
JATENG.COM, JEPARA- Pameran TATAH kembali diadakan tahun ini, dengan lokasi utama di Museum Nasional Indonesia Jakarta.
Rencananya, pementasan yang direncanakan untuk memperkenalkan karya ukir Jepara akan diadakan mulai tanggal 20 April hingga 5 Juli 2026 dengan mengangkat tema "Suluk-Sulur-Jepara".
Sebagai langkah cerdas untuk memperkuat kembali identitas Jepara sebagai "Kota Ukir".
Dengan pendekatan yang berfokus pada budaya, pendidikan, serta pelestarian nilai seni dan tradisi.
Tema "Suluk-Sulur-Jepara" bertujuan untuk mengangkat pola daun khas ukiran Jepara, serta menekankan makna filosofis perjalanan, perkembangan, dan kelanjutan budaya.
Peluncuran pameran TATAH dilaksanakan pada 20 April 2026, yang dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon serta tokoh-tokoh lainnya. Setelah itu, pameran tersebut dibuka bagi masyarakat umum mulai dari tanggal 21 April hingga berakhir.
Kepala TATAH, Veronica Rompies menyampaikan, awal munculnya Pameran TATAH berawal dari penelitian mendalam terkait sejarah dan seni ukir khas Jepara. Peserta pameran dipilih melalui evaluasi terhadap kualitas produk yang memenuhi standar tinggi.
Menurutnya, pameran ini merupakan inisiatif terbaru, namun seluruh produk yang ditampilkan tidak memiliki kualitas buruk dengan standar yang rendah.
Hanya saja dipilih dengan memperhatikan kualitas, tentu saja dengan mengedepankan kedalaman nilai tradisi dan budaya ukir.
"Serangkaian kegiatan pameran meliputi pemutaran film Kartini, pertunjukan seni, peluncuran dan diskusi buku Tatah 2026 hasil kajian tim, serta program pendidikan masyarakat," jelasnya Rabu (8/4/2026).
Rencananya, pameran akan diikuti oleh tim kurator berpengalaman seperti Dr. Suwarno Wisetrotomo, Nano Warsono, dan Nurrohmad dalam menilai kualitas pameran serta kedalaman cerita sejarah.
Veronica menekankan bahwa pameran TATAH merupakan bentuk kerja sama antara Pemkab Jepara, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara Raya, Rumah Kartini, serta Museum Nasional Indonesia. Pameran ini juga melibatkan para kurator, peneliti, dan seniman.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, pameran TATAH selaras dengan usaha pemerintah daerah dalam memulihkan kejayaan Jepara sebagai pusat seni ukir Nusantara.
Dalam hal ini, Pemkab Jepara menganggap bahwa persepsi masyarakat umumnya melihat ukiran Jepara hanya sebagai produk kerajinan mebel industri.
Namun, ia berharap ukiran Jepara tidak hanya menjadi produk kerajinan biasa, tetapi juga bagian dari karya seni murni (art piece) yang harganya tidak bisa diukur dengan harga standar.
"Kami berharap, Pameran TATAH ini mampu mengarah pada peningkatan kesejahteraan para pengukir di Kabupaten Jepara," kata bupati.
Di sisi lain, Witiarso memperhatikan bagaimana pameran TATAH sebagai wadah untuk merevisi seni ukir turun-temurun, serta bagian dari penerapan sejarah.
Bupati juga menyoroti permasalahan besar terkait proses regenerasi pengrajin ukir di tengah dominasi industri mebel yang bersifat massal.
Di tengah menurunnya minat generasi muda dalam mempelajari seni ukir murni, hal ini menjadi perhatian berbagai pihak, bukan hanya pemerintah daerah tetapi juga para pelaku seni.
Bagi dia, pameran TATAH 2026 merupakan kesempatan penting untuk meningkatkan kelas dan citra profesi pengukir, mendorong perubahan dari perajin menjadi kreator seni. Selain itu, menghubungkan karya ukir dengan pasar seni berharga tinggi.
Diinginkan mampu mengembalikan perhatian generasi muda dalam melanjutkan tradisi tinggi seni ukir di Kabupaten Jepara.
Witiarso menekankan bahwa pameran TATAH merupakan momen atau kesempatan emas yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas jaringan serta membuka peluang penyelenggaraan pameran dengan standar seni murni yang berkelanjutan.
"Karena apa yang kita tampilkan adalah karya seni murni, semoga kolektor ternama nasional dan internasional dapat hadir. Mudah-mudahan ini menjadi kesempatan promosi yang berhasil, sehingga nantinya kita bisa mengadakan pameran serupa secara berkala," ujarnya. (Sam)