Mengapa Manusia Kehilangan Kekuasaan Saat Alam Berbalik? -->

Mengapa Manusia Kehilangan Kekuasaan Saat Alam Berbalik?

24 Apr 2026, Jumat, April 24, 2026

bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA --Kita sering menyebut banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan kekurangan pangan sebagai bencana alam. Padahal, bencana tersebut sering muncul jauh sebelum hujan turun atau suhu meningkat. Awalnya terjadi ketika lereng diambil, kawasan lindung diserang, sungai tercemar, dan hutan dianggap hanya sebagai sumber daya yang bisa dikuras. Di Merapi, penambangan pasir ilegal merusak kawasan taman nasional.

Di Provinsi Sumatra Utara, kawasan lindung perlu dibersihkan dari perkebunan sawit ilegal. Di Kalimantan Timur, lubang bekas tambang batubara menjadi perhatian mulai dari Samboja hingga Samarinda. Pola yang sama terjadi: manusia mengambil sumber daya dari bumi tanpa henti, lalu merasa takut ketika bumi memberikan konsekuensinya.

Hari Bumi yang dirayakan pada 22 April 2026 dengan temaOur Power, Our Planetseharusnya tidak berhenti sebagai slogan hijau tahunan. Ia mengajukan pertanyaan yang menyulitkan: mengapa manusia begitu aktif merusak, tetapi begitu lambat memperbaiki?

Meskipun psikologi lingkungan juga mengajarkan kebalikannya: manusia cenderung merawat hal-hal yang mereka anggap dekat dan mereka sukai. Konsepplace attachmentmenyatakan bahwa ikatan emosional dengan suatu tempat—seperti kampung, sungai, sawah, hutan, dan lingkungan hidup—dapat memicu rasa tanggung jawab dalam merawatnya. Seseorang yang menganggap bumi sebagai barang dagangan cenderung mudah mengeksploitasinya. Namun, orang yang merasa bumi adalah rumah akan lebih bersedia untuk berhati-hati. Oleh karena itu, krisis lingkungan sebenarnya juga merupakan krisis hubungan: manusia kehilangan kedekatan emosional terhadap alam, sehingga hanya melihatnya sebagai objek yang bernilai untung-rugi.

Lalu bagaimana nasib bumi di masa depan? Jika manusia tetap berjalan di jalur yang sama, masa depan akan semakin panas, semakin rentan, dan semakin tidak adil. Cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi, tekanan terhadap pasokan makanan dan air akan meningkat, serta kelompok yang rentan akan menghadapi beban yang semakin berat. Bumi memang tidak akan binasa besok pagi, namun ambisi saat ini sedang menciptakan masa depan yang jauh lebih sulit bagi generasi mendatang.

Dari sudut pandang Islam, sikap demikian sudah lama diperingatkan. Al-Qur’an menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat tindakan manusia, agar mereka merasakan dampak dari perbuatan mereka dan kemudian kembali ke jalan yang benar. Al-Qur’an juga melarang manusia merusak bumi setelah Allah telah memberikan kebaikan kepadanya. Nabi Muhammad mengingatkan bahwa dunia ini hijau dan indah, serta manusia ditempatkan di dalamnya untuk dilihat bagaimana mereka bertindak. Oleh karena itu, isu lingkungan dalam Islam tidak hanya sebatas tata kelola, tetapi masuk ke inti akhlak: apakah manusia hadir sebagai penjaga amanah atau sebagai perusak yang piawai berkilah.

Masalahnya, manusia modern sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan. Kita memahami tentang emisi, polusi, deforestasi, krisis air, dan limbah plastik. Namun pengetahuan tersebut seringkali kalah oleh kebiasaan dan kenyamanan. Seseorang bisa mengkritik kerusakan lingkungan, tetapi tetap hidup dengan konsumsi energi yang boros, bersifat konsumtif, dan tidak peduli terhadap sampah yang dihasilkannya. Kita mahir berbicara tentang keberlanjutan, (sustainability) tetapi tetap bertahan dalam budaya akhir.

Lebih berbahaya lagi, manusia cenderung memandang kerusakan sebagai hal yang biasa. Air sungai yang keruh dianggap wajar. Udara panas di kota diterima sebagai takdir. Bukit yang gundul tidak lagi mengejutkan. Sesuatu yang awalnya dirasa salah kini dianggap sebagai hal yang lumrah. Pada titik inilah kesadaran lingkungan mulai menghilang.

Meskipun tanda-tanda bahwa bumi sedang mengalami gangguan sudah sangat jelas dan sulit untuk diabaikan. WMO mencatat periode 2015–2025 sebagai sebelas tahun terpanas dalam catatan pengamatan modern. Tahun 2025 menjadi salah satu tahun yang paling panas, dengan suhu global sekitar 1,43 derajat Celsius lebih tinggi dari rata-rata era pra-industri. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa bumi sedang kehilangan keseimbangannya akibat gaya hidup manusia yang tidak terkendali.

Akibatnya tidak hanya terbatas pada grafik ilmiah. Gelombang panas yang ekstrem mengancam sistem pangan dunia, merusak tanaman, mengganggu peternakan dan perikanan, melemahkan hutan, menurunkan hasil panen, serta memperparah kondisi kekeringan. Namun, beban terberat justru dirasakan oleh mereka yang kontribusinya paling sedikit dalam merusak bumi: petani kecil, nelayan, pekerja harian, anak-anak, dan keluarga miskin.

Indonesia masih memiliki kekayaan ekologis yang besar. Namun, hutan yang luas tidak selalu aman jika pola pikir kita tetap bersifat eksploitatif. Tambang ilegal di kawasan konservasi, perkebunan sawit ilegal di wilayah suaka alam, serta berbagai pelanggaran lainnya di kawasan hutan menunjukkan bahwa ancaman terhadap bumi ini nyata, dekat, dan sering kali dilakukan dengan sengaja.

Meskipun manusia cenderung melindungi hal-hal yang ia anggap dekat dan dicintai. Ketika bumi hanya dianggap sebagai barang dagangan, maka mudah dieksploitasi. Namun, ketika bumi dirasakan sebagai tempat tinggal, manusia lebih bersedia mengendalikan diri. Oleh karena itu, krisis lingkungan juga merupakan krisis hubungan: manusia kehilangan ikatan emosional dengan alam, sehingga hanya memperlakukannya sebagai objek yang bernilai untung dan rugi.

Jika manusia tetap berjalan di jalur yang sama, masa depan akan semakin panas, semakin rentan, dan semakin tidak adil. Cuaca ekstrem akan muncul lebih sering, tekanan terhadap pasokan pangan dan air akan meningkat, serta kelompok yang rentan akan mengalami beban yang semakin berat. Bumi memang tidak akan binasa besok pagi, namun ambisi saat ini sedang menciptakan masa depan yang jauh lebih sulit bagi generasi mendatang.

Oleh karena itu, setelah 22 April berlalu, yang diperlukan bukanlah tambahan upacara, melainkan perubahan sikap terhadap lingkungan. Dalam ajaran Islam, menjaga bumi bukan sekadar bentuk kebajikan, tetapi bagian dari tanggung jawab sebagai khalifah. Lawan dari kerusakan bukan hanya tidak merusak, tetapi juga perbaikan: memulihkan, merawat, mengendalikan diri, serta meninggalkan bumi dalam kondisi yang lebih baik. Nabi bahkan menyampaikan bahwa jika hari kiamat tiba sementara seseorang masih memiliki benih tanaman di tangannya, maka ia tetap diminta untuk menanamnya jika mampu.

Maka pertanyaan utama setelah Hari Bumi bukanlah apakah alam sedang marah, melainkan apakah manusia masih bersedia belajar. Karena bumi sebenarnya tidak pernah menginginkan dipuja. Ia hanya meminta untuk diperlakukan secara adil. Dan jika kita terus menolak pelajaran ini, keturunan kita mungkin tidak lagi mewarisi bumi yang ramah, melainkan bumi yang lelah. Di sinilah iman diuji. Apakah kita akan tetap menjadi generasi yang ahli dalam mengambil, atau berani menjadi generasi yang mulai memperbaiki.

TerPopuler