PRIANGAN.COM – Memelihara "speedometer" iman dan amal pada tingkat tertinggi memerlukan usaha gigih untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki hati, serta mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ini mencakup pengelolaan energi positif, pikiran yang jernih, serta usaha keras untuk tetap konsisten dalam melakukan kebaikan agar iman tetap terjaga.
Membicarakan mengenai Jumat mendatang, khususnya pada hari Jumat tanggal 10 April 2026, kita sebagai laki-laki yang beragama Islam akan melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Jumat, yang dikenal sebagai Sayyidul Ayyam atau Raja Hari, dianggap oleh umat Islam sebagai hari yang penuh berkah.
Khusus untuk khutbah pada Jumat mendatang, berikut ini adalah naskah khutbah Jumat yang telah diunggah oleh Priangan.com dari berbagai sumber pada 10 April 2026 dengan tema "Jaga Speedometer Iman dan Amal Harus Dalam Kondisi Terbaik".
Khutbah 1
Dan Islam telah menjadi agama yang diridhai bagi kami. Ia memberi keutamaan kepada kami dengan kebaikan, kemurahan, dan kasih-Nya. Aku bertasbih kepada-Nya, Maha Suci Dia, Tuhan kami dan Tuhan kalian, dan Dia menguasai segala sesuatu. Dia memuliakan sebagian dari kami dan menghina sebagian yang lain. Tuhan yang mulia satu, Maha Agung, bersih dari kesamaan, sekutu, dan persamaan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kesaksian ini akan menyelamatkan orang yang mengucapkannya pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali bagi siapa yang datang kepada Allah dengan hati yang tulus. Dan aku bersaksi bahwa tuan kami, nabi kami, penolong kami, dan teladan kami Muhammad ﷺ adalah hamba Allah dan utusan-Nya yang jujur dalam janji dan amanah. Semoga shalawat, berkah, dan keselamatan tercurah atasnya serta keluarganya, sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari kiamat. Maafkan kami bersama mereka dengan pengampunan dan kemurahan-Mu, wahai yang paling rahmat dari semua yang merahmati. Setelah itu, hai manusia, marilah kita menasihati diri sendiri dan kalian semua untuk takwa kepada Allah, karena sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itulah yang beruntung. Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, cukup dengan berkata "Jadilah", maka terjadilah.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah
Mari kita bersama-sama memperkuat iman dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan terus meningkatkan mutu dan jumlah ibadah. Jalannya ketakwaan adalah melaksanakan segala perintah yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala serta menjauhi segala bentuk dosa dan maksiat.
Kebiasaan-kebiasaan baik, marilah kita terus laksanakan. Sementara kesempatan-kesempatan yang dapat menyebabkan dosa, sebaiknya kita hindari. Semangat bulan Ramadan jangan sampai hilang ketika kita merayakan Idul Fitri. Itulah yang disebut dengan peningkatan perbuatan baik setelah bulan Ramadan.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah
Pada kesempatan khutbah Jumat ini, mari kita merenungkan perkataan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah Al-Insyirah [94] ayat 7 dan 8, yang berisi:
Maka apabila kamu selesai, berusahalah (7) dan kepada Tuhanmu, mintalah (8) (Al-Asr [94]: 7-8)
Maknanya: "Maka ketika kamu telah selesai (dari suatu pekerjaan), lakukanlah dengan serius (pekerjaan) yang lain [7] dan hanya kepada Tuhanmu lah semestinya kamu berharap."
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam tafsirnya menyampaikan bahwa ayat tersebut memberikan petunjuk kepada umat Islam, bahwa setelah menyelesaikan suatu pekerjaan dunia, baik itu berupa perdagangan maupun urusan perjuangan atau jihad, segera tetapkan tekad untuk kembali beribadah dengan penuh semangat.
Kata فَانْصَبْ berasal dari kata "nashaba" yang artinya menjadikan sesuatu menjadi tegak dan kokoh. Upaya untuk memperkuatnya biasanya dilakukan dengan serius sehingga menyebabkan kelelahan.
Kata "nashaba" juga digunakan dalam makna lelah dan letih, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
Apakah yang menimpa seorang muslim dari rasa lelah, keletihan, kesedihan, kekhawatiran, rasa sakit, atau kesedihan hingga duri yang menusuknya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dengan itu. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Maknanya: "Tidaklah seorang muslim mengalami kelelahan atau penyakit atau kesedihan atau gangguan atau kesulitan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah mengampuni dosa-dosanya karena hal itu." (HR Syaikhoni).
Kedua ayat ini, tampaknya sangat sesuai untuk kita jadikan bahan pemikiran (tadabbur) setelah kita selesai menjalankan puasa Ramadhan seperti saat ini.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah
Setelah menyelesaikan ibadah-ibadah di bulan Ramadan yang lalu, sebaiknya kita merasa cemas (khauf) dan berharap (raja’). Cemas jika puasa kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.
Namun, kita tetap berharap agar Allah Ta'ala menerima puasa kita, dengan sifat Yang Maha Pengasih dan Penyayang-Nya, meskipun mungkin kita belum melaksanakannya secara sempurna sesuai yang telah ditetapkan.
Maka, sebagai wujud rasa takut dan kekaguman terhadapnya, kita sebaiknya berkomitmen untuk terus mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik selama Ramadan.
Untuk menjaga keberlanjutan ibadah setelah bulan Ramadan, diperlukan tekad yang kuat, sehingga rintangan dan tantangan dalam kehidupan tidak mengurangi semangat beribadah serta melakukan kebaikan yang telah kita lakukan secara konsisten.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan motivasi pada orang yang bersungguh-sungguh dalam berjuang, sebagaimana firman-Nya surah Al-Ankabut ayat 69:
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ (العنكبوت [٢٩]: ٦٩)
Maknanya: "Dan mereka yang berjuang (berusaha keras) demi meraih keridhaan Kami, Aku akan menunjukkan kepada mereka jalannya. Sesungguhnya, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik."
Bila kita mampu mempertahankan semangat beribadah pada bulan Syawal, maka itulah makna sejati dan hakikat yang terkandung dalam bulan Syawal, yaitu bulan yang menjadi momen untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Sikap demikianlah yang menjadi ciri khas orang yang beriman, yaitu tetap mempertahankan keteguhan dan terus meningkatkan perbuatan ibadah, semata-mata mengharapkan ridha serta pengampunan dari Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah
Para ulama menyampaikan bahwa peningkatan diri sebaiknya dilakukan dalam tiga aspek, yakni iman, ibadah, dan akhlak.
- Peningkatan iman
Selama bulan Ramadan, kita diajarkan untuk beribadah puasa yang hanya diketahui oleh Allah dan pelakunya. Hal ini mengajarkan kita untuk bertindak dengan ikhlas dalam melakukan sesuatu hanya karena Allah, bukan karena manusia.
Maka, marilah kita tingkatkan ketulusan dalam setiap kegiatan. Kita bekerja bukan karena takut kepada atasan, ragu kepada rekan, atau malu kepada bawahan, tetapi bekerja hanya demi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika kita bekerja dengan mempertimbangkan Allah Ta’ala sebagai sumber semangat, maka pekerjaan yang kita lakukan akan menjadi baik, benar, dan optimal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan katakanlah (kepada mereka): "Bekerjalah kamu, nanti Allah akan melihat pekerjaanmu dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman. Dan kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui yang ghaib dan yang terlihat, maka Ia akan memberitakan kepada kalian apa yang dahulu kamu kerjakan." (At-Taubah [9]: 105)
Maknanya: "Katakanlah, lakukanlah pekerjaan kalian, maka Allah akan melihat apa yang kalian kerjakan, demikian pula Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui hal yang tersembunyi dan yang terlihat, kemudian Dia akan memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian lakukan."
- Peningkatan ibadah
Selama bulan Ramadan, kita diajarkan melalui berbagai bentuk ibadah, seperti shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, meningkatkan infaq, i’tikaf, dan lain sebagainya. Ibadah tersebut sebaiknya terus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari setelah bulan Ramadan berlalu.
Salat tarawih mengajarkan kita untuk selalu menjalankan Shalat Tahajjud, yaitu salat yang memiliki nilai tertinggi setelah shalat wajib, dan satu-satunya salat sunnah yang disebut beberapa kali dalam Al Qur’an, seperti dalam surah Al-Isra [17] ayat 79:
Dan pada malam hari, lakukanlah shalat tambahan (qiyamul lail) untukmu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (Al-Isra [17]:79)
Maknanya: "Dan berdiri shalat di sebagian malam sebagai ibadah tambahan bagimu, semoga Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah
Selain shalat tahajud, kita juga diajarkan untuk menyukai dan rajin membaca Al-Qur'an.
- Kasih sayang dan tekun membaca Al-Qur'an - Cinta serta rajin membaca Al-Qur'an - Kecintaan dan ketekunan dalam membaca Al-Qur'an - Rasa cinta dan kesabaran dalam membaca Al-Qur'an - Kebiasaan mencintai dan membaca Al-Qur'an dengan rajin
Dengan membaca Al-Qur’an, kita seakan-akan berbicara langsung dengan Allah Ta’ala. Al-Qur’an mampu membangkitkan rasa cinta kita kepada-Nya. Sebaliknya, Allah Ta’ala sangat mengasihi orang-orang yang selalu berhubungan dengan Al-Qur’an. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi Wasallam bersabda:
Al-Qur'an lebih dicintai oleh Allah daripada langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya (diriwayatkan oleh Abu Nu'aym)
Maknanya: "Al Quran lebih dicintai oleh Allah dibandingkan langit dan bumi beserta isinya." (HR Abu Nuaim)
Selain itu, i’tikaf mengajarkan kita untuk selalu memperhatikan shalat berjamaah dan menjaga keaktifan di masjid. Dua hal ini menjadi sumber kekuatan bagi umat Islam. Karena dengan demikian, umat Islam dapat saling mengenal, berkomunikasi, serta bekerja sama sehingga terciptalah persatuan dan kesatuan di antara mereka.
Kesatuan umat berdasarkan ajaran tauhid yang benar, merupakan inti dari ajaran agama Islam yang akan mengantarkan manusia kepada kemenangan dan kejayaan.
Di dalam catatan sejarah, setelah pecahnya perang antara Mesir dan Israel pada tahun 1973, seorang prajurit Mesir mengatakan kepada prajurit Yahudi, "Demi Allah, kami akan mengalahkan kalian hingga batu atau pohon ikut membantu kami."
Namun tentara Yahudi itu menjawab, "Segala sesuatu tidak akan terjadi sebelum shalat Subuh kalian sama banyaknya dengan shalat Jumat kalian."
- Peningkatan akhlak
Akhlak menurut Imam Al-Ghazali merupakan tindakan yang menjadi kebiasaan. Salah satu kebiasaan yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya selama bulan Ramadhan adalah kebiasaan menjaga waktu.
Waktu memiliki sifat unik yang menjadikannya sebagai penentu utama keberhasilan maupun kegagalan, antara lain: waktu adalah sesuatu yang paling berharga yang diberikan kepada manusia, waktu yang telah berlalu tidak bisa kembali, dan waktu berjalan sangat cepat, seolah hanya terasa singkat saja.
Siapa pun yang mampu mengatur waktunya, maka ia akan meraih keberhasilan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Namun, jika seseorang mengabaikan waktu, maka ia akan mengalami kerugian dan kesengsaraan di masa depan.
Semoga Tuhan Yang Maha Suci memberikan kemudahan kepada kita dalam melanjutkan amal ibadah setelah bulan Ramadhan, sehingga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan berkah dan pengampunan-Nya, Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Khutbah 2
Alhamdulillah, banyak sekali seperti yang diperintahkan, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dipaksa kepada siapa yang menyangkal dan kafir, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, pemimpin makhluk dan manusia. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas junjungan kami Muhammad serta keluarganya dan sahabatnya, serta siapa saja yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari kiamat. Sesudah itu, wahai manusia, aku nasihati kalian dan diriku sendiri untuk takwa kepada Allah, karena sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itulah yang berhasil. Allah berfirman: Ambillah zakat dari harta mereka, agar membersihkan dan menyucikan mereka dengan zakat itu, dan berdoalah atas mereka, sesungguhnya doa kamu menjadi ketenangan bagi mereka, dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, menerima zakat, dan sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Dan Dia juga berfirman: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepada-Nya dan ucapkanlah salam sebanyak-banyaknya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Muhammad. Ya Allah, ampunilah para laki-laki dan perempuan mukmin, para muslim dan muslimah, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Ya Allah, sebagaimana Engkau memuliakan kami dengan iman kepada-Mu, dan memuliakan kami dalam rukun Islam dengan berpuasa kepada-Mu, dan zakat untuk yang berhak, tolonglah kami dalam menjalankan ketaatan kepada-Mu, dan jadikanlah kesucian jiwa kami dalam menghadap-Nya sebagai jalan untuk dikabulkan segala permohonan yang telah diajarkan kepada kami untuk kami panjatkan kepada-Mu dalam firman-Mu di dalam Kitab Suci-Mu. Ya Allah, jauhkanlah dari kami bencana, wabah, gempa bumi, kesulitan, fitnah buruk, dan segala bentuk kesulitan yang terlihat maupun tersembunyi, khususnya di negeri kami Indonesia dan seluruh negeri-negeri umat Islam secara umum. Ya Tuhan semesta alam. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai sesuatu yang benar, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai sesuatu yang batil, dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya. Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat baik, memberi kepada kerabat dekat, dan melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan aniaya. Ia memberi peringatan kepada kalian, agar kalian ingat. Dan ingatlah kepada Allah yang agung, niscaya Dia akan mengingat kalian. Dan sesungguhnya, mengingat Allah adalah yang terbesar.
Lihat berita terbaru Priangan.com lainnya di: Google News