Menelusuri Bandung Zaman Dahulu, Tuan Rumah Konferensi Asia Afrika Pertama -->

Menelusuri Bandung Zaman Dahulu, Tuan Rumah Konferensi Asia Afrika Pertama

7 Apr 2026, Selasa, April 07, 2026

Kota Bandung memang memiliki arsitektur yang dipengaruhi oleh gaya Belanda. Mengunjungi Bandung masa lalu memang selalu menarik dan tak pernah membosankan.

Artikel ini dimuat dalam Majalah Intisari edisi Maret 2004 dengan judul "Menyusuri Bandung Tempo Dulu" dengan beberapa perubahan dan penyesuaian | Penulis: Yds Agus Surono

---

Intisari hadir di channel WhatsApp, ikuti dan peroleh berita terkini kami di sini.

---

Intisari-Online.com - Apa saja yang dapat diambil dari masa lalu? Selain kenangan, tentu saja menjadi cermin bagi kita untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi. Demikian pula yang bisa diperoleh ketika kita menjelajahi Kota Bandung, yang dahulu menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika 1955.

Pagi itu langit gelap diselimuti hujan ringan. Jarum jam masih menunjuk ke tujuh lebih sedikit. Awal tahun 2004, di halaman Hotel Grand Preanger (lama) telah berkumpul ratusan orang. Mereka sedang bersiap-siap untuk berjalan pagi melewati tempat wisata budaya yang bernilai sejarah di Bandung dalam acara peluncuran paket wisata budaya yang diberi nama Heritage Walks tahun lalu.

"Yang baru tiba diminta segera mendaftar dan masuk ke grup masing-masing," demikian teriakan salah seorang panitia, seperti yang tertulis dalam Majalah INTISARI edisi Maret 2004. Satu kelompok terdiri dari 11 orang beserta seorang pemandu. Setelah kelompok terbentuk, mereka langsung berangkat mengikuti jalur Heritage Walks.

Awan masih tergantung, namun hujan lebat mulai berhenti. Kelompok demi kelompok peserta segera meninggalkan halaman hotel yang dahulu merupakanguest-houseberdesain gaya Indische Empire Stijl dan dianggap sebagai salah satu hotel paling menarik dari masa kolonial di Indonesia. Cuaca benar-benar ramah mengingat Bandung kini berbeda dengan Bandung sepuluh tahun yang lalu.

Sungai "terpanjang" di dunia

Komunitas Pelestarian Budaya Bandung telah mendaftarkan lebih dari 400 objek budaya. Dari angka tersebut, Heritage Walks menemukan sekitar 160 yang layak dikunjungi dan terbagi dalam sembilan rute.

Pada saat itu, hanya 47 titik yang dikunjungi yang termasuk dalam tiga rute (Bandung Awal, Zaman Emas, dan Wilayah Taman). Saat peluncuran, peserta mengambil rute Jl. Asia-Afrika melewati alun-alun, dilanjutkan ke Braga dan melewati Taman Dewi Sartika, melintasi area militer di sekitar GOR Saparua, lalu berakhir di Gedung Sate.

Jalan Asia-Afrika (dahulu dikenal sebagai Jalan Raya Pos) adalah awal mula berdirinya Kota Bandung. Di tempat ini, pada tahun 1810, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels, menancapkan tongkatnya di suatu titik di sepanjang De Groote Postweg. Titik tersebut kemudian diberi nama Kilometer 0.

Daendels juga berusaha meyakinkan Bupati Bandung ke-6, Raden Wiranatakusumah II, untuk memindahkan ibu kota Bandung dari Karapyak (16 km selatan Bandung) ke lokasi alun-alun saat ini. Kilometer 0 berada tidak jauh dari halaman Hotel Grand Preanger. Titik ini menjadi awal bagi kami dalam memulai perjalanan wisata budaya.

Tidak jauh dari sana terdapat Savoy Homann Hotel. Ini merupakan hotel pertama yang berada di Bandung.

Hotel ini awalnya dikelola dan dimiliki oleh keluarga Homann dari Jerman. Dimulai dari bangunan berbahan bambu, hotel tersebut kemudian direnovasi dengan gayaneo-gothikromantisme yang sedang tren pada masa itu. Pada tahun 1939, A.E Aalbers ditugaskan untuk merancang ulang dengan gayastreamline art deco.

“Apakah kalian tahu Charlie Chaplin? Dia pernah menginap di hotel ini,” kata Anik, pemandu rombongan. Hotel ini juga menjadi tempat tinggal para pemimpin Asia dan Afrika saat Konferensi Asia-Afrika diadakan di Bandung pada tahun 1955.

Tidak jauh dari Savoy Homann terdapat Sungai Cikapundung. Seorang teman pernah mengatakan, ini adalah sungai terpanjang di dunia. "Kamu salah, bukankah Sungai Amazon di Brasil itu?" ujar teman yang lain. "Amazon hanya mengalir di benua Amerika. Tapi Cikapundung mengalir di dua benua, Asia dan Afrika. Jadi, lebih panjang 'kan?" kata teman tersebut. Faktanya, Sungai Cikapundung melewati Jl. Asia-Afrika.

Sungai Cikapundung menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Daendels memindahkan ibukota lama ke alun-alun. Sungai bersejarah ini menjadi sumber air bagi masyarakat setempat.

Pada masa pra-sejarah, ketika Danau Besar Bandung masih ada, sungai tersebut berada 30 meter di bawah permukaan danau. Penduduk pra-sejarah yang tinggal di dataran tinggi utara sering menyeberangi danau sebelum tiba di wilayah selatan Bandung untuk keperluan tertentu.

Tak punya alun-alun

Kami tiba di alun-alun, yang berjarak sekitar 1 km dari Grand Preanger. "Bandung sebenarnya adalah satu-satunya kota di Jawa Barat yang tidak memiliki alun-alun," protes Goerjama, salah seorang peserta yang juga merupakan anggota Paguyuban. Memang, jika Anda membayangkan alun-alun merupakan area terbuka yang ditumbuhi rumput, bersiaplah untuk kecewa ketika melihat alun-alun Bandung pada masa itu – pada tahun 2014, alun-alun Bandung mengalami perbaikan dan diresmikan oleh Wali Kota saat itu, Ridwan Kamil.

Taman umum pertama di Bandung dikenal sebagai Alun-alun Bandung. Konsepnya sama dengan beberapa kota lain di Jawa, yaitu Catur Gatra.

Di sebelah selatan terdapat Rumah Pendopo yang menjadi pusat pemerintahan, di sebelah barat terletak tempat ibadah yang megah (Masjid Agung), sedangkan di sisi timur berada pusat kegiatan perdagangan (Palaguna) dan beberapa layar bioskop), serta di sisi utara dihuni oleh bangunan penjara (Banceuy).

Banyak hal sudah berbeda jika melihat dari awal konsep tersebut. diterapkan. Kondisi alun-alun kini sedang porak-poranda direnovasi, mengikuti Masjid Agung yang telah megah berubah.

Masjid pertama yang dibangun di Bandung tahun 1812 ini telah mengalami delapan kali perbaikan. Aslinya dirancang dengan gaya lokal, beratap genteng tiga lapis yang berbentuk bawang.

Tahun 1955 diubah menjadi Bale Nyungcung (bahasa Sunda untuk bangunan lancip). Kini atapnya berbentuk kubah dengan menara kembar (awalnya lebih rendah dari atap) setinggi 86 meter. Perubahan terakhir bisa dikatakan rekonstruksi, bukan lagi renovasi.

Pusat kegiatan bisnis juga berubah seiring perkembangan waktu. Dulu terdapat tiga buah bioskop: Elita, Varia, dan Oriental. Tepat di dekat Rumah Pendopo terdapat bioskop Radio City yang kemudian berganti nama menjadi Bioskop Dian.

Bioskop Elita, yang dahulu megah dengan patung garudanya, yang kemudian berubah menjadi bangunan kaca, kini tinggal bekas tanah (sebagai area parkir). Pusat perbelanjaan kini berada di sebelah utara, menggantikan penjara Banceuy.

Bangunan penjara yang dibuat pada tahun 1877 dihancurkan pada tahun 1984. Sebagai tanda bahwa di lokasi ini pernah terdapat sebuah penjara, tersisa sebuah menara pengawas di tepi jalan (benar-benar berada di tepi jalan) dengan pagar besi dan rantai.

Itu yang terlihat dari luar. Sementara di dalam kompleks perbelanjaan kita dapat melihat ruang contoh (menggunakan istilah rumah contoh pengembang) – yang secara kebetulan pernah ditempati oleh Sukarno, presiden pertama RI. Tentu saja tidak ketinggalan prasasti batu sebagai tanda pengenal.

Di sudut alun-alun dekat penjara Banceuy, kita dapat melihat dua bangunan yang masih mempertahankan wajah aslinya: Kantor Pos Bandung dan sebuah gedung yang kini dimiliki oleh Bank Mandiri, terpisah oleh Jl. Banceuy.

Kantor Pos yang dibangun pada tahun 1928 masih digunakan seperti dahulu, yaitu Posten Telegraf Kantoor. Bangunan dengan gayageometric art decoIni adalah rancangan J. Van Gent. Sementara bangunan yang kini menjadi bagian dari Bank Mandiri awalnya merupakan Bank Escompto. Itulah bank pertama di Bandung yang melayani warga maupun tuan tanah Parahyangan. Menaranya yang berada di sisi barat dilengkapi dengan dua jam bulat kecil.

Kelompok tersebut kemudian bergerak ke Jl. Braga. Dari kompleks penjara yang kini berubah menjadi ruko dan sebuah department store, kita dapat melihat Bank Jabar (BJB). Ini adalah contoh lain dari bangunan.streamline art deco hasil rancangan A.E Aalbers.

Bangunan yang dibangun pada tahun 1925 ini ditujukan untuk Boer, kelompok pemberontak asal Afrika Selatan, yang menggunakan tempat tersebut sebagai kantornya. Tidak jauh dari sini terdapat sumber air yang dianggap suci oleh penduduk Bandung, yaitu Sumur Bandung.

Braga, Jalan Raya Kelima Timur

Braga! Sebuah jalan yang akhirnya menjadi simbol kota Bandung.

Dahulu, setiap sore jalan ini penuh dengan orang-orang yang ingin berjalan kaki.bragaderen(ABG kini menyebutnya tampil). Toko-toko yang berada di sepanjang jalan ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan barang-barang penduduk Bandung yang sebagian besar berasal dari Eropa.

Maka, diimporlah makanan dan minuman, pakaian dengan desain terbaru, serta mobil mewah. Apakah ini yang menyebabkan dia disebut The Fifth Avenue of the East? Braga adalah salah satu dari tiga jalan pertama di Bandung (yang lainnya Jl. Asia-Afrika dan Jl. Merdeka).

Kelompok berhenti sejenak di Restoran Braga Permai. Restoran ikonik ini menjadi tempat kumpul bagi warga Bandung pada masa lalu.baheula – hingga sekarang – untuk menikmati hidangan Eropa seperti Champignons Grilles dan Escalopes de Veau a la Suisse.

Setelah mengonsumsi minuman dan camilan, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan.

Jika berjalan dari bawah ke atas Jalan Braga (dulunya arahnya dari atas ke bawah), kita akan melewati rel kereta api. Rel ini sebelumnya melintasi jalan raya sehingga dikenal denganviaductDi ujung jalan terdapat sebuah bangunan berwarna putih dengan gaya yang khasneo-classic.

Itulah Bank Indonesia (dahulu Javasche Bank) dengan warna putih yang khas.

Selain bangunan, Bandung juga dikenal akan taman-tamannya. Terdapat berbagai taman meski tidak semua dalam kondisi terawat. Kelompok tersebut sempat mampir ke Taman Dewi Sartika yang dibangun pada tahun 1864 dan lokasinya berdekatan dengan Kantor Kodya Bandung yang memiliki gaya arsitektur tertentu.geometric art deco.

Kemudian dalam perjalanan menuju Gedung Sate melewati Taman Lalu Lintas dan Taman Maluku. Taman Lalu Lintas yang dibangun pada tahun 1910-an ini awalnya diberi nama Insulinde Park dan digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara oleh militer Hindia Belanda.

Ya, area ini adalah wilayah militer. Jangan asal mengambil foto jika tidak ingin kamera Anda diminta oleh petugas.

Sementara itu, Taman Maluku sebenarnya bernama Molukkenpark. Yang menjadi ciri khas di tempat ini adalah patung seorang pendeta militer Belanda, Verbraak, yang berada di sudut utaranya.

Akhirnya tiba di Gedung Sate. Ini adalah simbol Bandung yang sering digunakan sebagai gambar pada kartu pos. Gerber merancang bangunan paling megah di Indonesia ini dengan gaya Indo-Eropa, menggabungkan berbagai gaya arsitektur.moorish Spanyol, renaissance Italia, art deco, dan Sunda. Bangunan ini dibangun dengan posisi miring menghadap ke Gunung Tangkuban Perahu.

Perjalanan yang berlangsung selama tiga jam berakhir ketika kami naik ke puncak gedung untuk menikmati pemandangan Kota Kembang dan lingkungan pegunungannya selama setengah jam. Meskipun peserta sebagian besar berasal dari Bandung, sebanyak 90% di antaranya belum pernah mengunjungi puncak menara bangunan pemerintahan Jawa Barat tersebut. Wah, apa tidak malu?tuh!

TerPopuler