
bengkalispos.com,TABANAN – Pertanian berkelanjutan diBaliterus berkembang menghasilkan berbagai produk yang bernilai tinggi.
Salah satu komoditas pertanian organik yang sedang berkembang di Bali adalah paprika. Made Sandi, seorang petani paprika di Tabanan, menjelaskan bahwa ia membangun budidaya paprika menggunakan sistem rumah kaca di lahan seluas sekitar 2,5 are. Dengan jumlah total sekitar 860 pot atau setara dengan 1.600 tanaman, ia kini mampu menghasilkan paprika secara teratur dengan metode panen harian.
Pada satu kali panen, hasil yang diperoleh berkisar antara 20 kg hingga 40 kg, dan bisa mencapai 100 kg jika dilakukan panen menyeluruh sesuai dengan permintaan pasar. Masa produksi berlangsung selama delapan bulan dalam satu siklus tanam.
Untuk mempertahankan kualitas dan efisiensi, Sandi juga mengadopsi teknologismart farming, mulai dari pengaturan nutrisi hingga sistem penyiraman otomatis. Hasilnya, cabai yang dihasilkan termasuk kategori premium dengan harga jual tinggi, yaitu cabai merah hingga Rp150.000 per kilogram, hijau Rp125.000, dan kuning pernah mencapai Rp200.000 per kilogram.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari meningkatnya permintaan pasar terhadap produk organik, khususnya dari industri perhotelan yang memerlukan pasokan yang berkualitas dan ramah lingkungan.
Dalam memulai usahanya, Sandi mengalami kesulitan terkait biaya, namun ia berupaya untuk hemat dengan menumbuhkan bibit sendiri. "Awalnya memang ada kendala dalam hal biaya, khususnya untuk bibit yang harganya cukup tinggi. Tapi kami berusaha mencari solusi agar bisa lebih hemat, yaitu dengan menanam bibit sendiri," katanya.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Selanjutnya dalam proses pengembangannya, Sandi mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tani melalui BRI. Dengan dana yang diperoleh, Sandi mampu berkembang pesat. 2. Dalam tahap perkembangan berikutnya, Sandi memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tani dari BRI. Pendanaan ini membantu Sandi untuk berkembang lebih jauh. 3. Setelah itu, Sandi mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tani di BRI. Berkat pendanaan tersebut, Sandi berhasil mengembangkan usahanya. 4. Pada tahap selanjutnya, Sandi mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tani kepada BRI. Dengan bantuan dana tersebut, Sandi mampu berkembang secara signifikan. 5. Dalam rangka pengembangan bisnisnya, Sandi mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) Tani dari BRI. Pendanaan ini menjadi kunci keberhasilan Sandi dalam berkembang.
CEO Regional BRI Wilayah 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyatakan pihaknya giat mendukung pelaku usaha pertanian untuk meningkatkan kelas mereka melalui bantuan modal yang terjangkau.
"BRI berkomitmen mendukung perkembangan pertanian organik dengan menyediakan akses pembiayaan yang mudah dan inklusif. Bidang ini tidak hanya memiliki potensi ekonomi yang besar, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan," kata Sandi, Selasa (14/4/2026)
Ia menjelaskan, melalui program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), BRI memberikan kemudahan dalam mendapatkan modal bagi para petani, sekaligus melakukan pembimbingan dan peningkatan pemahaman keuangan.
"Tidak hanya dalam hal pendanaan, kami juga mendorong penguatan kemampuan petani agar dapat mengembangkan usaha secara berkelanjutan dan kompetitif," tambahnya.