Naskah Khutbah Jumat 3 April 2026: Menjadi Manusia Bermanfaat -->

Naskah Khutbah Jumat 3 April 2026: Menjadi Manusia Bermanfaat

2 Apr 2026, Kamis, April 02, 2026
Naskah Khutbah Jumat 3 April 2026: Menjadi Manusia Bermanfaat

PRIANGAN.COM- Mengemban tanggung jawab sebagai khalifah di bumi, merupakan salah satu tugas utama yang harus dijalani manusia sepanjang hidupnya.

Karena, dunia diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang masing-masing memiliki akibat.

Manusia tidak memiliki pilihan lain selain hidup dalam keadaan yang baik, dan juga meninggal dalam keadaan yang baik, termasuk menjadi manusia yang bermanfaat di segala situasi.

Namun, tidak secara langsung mudah dilakukan sebagai seseorang yang baik sepanjang waktu, karena selalu ada tantangan dan ujian.

Ini menjadi tantangan dan perhatian bagi seluruh umat manusia di bumi, karena ada tangki yang harus ia isi selama berada di dunia, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat atau pada masa akhir kehidupannya setelah kematian.

Berikut ini, terdapat satu topik penting yang berkaitan dengan penyampaian pesan dalam khutbah Jumat pada hari esok.

Menjadi Manusia Bermanfaat

Khutbah I

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan serta meminta pengampunan dari-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami sendiri dan dari buruknya perbuatan-perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkan dia, dan barangsiapa yang disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

Ya Allah, berikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, serta kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya, dan kepada siapa pun yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari kiamat. Wahai hamba-hamba Allah, aku nasihatkan kalian dan diriku sendiri untuk takwa kepada Allah, karena sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itulah yang beruntung.

Maka berkata Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya yang mulia: ﴿Wahai orang-orang yang beriman, takwilah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar ﴾. Ia akan memperbaiki amalan kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, maka ia telah berhasil mendapatkan kemenangan yang besar.

Dan berkata Nabi Muhammad SAW: Takutlah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan ikutilah kejahatan dengan kebaikan, maka itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.

أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah shalat Jumat yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Pada hari yang mulia ini, marilah kita bersama-sama menyampaikan rasa terima kasih kepada Allah subhanahu wata'ala, Tuhan seluruh alam.

Karena kasih sayang-Nya terhadap seluruh hamba-Nya, Allah subhanahu wata’ala mengutus al-Quran sebagai petunjuk yang akan membimbing kita tidak hanya untuk hidup, tetapi juga menjalani kehidupan ini dengan makna yang lebih dalam.

Doa dan salam semoga senantiasa mengalir kepada pemimpin kita, teladan umat ini, nabi yang terakhir dari para nabi, utusan yang terakhir dari para utusan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nabi dan utusan terpilih yang Allah kirimkan untuk menyebarluaskan agama Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Nabi yang telah memberikan keuntungan besar bagi umat manusia.

Tidak lupa, kami selaku khatib menasihati diri sendiri dan secara umum kepada jamaah sekalian, agar senantiasa meningkatkan rasa takwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Karena tidak ada bekal terbaik yang dapat kita bawa saat menghadap Allah subhanahu wata’ala, selain dari amal kebajikan yang kita lakukan selama berada di dunia.

Jamaah shalat Jumat yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Dalam kehidupan kita sehari-hari, tanpa disadari seringkali kita menilai dan mengukur kesuksesan hanya berdasarkan apa yang dimiliki atau bisa dicapai. Seperti nilai akademis yang tinggi, jabatan yang menonjol, pengaruh yang besar, atau harta yang melimpah.

Mencapai sesuatu dalam hal tersebut sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Tentu saja hal ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah atau keliru. Hanya saja, agama Islam memberikan kepada kita standar yang berbeda.

Agama yang kita percayai tidak mengajukan pertanyaan tentang sejauh mana kedudukan kita, seberapa baik nilai yang kita miliki, atau seberapa besar kekayaan yang telah kita kumpulkan.

Semua hal tersebut memang penting dan tentu perlu terus diperjuangkan dengan baik, tetapi ada sesuatu yang seharusnya tidak kita lupakan. Yaitu, seberapa besar manfaat dari pencapaian yang telah kita peroleh?

Rasulullah SAW bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ.

Yang terbaik dari manusia adalah yang paling berguna bagi sesama manusia.

Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Ini adalah standar kehidupan yang ditetapkan bagi kita sebagai umat Islam. 2. Inilah pedoman hidup yang diberikan kepada kita sebagai umat Muslim. 3. Standar kehidupan yang diatur untuk kita sebagai umat Islam. 4. Berikut ini adalah aturan hidup yang diberikan kepada kita sebagai umat Islam. 5. Ini merupakan panduan hidup yang ditentukan bagi kita sebagai umat Islam.

Iman yang asli dan tulus selalu menghasilkan sikap yang positif dan memberikan dampak nyata. Bukan sekadar identitas atau simbol belaka.

Jamaah shalat Jumat yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Pada kesempatan khutbah ini, khatib berkeinginan menyampaikan tiga manfaat yang seharusnya kita lakukan bersama, sebagai wujud penerapan ajaran Islam yang kita yakini.

Pertama: Manusia memberikan manfaat kepada dirinya sendiri

Manfaat pertama adalah bermanfaat bagi diri sendiri. Allah subhanahu wata’ala menyampaikan dalam al-Quran, Surat asy-Syams ayat 9—10,

Sudah berhasil orang yang menyucikan dirinya * dan sudah rugi orang yang mengotorinya

Bahagialah seseorang yang menyucikan dirinya. Dan sangat merugi orang yang mengotori jiwa tersebut.

Ayat ini menggambarkan bahwa keuntungan dan kebaikan akan diperoleh oleh setiap individu Muslim jika ia terus berupaya untuk mengendalikan dirinya.

Allah swt memberikan keberuntungan kepada siapa saja yang terus berusaha membersihkan hatinya.

Jamaah shalat Jumat yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Manfaat bagi diri sendiri bukan hanya sekadar mengenali yang benar dan yang salah. Karena betapa banyak orang yang tahu kewajiban shalat, namun shalat tersebut belum mampu mengatur kehidupannya.

Ia melaksanakan shalat, namun masih mudah berbohong. Ia beribadah, tetapi masih cenderung melanggar kepercayaan. Ia menyatakan beriman, tetapi waktu yang dimilikinya dihabiskan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan mengabaikan kewajiban.

Meskipun demikian, jika iman benar-benar hidup, maka akan terlihat dari kedisiplinan, kesungguhan dalam memperbaiki diri, serta kemampuan untuk menahan diri dari perbuatan dosa.

Pertama, hal yang harus kita perhatikan adalah bahwa agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa berupaya menciptakan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri sesuai dengan ajaran syariat.

Umar bin Khattab ra berkata,

Hitunglah diri kalian sendiri sebelum kalian dihitung

“Hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung.”

Kelebihan dan manfaat seharusnya dimulai dari diri sendiri, serta caranya adalah dengan meningkatkan kualitas diri.

Jamaah yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Kedua, yaitu bagaimana kita mampu memberikan manfaat kepada keluarga kita.

Setelah berupaya memperbaiki diri, kebaikan tersebut seharusnya dirasakan oleh orang-orang terdekat kita, yakni keluarga. Allah subhanahu wata'ala menyampaikan dalam al-Quran, Surat at-Tahrim ayat 6,

Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Hey para orang yang beriman, jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Ayat ini menyatakan bahwa keluarga kita bukan hanya tempat kembali, tetapi juga memiliki tanggung jawab. Tanggung jawab bagi kita untuk memberikan manfaat dan kebaikan kepada mereka.

Banyak orang yang terlihat baik saat berada di luar rumah. Namun, anggota keluarganya justru tidak merasakan manfaat dari kebaikan itu.

Bagaimana sering seseorang tampak ramah di luar, namun keluarganya sendiri yang paling sedikit merasakan kebaikannya. Di depan orang lain ia berbicara dengan hati-hati, tetapi di rumah ia justru sering bersuara keras.

Betapa banyak orang yang berusaha tampil baik di lingkungan sosial, namun di rumah keluarganya merasakan jarak dan sikap yang tajam.

Sebenarnya, ukuran kebaikan dan manfaat seseorang terletak pada keluarganya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi keluarganya.

Para hadirin yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Kelebihan yang kita berikan kepada keluarga kita tentu tidak cukup hanya melalui harta atau kebaikan material. Namun, juga kebaikan yang bersifat rohani.

Keluarga kita sangat memerlukan senyuman hangat kita, kasih sayang kita, serta sikap baik yang sering kali hanya kita berikan kepada orang di luar keluarga.

Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menekankan pentingnya mendidik keluarga dengan akhlak dan pengetahuan. Beliau mengingatkan orang tua agar tidak hanya berhenti pada pemberian manfaat materi, tetapi juga tidak melupakan pendidikan dan contoh yang baik.

Bagaimana dan seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada keluarga, menjadi ukuran sejauh mana iman kita.

Ketiga: Manusia Berkontribusi Positif terhadap Masyarakat

Jamaah shalat Jumat yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Ketiga, Islam mengharuskan umatnya hadir sebagai jawaban dalam tengah masyarakat. Allah subhanahu wata’ala berfirman, dalam al-Quran Surat al-Maidah ayat 2,

 وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Berbantulah kalian dalam hal yang baik dan taqwa.

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wata’ala memberi peringatan kepada kita bahwa sikap hidup yang individualistik dan tidak memperhatikan lingkungan serta masyarakat sekitar bukanlah ciri dari seorang muslim yang baik.

Terkadang kita merasa sudah cukup berada di jalur yang benar hanya dengan sering datang ke masjid, sering membaca Al-Quran, atau sering berdzikir dan shalawat. Padahal, hal tersebut bukanlah cara yang ditunjukkan oleh Nabi kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan teladan yang mulia dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bersikap baik kepada tetangga. Beliau bukan hanya seorang Nabi atau individu saleh yang keseluruhan waktunya dihabiskan di masjid.

Ia merupakan tetangga yang paling baik, seorang pemimpin yang sangat adil, serta seseorang yang memberikan berkah bagi seluruh alam.

Jamaah shalat Jumat yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Manfaat yang dapat kita berikan tidak selalu harus bersifat besar. Menepati janji, jujur terhadap orang lain, menjaga perkataan, serta tindakan kebaikan kecil lainnya, meskipun hanya sekadar mengangkat sampah dari jalan, merupakan salah satu bentuk kebermanfaatan bagi sesama.

Masih terasa jelas dalam ingatan kita, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seseorang yang dihapus dosa-dosanya karena telah mengangkat duri dari jalan.

Imam al-Bukhari menyampaikan dalam kitab sahihnya, hadis nomor 624, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berucap,

Sementara seorang pria sedang berjalan di jalan, ia menemukan duri di jalan tersebut lalu menggesernya, sehingga Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya.

Saat seorang laki-laki sedang berjalan, tiba-tiba ia menemukan sebuah dahan berduri yang menghalangi jalannya. Ia kemudian mengangkatnya. Maka Allah menerima perbuatannya dan memaafkan kesalahannya.

Allah subhanahu wata’ala memberi kita balasan pahala, bahkan dari manfaat kecil yang kita lakukan. Lalu, bagaimana jika kita mampu memberikan manfaat yang lebih besar kepada sesama?

Tentu saja, jika hal tersebut dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan hanya karena Allah Subhanahu wa Ta'ala, pahalanya akan menjadi berlipat ganda.

Jamaah shalat Jumat yang dihormati oleh Allah subhanahu wata’ala

Demikianlah ajaran Islam mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang terbaik. Tidak peduli seberapa tinggi kedudukan kita, maupun seberapa besar kekayaan yang kita miliki.

Yang paling penting adalah seberapa besar dan seberapa luas manfaat yang dapat kita berikan kepada diri sendiri, keluarga, serta masyarakat di sekitar kita.

Oleh karena itu, marilah kita menjadi seorang muslim yang hidup dengan keyakinan yang mengarah pada perbuatan baik serta perhatian terhadap sesama.

Semoga Allah memberkati saya dan kalian dalam Al-Qur'an yang Agung, dan semoga saya serta kalian mendapat manfaat dari ayat-ayatnya serta dzikir yang bijaksana. Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Besar untuk diriku dan kalian, maka mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Yang Pemaaf lagi Pengasih.

Khutbah II

Segala puji bagi Allah dan cukuplah, dan aku menyampaikan salawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad yang terpilih, serta kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang setia.

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, yang tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa tuan kami Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

Ya Allah, berikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, serta kepada keluarganya dan sahabatnya, dan kepada siapa pun yang mengikuti mereka dengan kebaikan hingga hari kiamat.

Wahai hamba-hamba Allah, aku nasihatkan kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itulah yang berhasil. Selepas itu.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, shalatlah kalian kepadanya dan berikan salam sebanyak-banyaknya.

Ya Allah, berikanlah shalawat kepada tuan kami Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan shalawat kepada Ibrahim, dan kepada keluarga Ibrahim, serta berkahilah tuan kami Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada Ibrahim, dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Ya Allah, ampunilah orang-orang Muslim dan perempuan-perempuan Muslim, serta orang-orang beriman dan perempuan-perempuan beriman, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, dekat, dan mengabulkan doa-doa.

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan bagi kami dosa apa pun kecuali Engkau mengampuninya, dan janganlah Engkau biarkan kesedihan apa pun kecuali Engkau membukakannya, dan janganlah Engkau biarkan hutang apa pun kecuali Engkau melunasinya, dan janganlah Engkau biarkan kebutuhan apa pun dari kebutuhan dunia dan akhirat kecuali Engkau memenuhinya, dengan rahmat-Mu, ya Tuhan yang paling pengasih lagi penyayang.

Ya Allah, perbaikilah agama kami yang merupakan benteng urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kami mencari kehidupan, dan perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembalinya kami. Jadikanlah kehidupan sebagai tambahan bagi kami dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari segala keburukan.

Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikanlah kami sampai Ramadan.

Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka.

Maha suci Tuhanmu, Tuhan yang memiliki keagungan, dari apa yang mereka katakan. Dan damai sejahtera atas para utusan, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

(*)

Lihat artikel lain dari Priangan.com di Google News

TerPopuler