bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan akan mengambil tindakan dengan mencabut izin impor kedelai dari pihak yang menaikkan harga secara tidak wajar. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan tindakan spekulatif yang merugikan rakyat.
Pemerintah, menurutnya, terus mengawasi pergerakan harga komoditas strategis, termasuk kedelai, guna memastikan stabilitas dan keterjangkauan pangan nasional. "Saya minta kemarin agar harga kedelai tidak naik terlalu besar," ujar Amran saat berjumpa dengan awak media di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Ia menegaskan bahwa pelaku usaha tetap memiliki kesempatan untuk meraih keuntungan. Namun, kenaikan harga harus dilakukan secara wajar dan tidak memberatkan para konsumen. Di tengah situasi ekonomi yang masih fluktuatif, pemerintah mendorong pelaku usaha untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan dan tanggung jawab sosial.
"Jika di kedelai, jika ingin menaikkan harga secara semena-mena, yang mengimpor kedelai, saya pastikan saya cabut izinnya," kata Amran.
Ia menjelaskan, alat izin menjadi salah satu sarana pengawasan yang akan digunakan pemerintah dalam menjaga kestabilan harga di pasar. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan distribusi dan perdagangan komoditas pangan berjalan lancar tanpa adanya tindakan penyimpanan berlebihan atau manipulasi harga.
Amran juga menyebutkan penguatan sektor pangan yang dilakukan dengan perbaikan kebijakan dan peningkatan efisiensi anggaran.Refocusinganggaran dialokasikan pada sektor yang produktif seperti irigasi, benih, dan pompa guna meningkatkan hasil produksi.
Produksi nasional, menurutnya, menunjukkan arah peningkatan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS),Food and Agriculture Organization (FAO), dan Departemen Pertanian Amerika SerikatBadan Pertanian Amerika Serikat (USDA) melaporkan kenaikan produksi sekitar 4 juta ton. Keadaan ini terlihat dari peningkatan persediaan beras nasional di Perum Bulog yang saat ini mencapai sekitar 4,8 juta ton dan hampir mendekati 5 juta ton.
Amran menganggap bahwa ketersediaan pangan yang memadai perlu diiringi dengan kestabilan harga pada tingkat konsumen. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan para produsen, pelaku usaha, dan masyarakat. Ia menekankan bahwa negara harus hadir guna memastikan mekanisme pasar berjalan secara adil dan tidak merugikan siapa pun. Kestabilan harga menjadi faktor penting dalam menjaga kemampuan beli sekaligus mendorong kelangsungan produksi pangan nasional.
Produsen Tahu dan Tempe yang Menggemparkan Pasar dengan Menjaga Harga
Di sisi lain, produsen tempe dan tahu di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), mengatakan sangat terpengaruh oleh kenaikan harga kedelai serta plastik. Namun, mereka enggan untuk menaikkan harga produknya. Untuk mengatasinya, mereka memperkecil ukuran tempe dan tahu agar tetap bisa dijual dengan harga yang sama.
Pemilik pabrik tempe di Pandean Lamper, Kota Semarang, Adib Mukharam, mengungkapkan kenaikan harga kedelai terjadi secara bertahap. Pada Januari 2026, harga kedelai masih sekitar Rp 8.500 per kilogram. Kini harganya mencapai Rp 10.250 per kilogram.
"Saya mengerti bahwa harga kedelai naik akibat kenaikan nilai tukar dolar. Saat ini dolar berada di kisaran Rp 17 ribu, sehingga harganya cenderung meningkat secara bertahap," ujar Adib saat diwawancarai, Sabtu (11/4/2026) lalu.
Ia menyampaikan, dalam sehari pabriknya mampu menghasilkan rata-rata 650 kilogram tempe. Berdasarkan Adib, harga kedelai memang cenderung berfluktuasi. Pada tahun lalu, harganya bahkan pernah mencapai Rp 14.500–Rp 15.000 per kilogram.
Namun, Adib masih mampu mengatasi harga jual karena pada masa itu harga plastik, yang digunakan sebagai kemasan tempe, belum meningkat. Kini keadaannya berbeda. "Untuk plastik, kami biasanya membeli per rol dengan harga Rp 550 ribu. Sekarang harganya sudah mencapai Rp 1.750.000 per rol," ujar Adib.
Menurut Adib, banyak produsen tempe yang tidak dapat memperkirakan kenaikan tajam harga plastik. Namun, meskipun harga kedelai dan plastik meningkat, Adib enggan menaikkan harga jual tempe miliknya. "KamikanSebagian besar menjual ke toko ritel, seperti toko sayur. Jika kami menaikkan harga, akan sulit terjual. Oleh karena itu, harga tetap sama, namun beratnya kami kurangi, dari biasanya 450 gram menjadi 400 gram. Ini berlaku untuk yang harganya lima ribu," kata Adib.
Meskipun harga kedelai dan plastik sedang meningkat, Adib menyatakan bahwa produksi tempe di pabriknya tidak mengalami penurunan. Hal ini karena dia sudah memiliki pelanggan tetap. Adib berharap pemerintah mampu menstabilkan kembali harga komoditas dan bahan baku untuk produk-produk yang memiliki permintaan tinggi. "Agar masyarakat tetap bisa membeli dan perekonomian dapat berjalan," katanya.