Profil Nyak Sandang, Pemilik Pesawat Pertama RI yang Berusia 100 Tahun -->

Profil Nyak Sandang, Pemilik Pesawat Pertama RI yang Berusia 100 Tahun

9 Apr 2026, Kamis, April 09, 2026

bengkalispos.comBerikut adalah profil Nyak Sandang, pendonor pesawat pertama Republik Indonesia yang meninggal pada usia 100 tahun. Jejak hidupnya kini menjadi perhatian publik.

Tokoh masyarakat dan tokoh penting dalam perjuangan bangsa Indonesia, Teungku Nyak Sandang bin Lamudin, meninggal pada usia 100 tahun, Selasa (7/4/2026) pukul 12.20 WIB di rumahnya, Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya.

Profil Nyak Sandang

Nyak Sandang adalah Nyak Sandang, pengemban pesawat pertama RI yang meninggal pada usia 100 tahun. ini jejak sejarahnya.

Dikutip dari news.com, Nyak Sandang dikenal sebagai tokoh yang turut berkontribusi dengan harta pribadinya untuk membantu pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001, saat Presiden Soekarno memimpin. Pada tahun 1948, ketika berusia 23 tahun, ia menjual sebidang tanah serta emas seberat 10 gram, lalu memberikan uang senilai Rp100 kepada negara.

Masyarakat Aceh memberikan bantuan berupa sekitar 120.000 dolar Singapura dan sekitar 20 kilogram emas murni kepada Presiden Soekarno. Uang tersebut digunakan untuk membeli dua pesawat Dakota, yaitu Seulawah RI-001 dan RI-002, yang menjadi awal dari pembentukan Garuda Indonesia.

Pesawat Dakota RI-001 Seulawah merupakan simbol penting dalam sejarah awal penerbangan nasional Indonesia. Pesawat angkut tipe Dakota ini diperoleh dari hasil kerja sama masyarakat Aceh pada pertengahan 1948, ketika perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan masih berlangsung.

Pembelian pesawat dilakukan di Singapura dengan bantuan misi yang dipimpin oleh Wiweko Soepono. Setelah selesai, pesawat tiba di Indonesia pada bulan Oktober 1948 dan langsung dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis negara.

Meskipun memiliki nomor registrasi RI-001, pesawat ini bukan yang pertama dimiliki oleh Indonesia. Sebelumnya, pemerintah telah memiliki pesawat Avro Anson RI-003 sejak Desember 1947.

Namun, Dakota RI-001 Seulawah memiliki peran yang jauh lebih besar karena menjadi awal mula berdirinya maskapai penerbangan komersial pertama Indonesia, Indonesian Airways, yang selanjutnya berkembang menjadi dasar industri penerbangan nasional.

Secara teknis, pesawat Dakota DC-3 memiliki panjang sekitar 19,66 meter dan lebar sayap mencapai 28,96 meter. Pesawat ini dilengkapi dengan dua mesin Pratt & Whitney yang memiliki berat total sekitar 8.030 kilogram dan mampu mencapai kecepatan maksimum hingga 346 km/jam.

 

Riwayat pembelian pesawat ini tidak terlepas dari peran Presiden Soekarno yang mampu membangkitkan semangat rakyat Aceh ketika mengunjungi pada 16 Juni 1948. Dari gerakan tersebut terkumpul dana senilai 20 kilogram emas.

Pesawat selanjutnya diberi julukan “Seulawah” yang artinya Gunung Emas, sebagai lambang kekayaan dan pengorbanan masyarakat Aceh bagi bangsa Indonesia.

Kehadiran pesawat ini membuka jalur penerbangan yang penting, mulai dari rute Jawa–Sumatra hingga penerbangan internasional. Bahkan, Wakil Presiden Mohammad Hatta pernah menggunakan pesawat tersebut untuk melakukan perjalanan keliling Sumatra pada November 1948.

Namun, perjalanan pesawat ini juga menghadapi kendala, khususnya ketika terjadi Agresi Militer Belanda II. Pada masa itu, pesawat sedang berada di luar negeri dan tidak mampu kembali ke Indonesia.

Berdasarkan situasi tersebut, muncul ide untuk memanfaatkannya sebagai modal dalam mendirikan Indonesian Airways di Burma (sekarang Myanmar) pada tahun 1949.

Dengan berjalannya waktu, pesawat Dakota tidak lagi digunakan, namun perannya tetap diingat. Sebuah monumen Dakota RI-001 Seulawah didirikan di Lapangan Blang Padang dan diresmikan pada 30 Juli 1984 oleh L.B. Moerdani.

Di sisi lain, pesawat asli tersebut kini tersimpan di Taman Mini Indonesia Indah sebagai bagian dari warisan sejarah nasional. Dakota RI-001 Seulawah bukan hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi simbol nyata perjuangan rakyat Aceh dalam membangun kedaulatan udara Indonesia.

Penghargaan dan Warisan

Pengabdian Nyak Sandang mendapatkan apresiasi dari pemerintah. Presiden ke-7 RI Joko Widodo pernah memenuhi tiga permintaannya, yaitu operasi katarak, ibadah umrah, serta pembangunan Masjid Baitussalam di kampung halamannya yang diresmikan pada 26 Maret 2022. Selanjutnya, pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto memberikan penghargaan negara kepada Nyak Sandang melalui Keputusan Presiden RI Nomor 73-78/TK Tahun 2025.

Pesan untuk Generasi Muda

Pada perayaan HUT RI tahun 2019, Nyak Sandang menyampaikan pesan, “Semoga kemerdekaan ini bisa dipertahankan, dilanjutkan, serta diisi dengan sebaik-baiknya.” Kini, tokoh yang dikenal sebagai “pemilik pesawat pertama RI” tersebut telah meninggal dunia, namun jasa dan namanya akan selalu diingat setiap kali Garuda Indonesia terbang di langit Nusantara.

 

Diketahui, tokoh masyarakat Aceh Jaya tersebut meninggal dunia di rumahnya di Desa (Gampoeng) Lhuet, Kecamatan Jaya.

"Benar, Nyak Sandang (ayah) meninggal hari ini sekitar pukul 12.00 WIB," ujar Kepala Kecamatan Jaya, Syamsuddin Rani, dilansir dari Kompas.com.

Syamsuddin menyampaikan, masyarakat Aceh Jaya saat ini sedang berduka atas kehilangan tokoh masyarakat yang dikenal sebagai Nyak Sandang.

"Kami semua sedih atas kepergiannya," katanya.

Sementara itu, cucu Nyak Sandang, Ataillah menyampaikan bahwa sebelumnya almarhum tidak sedang mengalami penyakit parah, tetapi kondisinya semakin lemah akibat faktor usia.

"Kondisinya memang sudah menurun, tetapi bukan penyakit serius yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Usia beliau sudah mencapai sekitar 100 tahun," katanya singkat. (*)

TerPopuler