.

Ashel juga menceritakan bahwa Dandelion memiliki makna simbolismake a wish. Ketika kamu meniup biji bunga dandelion dianggap sebagai cara menyampaikan doa atau harapan kepada alam semesta. Sebuah lambang bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang, meskipun bentuknya berubah.

Dandelion membuatnya merenungkan bahwa pernah ada masa ketika ia bersinar terang, penuh semangat, dan penuh harapan. Namun, juga ada masa ketika ia harus berubah, menyesuaikan diri, bahkan melepaskan banyak hal yang tampaknya sangat berharga. Fase yang mungkin terlihat "layu" dari luar, tapi sebenarnya sedang mempersiapkan sesuatu yang baru. Ia belajar untuk tetap menawan dalam setiap bentuk dirinya.

Cara merawat diri dengan belajar dari bunga lili

Masih membahas tentang bunga, Ashel juga menyukai bunga tulip. Jika memiliki parfum musim semi, Ashel akan memilih aroma bunga tulip yang harum karena menjadi salah satu wangi favoritnya dan keluarganya. Tidak sampai di situ, ia juga belajar dari bunga tersebut dalam merawat diri dan "menyiram" rasa percaya dirinya.

Baginya, self-care Itu bukan tentang menambahkan hal-hal baru ke dalam kehidupan. Bukan tentang terus-menerus mengisi, terus-menerus mengejar, atau memaksa segala sesuatu tetap utuh. Justru sebaliknya, itu tentang berani mengurangi. Seperti bunga lili yang tampak tenang, sederhana, dan terkesan tidak memerlukan banyak usaha untuk tetap indah.

Namun di balik itu, terdapat sebuah proses penting yang sering kali tidak terlihat, yaitu harus dipotong. Bagian-bagian yang tidak lagi diperlukan harus dilepaskan. Demikian pula Ashel dalam menjaga dirinya tetap berkembang dengan indah. Setiap hal yang menghambat pertumbuhannya, ia lepaskan.

Caraku memberinya adalah aku akan berkembang dalam diriku sendiri, dan hal yang sudah tidak kubutuhkan aku putuskan saja, aku ikhlas,ungkapnya..

Seperti bunga lily yang hanya berada di dalam vas, tidak terlihat disiram setiap hari, tidak tampak berjuang keras, namun tetap hidup dengan indah. Karena ternyata, tidak semua proses perlu terlihat oleh orang lain dan tidak semua perkembangan harus diceritakan.

Terkadang, hal yang paling penting justru terjadi di dalam ruang yang hanya kamu dan dirimu sendiri yang mengerti. Di sana, Ashel belajar memberi nutrisi pada keyakinannya. Bukan dari pengakuan luar, melainkan dari pilihan-pilihan kecil yang ia ambil demi dirinya sendiri. Bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang memahami apa yang harus dilepaskan agar bisa berkembang dengan utuh.

Itulah bloom eraAshel, bukan saat mendapatkan penghargaan dari orang lain, bukan saat seluruh perhatian tertuju padanya, bukan pula saat mengisi atau mengejar berbagai hal agar tampak utuh, tetapi saat ia siap melepaskan dan menerima dengan tulus hal-hal yang menghambat perkembangannya.

Credit:

Photographer: Winston Gomez

Fashion Editor: Michael Richards

Stylist: Hafidhza Putri Andiza

Beauty Asst.: Shavira Annisa

Makeup Artist: Vani Sagita

Hair Stylist: Mitsalina Hasyyati

Wawancara oleh: Natasha Cecilia Anandita

bengkalispos.comcrew: Nadhira Annisa

Ramadan yang Dimaknai Kembali oleh Tissa Biani: Mengenai Rasa Syukur, Keluarga, dan Prioritas Prilly Latuconsina dan Omara Esteghlal: Merawat Hubungan Cinta, Berkembang Bersama Lyodra dan Grace dalam Kecerahan Baru

TerPopuler