Menteri Luar Negeri Sugiono: Prancis Setuju DK PBB Rapat Darurat Bahas Serangan UNIFIL -->

Menteri Luar Negeri Sugiono: Prancis Setuju DK PBB Rapat Darurat Bahas Serangan UNIFIL

5 Apr 2026, Minggu, April 05, 2026
Menteri Luar Negeri Sugiono: Prancis Setuju DK PBB Rapat Darurat Bahas Serangan UNIFIL
Ringkasan Berita:
  • Pemerintah Indonesia mengajukan permintaan kepada PBB agar mengadakan rapat khusus Dewan Keamanan guna membahas serangan terhadap pasukan UNIFIL di Lebanon, yang disetujui oleh Prancis sebagai pihak yang menangani isu Lebanon.
  • Indonesia mengecam dengan tegas serangan terhadap pasukan perdamaian dan meminta penyelidikan menyeluruh agar memastikan keselamatan personel.
  • Menteri Sugiono menekankan pentingnya penilaian keamanan bagi anggota UNIFIL karena mereka bertugas sebagai "peacekeeping, bukan peace making," dan keamanan mereka harus dijaga.

NEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengimbau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar segera mengadakan pertemuan untuk membahas serangan terhadap pasukan perdamaian atau UNIFIL di tengah operasi militer Israel di wilayah Lebanon Selatan.

Menteri Sugiono menyatakan bahwa Prancis telah menyetujui permintaan Indonesia agar Dewan Keamanan (DK) PBB mengadakan rapat khusus untuk membahas serangan terhadap pasukan perdamaian tersebut.

"Selanjutnya, Pemerintah Republik Indonesia melalui perwakilan tetap kami di New York, satu hari setelah kejadian pertama, meminta kepada Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan rapat dan pada saat itu Prancis selaku pemegang tanggung jawab urusan Lebanon di Dewan Keamanan menyetujui penyelenggaraan rapat khusus Dewan Keamanan," ujar Sugiono di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu, (4/4/2026).

Sugiono menyampaikan kecaman keras terhadap serangan yang menimpa pasukan penjaga perdamaian. Indonesia juga meminta dilakukannya penyelidikan terkait kejadian tersebut.

"Kemudian kami juga meminta dilakukannya penyelidikan menyeluruh karena ini merupakan misi penjaga perdamaian," katanya.

Berdasarkan pendapat Sugiono, PBB perlu meninjau kembali keselamatan pasukan pengawal perdamaian, khususnya yang berada di wilayah Lebanon. Ia menyatakan bahwa harus ada jaminan terhadap keamanan dan kelancaran tugas para tentara tersebut.

"Oleh karena itu, kami juga meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk meninjau kembali keamanan pasukan perdamaian PBB di mana pun mereka berada, terutama dalam UNIFIL," katanya.

UNIFIL menurut Sugiono adalah pasukan pengawal perdamaian, bukan pembuat perdamaian.

Mereka hanya diberi keterampilan dalam menjaga perdamaian, sehingga keselamatan mereka perlu dijamin.

“Karena mereka bertugas menjaga perdamaian, mereka adalah pasukan penjaga perdamaian, bukan pembuat perdamaian. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan perdamaian. Perlengkapan dan pelatihan mereka ditujukan untuk menjaga situasi damai yang ada. Hal ini juga merupakan tugas dari PBB, yaitu menjaga perdamaian,” katanya.

Sebelumnya, operasi militer Israel di wilayah selatan Lebanon menargetkan pasukan perdamaian yang berada di bawah mandat PBB atau UNIFIL di Lebanon.

Paling sedikit tiga serangan terhadap UNIFIL terjadi dalam seminggu terakhir. Dua serangan pertama mengakibatkan tiga anggota TNI Indonesia gugur.

Praka Farizal Romadhon meninggal dunia pada hari Minggu (29/3/2026) akibat ledakan peluru artileri di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr.

Sementara Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur ketika terjadi ledakan di tepi jalan yang merusak kendaraan mereka dekat Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026).

Kemudian terjadi serangan atau ledakan ketiga pada Jumat, 3 April 2026 di El Addaiseh, Lebanon selatan. Kejadian ini menyebabkan tiga anggota pasukan perdamaian Indonesia terluka.

TerPopuler