Mengenal Perjuangan Kartini: Kutipan dari Buku Habis Gelap Terbitlah Terang -->

Mengenal Perjuangan Kartini: Kutipan dari Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

7 Apr 2026, Selasa, April 07, 2026

bengkalispos.comMempelajari latar belakang perayaan Hari Kartini. Dilengkapi dengan kutipan RA Kartini dari buku "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Kisah sejarah Hari Kartini yang disertai dengan kutipan dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Tanggal 21 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kartini di Indonesia.

Raden Ajeng Kartini dianggap sebagai pahlawan perempuan Indonesia sekaligus tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan wanita di negara ini. Berkat pengabdiannya yang besar terhadap bangsa, hari kelahirannya selalu dirayakan setiap tahun oleh rakyat Indonesia.

Sejarah Hari Kartini

Raden Ajeng Kartini lahir pada tahun 1879 di Jepara. Ia adalah anak dari keluarga bangsawan Jawa, yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A. Ngasirah.

Di masa penjajahan Belanda, kesempatan untuk memperoleh pendidikan tidak merata bagi seluruh anak. Budaya patriarki masih dominan di Jawa, sehingga perempuan pada masa itu lebih diberi tugas untuk mengelola rumah tangga dan tidak diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih lanjut dibanding laki-laki.

Akibat aturan tersebut, Kartini terpaksa berhenti bersekolah ketika usianya mencapai 12 tahun. Meski begitu, semangatnya dalam mencari ilmu tetap menyala meskipun menghadapi berbagai rintangan.

Selama tinggal di rumah, ia tetap giat belajar dengan berdiskusi melalui surat bersama teman-temannya. Dilansir dari kemdikbud.id, Kartini juga senang membaca buku-buku budaya Eropa, salah satunya karya Louis Couperus yang berjudul De Stille Kracht.

Ia juga secara rutin mengirim surat kepada sahabatnya yang bernama Rosa Abendanon, seorang penanya asal Belanda. Kebiasaan membacanya membuat wawasan Kartini semakin luas dan terbuka.

Dari situlah muncul keinginannya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Ia berpendapat bahwa perempuan juga berhak mendapatkan kesetaraan, kebebasan, kemandirian, serta perlakuan hukum yang sama.

Kartini mulai memperhatikan secara serius gerakan pembebasan perempuan. Setelah menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada tahun 1903, ia mendirikan sebuah sekolah khusus bagi perempuan.

 

Sekolah tersebut bertujuan memberikan akses pendidikan bagi kaum wanita pribumi. Namun, pada 17 September 1904, Kartini meninggal dunia setelah melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Surat-surat yang ditulis oleh Kartini menjadi warisan berharga yang memberikan semangat kepada banyak perempuan Indonesia, karena berisi perjuangannya mengenai hak dan posisi perempuan asli.

Kumpulan surat tersebut kemudian dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht atau yang dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. Hingga kini, perjuangan Raden Ajeng Kartini terus dikenang dan diperingati setiap tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Pernyataan R.A Kartini dari buku "Habis Gelap Terbitlah Terang"

1. Marilah, para perempuan dan gadis-gadis, bangkitlah, mari kita berjabat tangan dan bersama-sama mengubah situasi yang menyebabkan penderitaan ini. (Halaman 86)

2. Seorang putri yang pikirannya telah terbuka dan wawasannya telah berkembang tidak akan mampu lagi tinggal dalam dunia leluhurnya. (Halaman 93)

3. Bagaimana ibu-ibu penduduk asli dapat mendidik anak-anak mereka, jika mereka sendiri tidak memiliki pendidikan. (Halaman 124)

4. Selama apapun, kemajuan wanita ternyata menjadi faktor penting dalam peradaban suatu bangsa. (Halaman 192)

5. Pernah saya membaca bahwa harta yang paling murni di dunia ini adalah hati seorang lelaki yang mulia. Kami sepenuhnya setuju dengan ucapan tersebut. Betapa berharganya hati seorang lelaki yang mulia, yang sangat langka ditemui. Bahagialah orang-orang yang dalam hidupnya pernah bertemu dengan mutiara seperti itu. (Halaman 225)

6. Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama kamu masih mampu bermimpi! Apa artinya hidup tanpa mimpi? (Halaman 233)

7. Pendidikan di sekolah saja tidak cukup dalam membentuk pikiran dan perasaan manusia, keluarga juga harus berperan dalam proses pendidikan. (Halaman 565)

 

8. Ibu merupakan pusat dari kehidupan keluarga. Mereka diberikan tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya, karena pendidikan akan membentuk karakter dan akhlak mereka. Berikanlah pendidikan yang baik kepada anak perempuan. Persiapkanlah dia secara matang untuk menjalani tugas yang berat. (Halaman 386)

9. Tidak ada metode pendidikan yang lebih efektif daripada contoh yang baik dan teladan yang layak diikuti oleh orang lain. (Halaman 480)

10. Seorang wanita yang rela berkorban demi orang lain, dengan segala kasih sayang yang dimilikinya, serta segala pengabdian yang mampu ia lakukan, itulah wanita yang layak disebut sebagai "ibu" secara sebenarnya. (*)

TerPopuler