
JATENG.COM, SEMARANG - Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng, Dyah Lukisari menyampaikan, hidangan sayuran dan ikan menjadi yang paling banyak terbuang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"(Makanan yang terbuang dari menu MBG-Red) paling banyak berupa sayuran, kemudian ikan, tetapi ikan lebih tergantung pada selera," katanya saat dihubungi jateng.com, Rabu (15/4).
Selain itu, Dishanpan Jateng memiliki program pencegahan kehilangan dan pemborosan pangan (FLW), yaitu tindakan pencegahan terhadap kerugian pangan dan pemborosan pangan dari program MBG.
Potensi limbah makanan dari program MBG di tingkat nasional mencapai 1,4 juta ton per hari. Dyah menyampaikan bahwa potensi sampah makanan dari program MBG di Jawa Tengah masih dalam proses perhitungan.
"Kami masih melakukan pengumpulan data di SPPG di Jawa Tengah untuk memperoleh informasi FLW yang akurat," katanya.
Meski belum ada kepastian, Dyah menyatakan bahwa makanan berupa sayuran merupakan jenis makanan dalam MBG yang sering terbuang. Hal ini terjadi karena anak-anak tidak suka pada sayuran, terutama jika penyajiannya kurang menarik.
"Sayuran seperti wortel dan brokoli hanya dimasak dengan cara direbus. Anak-anak memang tidak terlalu tertarik untuk mengonsumsinya, sehingga menciptakan variasi olahan menjadi tugas tambahan bagi SPPG," katanya.
Sebagai upaya mengurangi jumlah sampah makanan dari sayuran, Dyah mendorong SPPG untuk menciptakan variasi dalam menu dan meningkatkan rasa hidangan sayuran.
Ia mengatakan, tantangan tersebut sebenarnya dapat diatasi oleh SPPG, karena dapur pengolahan menu MBG sudah dilengkapi dengan koki atau chef.
"Dapur SPPG perlu diperbaiki. Jika sebelumnya fokus pada aspek keamanan pangan agar tidak terjadi KLB (kejadian luar biasa, keracunan-Red), kini harus diperbaiki dalam hal kreativitas olahan untuk mengurangi risiko sampah makanan," katanya.
Langkah lain yang diambil oleh Dyah adalah berupaya mengajak berbagai pihak, salah satunya mahasiswa, untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya mengonsumsi sayuran kepada para pelajar yang menerima MBG.
"Kami akan memberikan edukasi kepada siswa agar menghabiskan makanan, khususnya sayuran. Jangan dibuang, karena itu sumber protein, dan jangan sampai menjadi sampah makanan," katanya.
Terpisah, Ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah, Messy Widiastuti mengatakan, limbah makanan yang muncul dari menu MBG terjadi karena kurangnya kreativitas SPPG dalam mengelola hidangan.
Ia mengharapkan SPPG harus kreatif dalam menyusun menu untuk anak-anak. Menu MBG juga harus habis karena menghabiskan dana hingga Rp 1 triliun per hari secara nasional. "Anak-anak itu kan susah makan, apalagi jika menunya tidak kreatif," jelasnya.
Anggota PDI Perjuangan Jawa Tengah mengatakan, menu MBG berisiko rusak dan tidak segar karena pengelolaannya dilakukan secara massal oleh SPPG. Sebenarnya, risiko tersebut dapat diminimalkan jika pengelolaan menu MBG dilakukan oleh sekolah.
Ia menganggap, pengelolaan MBG oleh sekolah akan lebih terkendali, karena jumlah siswanya hanya mencapai ratusan. Hal ini berbeda dengan SPPG yang harus menyediakan hingga ribuan porsi makanan.
Selain itu, Messy menyampaikan bahwa hidangan yang disajikan sekolah akan lebih sesuai dengan selera siswa, karena sekolah paham betul apa yang mereka sukai.
"MBG tidak hanya perlu dievaluasi, tetapi sistem dan pengelolaan harus diubah," tegasnya.(Iwan Arifianto)