bengkalispos.com, BANGKA— Mengenakan jaket ojek online (ojol) berwarna hijau yang terlihat rusak di beberapa bagian, Joko Sutrisno berdiri di bawah sinar lampu malam yang redup.
Sekandang jaket masih menempel di tubuhnya, seolah mengonfirmasi bahwa ia baru saja kembali dari luar ruangan.
Meski tampak kelelahan, Joko berusaha tetap kuat saat menceritakan pengalamannya.
Terkadang ia menghirup napas dalam-dalam. Tangannya memegang ponsel—alat utama untuk mencari penghasilan sehari-hari. Bau asap dan sisa kegiatan harian masih tercium.
Di tengah kesibukannya sebagai pengemudi ojek online, Joko masih perlu memikirkan nasib anaknya yang sempat tertunda dalam keberangkatannya ke pesantren.
Joko mengakui, agar bisa membiayai keberangkatan anaknya, ia harus memotong penghasilan harian yang sedikit.
Di balik perdebatan mengenai kegagalan puluhan santri yang berangkat dari Pangkalpinang menuju Surabaya, tersembunyi kisah perjuangan para orang tua yang berusaha keras agar anak-anak mereka tetap bisa melanjutkan studi.
"Jika kami sebagai ojek online, tahu sendiri penghasilannya. Sehari paling hanya Rp100 ribu hingga Rp200 ribu. Itu pun sudah dipotong banyak hal, seperti bensin, makanan, dan kebutuhan rumah tangga," ujar Joko kepada bengkalispos.com, Jumat (3/4/2026).
Menurut Joko, untuk mengumpulkan dana pembelian tiket pesawat saja, dia harus menyisihkan uang dalam jangka waktu yang cukup lama. Bahkan untuk tiket yang harganya lebih dari Rp2 juta, dia memerlukan waktu beberapa minggu.
"Jika ingin mengumpulkan uang sebesar Rp2 juta, bisa memakan waktu dua minggu atau bahkan hingga sebulan. Karena kita menabungnya secara perlahan," katanya.
Ia menjelaskan, meskipun penghasilan yang terlihat cukup besar secara nominal, sebenarnya terdapat banyak pengeluaran yang harus ditanggung setiap hari.
"Orang mungkin melihat kita bisa mendapatkan Rp300 ribu per hari. Tapi bensin bisa habis sampai Rp80 ribu, belum termasuk makanan, kebutuhan di rumah, dan biaya sekolah anak. Jadi yang tersisa tidak begitu banyak," katanya.
Situasi itu membuatnya semakin sedih saat harus membeli tiket baru secara mendadak karena anaknya tidak bisa berangkat. Ia mengatakan biaya tambahan ini menjadi beban besar bagi keluarganya.
"Jika tiba-tiba seperti ini, jujur sangat berat. Mendapatkan uang sebanyak itu tidak mudah. Kadang kita hanya mengumpulkan Rp30 ribu, Rp50 ribu per hari," katanya.
Beruntung, ustad pendamping berhasil membantu dengan memesan tiket baru terlebih dahulu.
Selain itu, kata Joko, pihak maskapai kemudian menawarkan tiket dengan harga lebih murah setelah adanya laporan dan komunikasi yang berkelanjutan.
"Alhamdulillah, ustadznya sudah datang lebih dulu. Kemudian ada informasi mengenai diskon tiket dari pihak maskapai penerbangan, sehingga beban kami sedikit berkurang. Kami membayar sekitar Rp1,5 juta, dan alhamdulillah para santri telah berangkat pukul 15.00 WIB tadi, jadi hati kami sedikit tenang," katanya.
Ia menyampaikan, tawaran tersebut muncul setelah ada laporan kepada pihak berwajib dan selanjutnya ditindaklanjuti melalui komunikasi dengan pihak maskapai.
"Setelah kami melaporkan hal tersebut, pihak maskapai menghubungi ustadz. Kami juga telah berdiskusi dan akhirnya sepakat untuk menerima solusi tersebut," katanya.
Sejak peristiwa tersebut, ia belum sempat kembali bekerja seperti biasa karena harus menangani keberangkatan anaknya.
"Sejak kemarin belum bekerja lagi, masih mengurus anak. Jadi sekarang sambil berjalan, sambil mengumpulkan uang juga," katanya.
Di sisi lain, Joko juga menyampaikan harapannya kepada pihak maskapai agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Ia menilai, dalam situasi rombongan seperti santri, sebaiknya diberikan perlakuan khusus agar penumpang tidak tertinggal.
"Setidaknya ditemani, diantar ke pesawat. Periksa apakah penumpangnya masih berada di bandara atau tidak. Jangan sampai sudah tiba, tapi justru ditinggalkan," tegasnya.
Ia juga menyoroti ketidakwajaran karena seluruh barang bawaan santri telah lebih dahulu masuk ke pesawat dan bahkan sudah tiba di Surabaya, sementara sebagian penumpang justru tertinggal di Bangka.
"Koper sudah berangkat, sudah tiba di Surabaya. Tapi orangnya masih di sini. Itu memang aneh," katanya.
Menurutnya, saat kejadian para santri sebenarnya sedang berada dalam antrian menuju pesawat. Namun ketika proses masih berlangsung, akses tiba-tiba ditutup.
"Sudah sampai di antrian, bahkan tiket boarding sudah dipotong. Tapi tiba-tiba ditutup. Teman-temannya berangkat, sedangkan dia tidak. Itu pasti menyedihkan," katanya.
Joko mengakui, anaknya juga merasakan tekanan secara emosional akibat peristiwa tersebut, khususnya karena harus tertinggal dari teman-temannya yang lebih dulu berangkat dan mulai belajar di pondok.
"Ia sedih karena teman-temannya sudah pergi dan mulai belajar. Ia belum. Itulah yang menjadi beban bagi anak," katanya.
Sebagai kepala keluarga yang memiliki empat orang anak, Joko perlu membagi penghasilannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Saat ini, tiga dari anaknya masih tinggal di rumah dan menjadi tanggung jawabnya, sedangkan satu anak lainnya sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren.
"Saya memiliki tanggung jawab lima orang, yaitu istri dan anak-anak. Jadi memang harus bekerja terus-menerus. Terkadang dari pagi hingga malam, jika tubuh saya masih kuat," katanya.
Meski demikian, ia terus berupaya memberikan pendidikan terbaik untuk anaknya, meskipun harus menghemat dan menabung perlahan setiap hari.
"Kita menabungnya secara perlahan. Sedikit-sedikit asalkan cukup untuk kebutuhan anak sekolah," katanya.
Ia juga menyampaikan, kesempatan anaknya untuk kembali ke rumah sangat terbatas, hanya sekali setahun pada saat perayaan Lebaran. Oleh karena itu, proses kepulangan kembali ke pondok menjadi hal yang sangat penting dan harus dipersiapkan dengan matang.
"Hanya kembali satu kali dalam setahun, yaitu saat Lebaran. Setelah itu kembali lagi ke pondok," katanya.
Di tengah berbagai keterbatasan, Joko berharap pihak maskapai memberikan kejelasan serta tanggung jawab atas kejadian yang menimpa anaknya dan puluhan santri lainnya.
"Harapan kami adalah adanya tanggung jawab. Karena ini bukan hanya tentang uang, tetapi juga masa depan anak-anak kita," tutupnya.
(bengkalispos.com/Erlangga)