
bengkalispos.com.CO.ID – JAKARTA.Peningkatan permintaan akan makanan bergizi dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberi tekanan pada kesiapan pasokan sayuran nasional.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan permintaan, meskipun koordinasi antara produksi dan distribusi di lapangan belum sepenuhnya efisien.
Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat peningkatan permintaan terhadap sayuran seperti tomat, kangkung, dan bayam seiring perkembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah.
Situasi ini mengakibatkan perlunya penyesuaian cepat antara produksi petani dan permintaan pasar.
Kepala Dinas Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, menyatakan pihaknya sedang menyesuaikan produksi dengan peningkatan permintaan tersebut.
"Permintaan pasti akan meningkat, hal ini yang kami sesuaikan dengan produksi petani di setiap daerah," katanya, Rabu (15/4/2026).
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Kementan mendorong model kemitraan langsung antara petani dan SPPG dengan konsep link and match. Skema ini memberikan kesempatan kerja sama bisnis yang diharapkan mampu menjamin penyerapan hasil panen.
Dengan kepastian pasar, petani diharapkan mampu menyesuaikan sistem tanam sambil memastikan kelanjutan produksi.
Namun, tantangan terbesar masih berada di sisi penyaluran. Ketidakseimbangan pasokan antar wilayah, khususnya di daerah Indonesia Timur yang belum sepenuhnya mandiri, menyebabkan rantai pasok tetap tidak stabil.
Sebagai alternatif, Kementan menyediakan peningkatan infrastruktur penyimpanan seperticold storagedi wilayah tersebut untuk mempertahankan kualitas dan jumlah pasokan.
Selain itu, penerapan teknologi pertanian sepertismart greenhousejuga mendorong agar produksi tidak lagi bergantung pada musim dan cuaca yang ekstrem.
Di sektor hulu, peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) semakin diperkuat sebagai pengumpul yang menyerap hasil pertanian dan menyalurkannya ke SPPG. Tindakan ini diharapkan mampu memangkas rantai distribusi serta menggerakkan perekonomian lokal.
Kementan menganggap peningkatan permintaan dari program MBG sebenarnya memberikan kesempatan besar bagi petani karena pasar sudah terbentuk.
Namun, tanpa perbaikan logistik, peningkatan kemampuan produksi wilayah, serta penguatan lembaga di tingkat desa, lonjakan permintaan justru berisiko mengganggu rantai pasok.
"Jika permintaan sudah ada dan pola tanam dapat kita kendalikan, saya yakin para petani akan bahagia karena pasarnya jelas," tutup Agung.