
LAMPUNG INSIDER— Di balik seragam putihnya sebagai seorang perawat, Asri menyimpan tekad lain yang tak kalah berarti. Dalam waktu senggangnya melayani masyarakat di puskesmas, ia mengikat impian melalui benang emas yang memperindah kain tradisional khas Lampung, tapis.
Asri adalah istri dari Kopda Angga Dwi Ferdian, seorang tentara yang bertugas di Yonif 143/TWEJ Kodam II/Sriwijaya, serta ibu dari dua anak yang masih duduk di sekolah dasar. Meskipun memiliki berbagai tanggung jawab, ia memutuskan untuk tetap berkarya dari rumah.
Bagi dia, berkarya bukan hanya sebuah pilihan, tetapi merupakan panggilan kehidupan.
Pada tahun 2023, ia memutuskan untuk melanjutkan usaha sulam tapis milik orang tuanya yang telah berjalan sejak tahun 1992. Semakin tua, orang tua memilih untuk beristirahat, namun nilai kerja keras dan kemandirian yang mereka wariskan menjadi dasar yang kuat bagi Asri.
"Saya ingin tetap berproduktif dari rumah dan berkontribusi pada perekonomian keluarga tanpa mengabaikan tugas sebagai ibu dan istri," katanya.
Tapis adalah warisan budaya yang penuh makna. Untuk masyarakat Lampung, tapis bukan hanya sehelai kain, tetapi juga lambang kehormatan, doa, dan perjalanan kehidupan. Sulaman benang emas atau perak yang terdapat pada kain tenun mengandung filosofi yang disampaikan secara turun-temurun.
Namun, bagi Asri, mempertahankan tradisi bukan berarti mengabaikan perubahan zaman.
Dengan bantuan UMKM Asri Tapis Lampung, ia memperkenalkan inovasi dengan menggabungkan motif batik dan sulaman khas tapis. Sebelumnya, tapis sering dikaitkan dengan acara adat dan formal, tetapi kini kreasi tersebut bisa digunakan dalam situasi yang lebih santai tanpa kehilangan ciri budaya aslinya.
Perjalanan Asri penuh dengan rintangan. Menggunakan modal awal sekitar Rp20 juta, ia membangun bisnisnya secara bertahap. Ia mempelajari segala sesuatu dari awal, mulai dari produksi, pemasaran, hingga pengelolaan keuangan.
Dukungan juga datang dari lingkungan organisasi Persit. Ketua Wilayah XXI/Radin Inten memberikan apresiasi terhadap dedikasi yang ditunjukkan Asri.
Tindakan ini tidak hanya melindungi warisan budaya, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi keluarga dan masyarakat.
Sekarang, bisnis yang dijalankan Asri terus berkembang dan ikut berpartisipasi dalam Ajang Persit Bisa 2.
Selain sebagai usaha, Asri Tapis Lampung telah memberikan kesempatan kerja kepada warga sekitar. Saat ini, perusahaan tersebut telah mengakui tujuh karyawan.
Bagi Asri, keberhasilan tidak hanya terkait dengan laba, tetapi juga menjaga budaya dan memotivasi generasi muda untuk tetap menghargai warisan lokal.
Ia berusaha membuktikan bahwa kain tradisional dapat bersaing dengan produk modern tanpa kehilangan makna dan nilai yang dimilikinya.
Dari ruang posyandu hingga area produksi, dari tugas sebagai istri anggota militer hingga pengusaha UMKM, Asri membuktikan bahwa perempuan mampu memenuhi berbagai peran secara bersamaan.
Di tangannya, tapis bukan hanya kain, tetapi menceritakan tentang ketekunan, keberanian, serta usaha dalam menjaga identitas Lampung di tengah perubahan zaman.***