Petani Sumatera dan Kalimantan Diajari Menanam Kelapa Sawit untuk Kesejahteraan -->

Petani Sumatera dan Kalimantan Diajari Menanam Kelapa Sawit untuk Kesejahteraan

1 Apr 2026, Rabu, April 01, 2026
Petani Sumatera dan Kalimantan Diajari Menanam Kelapa Sawit untuk Kesejahteraan
Ringkasan Berita:
  • Pelatihan PERKASA bertujuan meningkatkan kemampuan petani kelapa sawit dengan memperdalam pemahaman mengenai praktik agronomi yang lebih terukur, termasuk dalam hal pemberian pupuk, pemilihan benih, dan perawatan tanaman.
  • Peserta pelatihan mengalami perubahan dalam mengelola kebun, sehingga mampu menangani berbagai hambatan dalam budidaya secara lebih terstruktur.
  • Pemantauan setelah pelatihan dan layanan konsultasi agronomi diharapkan mampu meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraan para petani.

NEWS.COM, JAKARTA - Seorang petani kelapa sawit di Desa Suak Putat, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, menceritakan perubahan dalam pengelolaan kebunnya setelah mengikuti pelatihan peningkatan kemampuan petani.

Pengelolaan pemupukan yang sebelumnya dilakukan berdasarkan kebiasaan, kini dilakukan dengan lebih terencana melalui penentuan dosis yang sesuai dan penerapan jadwal yang lebih teratur.

Perubahan ini terjadi setelah individu tersebut mengikuti pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (PERKASA) di berbagai daerah operasional perusahaan, termasuk di Provinsi Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

“Dulu saya mengira menanam itu mudah, cukup menyebarkan saja. Ternyata cara kita melakukan pemupukan memengaruhi kesehatan tanaman kelapa sawit. Jika pemupukan dilakukan dengan benar, hasilnya akan maksimal. Hal ini baru saya ketahui setelah mengikuti pelatihan PERKASA. Kami mendapatkan banyak pengalaman tentang pembibitan, perawatan hingga panen yang bisa langsung kami terapkan di kebun,” ujar Majian, Rabu (1/4/2026).

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman petani mengenai metode pertanian yang tepat dan benar.

Melalui kegiatan pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pemilihan jenis pupuk yang sesuai, penentuan dosis yang tepat, serta waktu pemberian yang efektif untuk mendukung perkembangan tanaman.

Sebelumnya, kegiatan budidaya biasanya dilakukan berdasarkan pengalaman turun-temurun tanpa didukung oleh pengetahuan teknis yang memadai.

Program PERKASA adalah bagian dari inisiatif perusahaan yang bertujuan memperkuat kualitas agronomi petani.

Kegiatan ini dibuat untuk meningkatkan efisiensi kebun serta mendukung terwujudnya kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Program ini juga selaras dengan prinsip-prinsip yang menekankan peran serta dalam pengembangan sektor pertanian di Indonesia.

Pelaksanaan pelatihan dilakukan dengan pendekatan gabungan antara teori dan praktek, dengan perbandingan sekitar 40 persen materi teoritis dan 60 persen praktik di lapangan.

Kegiatan berlangsung sangat aktif selama tiga hari, bertujuan agar peserta mampu menerapkan ilmu yang didapat secara langsung di kebun masing-masing.

Di sisi lain, Durham, seorang petani kelapa sawit dari Desa Muara Pias, Long Kali, Paser, Kalimantan Timur yang juga merupakan peserta PERKASA, mengungkapkan bahwa selama ini ia menghadapi berbagai tantangan dalam menanam kelapa sawit karena keterbatasan pengetahuan.

Dimulai dari masalah benih yang tidak sesuai dengan harapan, serangan hama pada awal masa tanam, hingga tanaman yang tidak menghasilkan buah tanpa diketahui penyebab pastinya.

"Masalah di lapangan memang banyak, terutama mengenai benih dan hama. Dulu kami hanya bekerja berdasarkan kebiasaan, jadi ketika tanaman tidak berbuah, kami tidak tahu apakah penyebabnya adalah benih atau cara perawatannya. Setelah mengikuti pelatihan PERKASA, kami menjadi memahami sistem dan metode yang tepat. Ilmu ini sangat berguna untuk meningkatkan pengelolaan kebun agar hasilnya lebih baik," kata Durham.

Sebagai tindak lanjut, para petani akan diawasi secara berkala setelah mengikuti pelatihan untuk memastikan penerapan materi yang telah diberikan.

Pemantauan berkelanjutan diharapkan mampu mendorong perubahan dalam praktik budidaya menjadi lebih teratur dan memenuhi standar.

Selain itu, perusahaan menawarkan layanan konsultasi agronomi melalui saluran komunikasi yang bisa diakses oleh peserta pelatihan maupun masyarakat luas.

Secara umum, program pelatihan ini diharapkan mampu mengubah cara berpikir dan kebiasaan petani dalam mengelola kebun, dari yang sebelumnya berdasarkan kebiasaan menjadi lebih mengandalkan pengetahuan dan keterampilan. Dengan demikian, peningkatan hasil produksi dan kesejahteraan petani dapat tercapai secara berkelanjutan.

TerPopuler