
PRESIDEN Prabowo Subianto menyatakan mengecam dengan tajam tindakan tidak manusiawi yang mengakibatkan tewasnya tiga anggota militerTentara Nasional Indonesiasaat menjalankan tugas untuk Pasukan Perdamaian PBB Sementara di Lebanon atau UNIFIL. Menurutnya, tindakan tersebut merusak perdamaian dunia.
Prabowo menyampaikan rasa belasungkawa negara terhadap kematian tiga anggota Satgas Yonmek Konga XXIII-S UNIFIL. "Bangsa Indonesia turut berduka atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam tugas mulia sebagai pasukan perdamaian PBB di Libanon," ujar Prabowo dalam pernyataan di unggahan Instagram pribadinya @prabowo, Sabtu, 4 April 2026.
Ia mengajak semua pihak untuk terus mempertahankan semangat menjaga perdamaian. "Dan tidak memberi ruang bagi siapa pun yang berusaha merusak persatuan serta kerukunan bangsa," kata Mantan Komandan Komando Pasukan Khusus ini.
Ia menyatakan bahwa negara akan berkomitmen untuk menghargai jasa para pahlawan. Termasuk, katanya, menjaga martabat para tentara dan memastikan pengorbanan yang diberikan oleh tentara militer tanah air tidak pernah terlupakan.
Tiga anggota TNI yang bertugas dalam misi PBB di Libanon meninggal dunia akibat serangan Israel pada akhir Maret dan awal April 2026. Selain itu, dalam beberapa kejadian, delapan personel pasukan perdamaian Indonesia mengalami luka-luka akibat tembakan artileri.
Tiga anggota TNI yang gugur dalam tugas perdamaian adalah Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon. Upacara pemakaman dan pelepasan terhadap tiga jenazah prajurit TNI telah dilaksanakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada hari Sabtu, 4 April 2026.
Presiden Prabowo Subianto beserta sejumlah menteri kabinet turut hadir dalam prosesi persemayaman tersebut. Pada acara tersebut, kepala negara memberi salam dan berdiskusi dengan keluarga korban yang hadir.
Setelah diarak, jenazah tiga anggota TNI tersebut dibawa kembali ke daerah masing-masing dengan pesawat milik TNI Angkatan Udara. Zulmi Aditya Iskandar dikirim ke Bandung, Jawa Barat, sementara Farizal Rhomadhon dan Muhammad Nur Ichwan dibawa ke Yogyakarta untuk dimakamkan dengan upacara militer.