Pengalaman Utama Perjalanan Berkelanjutan -->

Pengalaman Utama Perjalanan Berkelanjutan

25 Apr 2026, Sabtu, April 25, 2026

Perjalanan yang berkelanjutan mulai menjadi pertimbangan bagi para wisatawan saat melakukan perjalanan. Hal ini ditandai dengan perubahan kecenderungan wisatawan dalam mencari tempat tinggal dan pengalaman yang lebih bermakna selamaperjalananBerdasarkan laporan Travel Industry Outlook 2026 dari tiket.com, sebanyak 63 persen wisatawan sudah mengenal konsep perjalanan berkelanjutan, dan 67 persen di antaranya pernah menginap di penginapan yang ramah lingkungan.

Peningkatan ini juga diiringi dengan semangat yang makin tinggi. Sekitar 69 persen para wisatawan termotivasi untuk berkontribusi pada lingkungan, 49 persen ingin membantu komunitas setempat, dan 41 persen mencari pengalaman yang lebih bermakna.

Gaery Undarsa, Co-Founder & Chief Marketing Officer dari tiket.com menyatakan bahwa para wisatawan mulai menyadari dampak dari industri perjalanan terhadap lingkungan, sehingga muncul keinginan untuk berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Termasuk juga keinginan untuk lebih dekat dan terlibat dengan masyarakat setempat serta memilih akomodasi yang ramah lingkungan.

"Maka bukan soal ke mana kita pergi, tetapi apa dampak yang bisa kita berikan, khususnya yang positif," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu 22 April 2026.

Menurut Gaery, hal ini merupakan tanda baik bagi sektor pariwisata. Oleh karena itu, platform perjalanan dan pelaku bisnis di industri tersebut perlu mendorong semakin banyak mitra akomodasi untuk menerapkan prinsip keberlanjutan.

Di sisi lain, Chief Operating Officer Artotel Group, Edho, menganggap bahwa segmen wisatawan saat ini lebih peka terhadap isu keberlanjutan. Mereka tidak hanya mengevaluasi kualitas layanan penginapan, tetapi juga memperhatikan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG.

Pengunjung sering kali memastikan bahwa hotel yang mereka pilih tidak merusak lingkungan dan menerapkan kebijakan bisnis yang bertanggung jawab. “Bukan hanya”sustainable tourism, tapi lebih ke responsible travelling. Orang yang melakukan perjalanan harus bertanggung jawab, selain tidak boleh merusak tempat tujuan," katanya.

Pengalaman kunci utama

Natasha Clairine, Direktur dan Pendiri Rumah Atsiri Indonesia menambahkan bahwa wisatawan saat ini tidak hanya sekadar menerima layanan. Namun juga menginginkan partisipasi dan pemahaman terhadap proses yang berada di balik sebuah destinasi. Pengalaman ini menjadi komponen penting dalam pariwisata berkelanjutan.

"Jadi memang experiencemenjadi salah satu kuncinya, karena memang mereka ingin menjadi bagian dan terlibat dalam perjalanan mereka sendiri," katanya.

Geary sepakat dengan Natasha bahwa pengalaman merupakan hal utama dalam pariwisata yang berkelanjutan. Ia melihat bahwa keinginan para wisatawan untuk mencari pengalaman yang bermakna selama perjalanan semakin meningkat sejak tahun 2020-an. Di mana pengelola akomodasi juga memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat menginap.

Ekspektasi wisatawan berubah

Tiket.com mulai memperhatikan akomodasi yang berkelanjutan melalui fitur Tiket Green pada tahun 2025. Fitur ini menampilkan promo khusus serta pemilihan penginapan ramah lingkungan agar lebih mudah ditemukan oleh para wisatawan. Properti yang menerapkan konsep berkelanjutan kini meningkat sebesar 24 persen. “Bukan hanya sekadar fitur, tetapi menjadi”like a list, a curation list yang meaningful juga.”

Menurutnya, dulu penginapan yang ramah lingkungan sering dianggap merepotkan dan tidak efisien. Namun kini harapan pasar telah berubah. Konsepsustainabilityharus tetap nyaman, mudah diakses, serta sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Selain itu, hal tersebut tidak hanya terkait dengan tempat yang memiliki nuansa alami, tetapi juga bagaimana sebuah destinasi mampu menjunjung prinsip keberlanjutan. Wisatawan kini lebih bersedia membayar lebih untuk destinasi yang berkelanjutan, khususnya dalam segmen premium dan lainnya.leisure.

Geary kembali menekankan bahwa kerja sama dengan hotel, destinasi, dan pelaku industri sangat penting karena OTA tidak memiliki properti secara langsung. "Jika banyak kerja sama dan kerja sama semakin baik, pasti akan lebih"meaningful juga buat wisatawan," ujarnya.

TerPopuler