Selat Sunda di Bawah Bayang-Bayang Kesultanan Banten: Sejarah yang Terus Berlanjut -->

Selat Sunda di Bawah Bayang-Bayang Kesultanan Banten: Sejarah yang Terus Berlanjut

5 Apr 2026, Minggu, April 05, 2026

bengkalispos.com.CO.ID,Selat Sunda bukan hanya merupakan jalur laut antara Jawa dan Sumatra. Ia merupakan ruang sejarah yang pernah melahirkan kekuatan maritim besar yang dikenal sebagai Kesultanan Banten. Pada abad ke-16 dan ke-17, melalui jalur ini terjadi aliran perdagangan global, dan dari tempat ini pula kekuasaan dibentuk. Namun kini, Selat Sunda justru berada dalam bayang-bayang masa lalunya sendiri, pernah strategis, tetapi kini tidak lagi menentukan.

Pada masa Kesultanan Banten, Selat Sunda menjadi pusat penting dalam jaringan perdagangan global. Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, alur perdagangan internasional terganggu. Pada situasi ini, Kesultanan Banten muncul sebagai pilihan yang strategis. Pelabuhan-pelabuhannya menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dari Timur Tengah, India, hingga Asia Timur. Dalam hal ini, Selat Sunda bukan hanya jalur lalu lintas, tetapi juga alat kekuasaan ekonomi dan politik.

Sejarawan Anthony Reid menulis bahwa kota-kota pelabuhan Asia Tenggara pada masa itu berperan sebagai "pusat perdagangan kosmopolitan yang terintegrasi dalam perdagangan globalKerajaan Banten merupakan contoh paling mencolok dari fenomena tersebut. Ia bukan hanya menjadi pelabuhan regional, tetapi juga bagian dari sistem perdagangan global yang sedang berkembang.

Namun, kejayaan tersebut tidak berlangsung lama. Ketika VOC muncul, perubahan mendasar terjadi. Banten tetap beroperasi dengan prinsip perdagangan terbuka, sedangkan VOC bekerja berdasarkan sistem global yang terpadu dan monopoli. VOC tidak hanya melakukan perdagangan, tetapi juga mengontrol distribusi, harga, serta arah perdagangan.

Kekuatan VOC terletak pada kemampuan mereka menguasai jalur-jalur penting perdagangan global. Setelah menguasai Jayakarta dari Kesultanan Banten dan mengganti namanya menjadi Batavia, VOC menjadikan kota tersebut sebagai pusat operasional, sehingga secara efektif mengontrol pergerakan antara Selat Sunda dan Selat Malaka. Dua rute ini merupakan pintu masuk utama yang menghubungkan Samudra Hindia dengan jaringan perdagangan Asia Timur. Sejarawan Leonard Blussé menyatakan bahwa kekuatan VOC di Asia tidak didasarkan pada penguasaan wilayah yang luas, melainkan pada pengendalian atas "node-node strategis perdagangan dan pelayaran."

Dengan menggabungkan kekuatan militer, monopoli perdagangan, dan inovasi keuangan, VOC menciptakan suatu sistem di mana kapal-kapal yang melintasi tidak hanya bergerak secara geografis, tetapi juga terlibat dalam struktur pengendalian ekonomi yang mereka bentuk. Hal ini menjadi ciri khas VOC dibandingkan dengan kekuatan lokal seperti Banten. VOC tidak hanya memanfaatkan Selat Sunda, tetapi menjadikannya bagian dari jaringan global yang mereka kuasai.

Seperti yang ditegaskan oleh Fernand Braudel dalam analisisnya mengenai ekonomi dunia, “siapa pun yang menguasai node-nodal sirkulasi menguasai ekonomi itu sendiri.Pernyataan ini secara akurat menggambarkan bagaimana VOC bukan hanya beroperasi sebagai pedagang, tetapi juga sebagai penguasa struktur peredaran global.

Selanjutnya, dalam kerangka sistem dunia, Immanuel Wallerstein menyatakan bahwa "sistem dunia modern diatur oleh inti yang menguasai produksi dengan laba tinggi, sementara wilayah pinggiran menyediakan bahan mentah." Dalam konteks ini, posisi Banten menjadi jelas: ia terjebak sebagai pemasok, sedangkan VOC menguasai proses akumulasi nilai. Inilah pelajaran yang sering tidak diperhatikan, yaitu penguasaan ruang tanpa penguasaan sistem hanyalah ilusi kekuasaan. Atau: Lebih lanjut, dalam kerangka sistem dunia, Immanuel Wallerstein menekankan bahwa "sistem dunia modern dibentuk oleh inti yang menguasai produksi berlabar tinggi, sementara daerah pinggiran menyuplai bahan baku." Dalam situasi ini, posisi Banten menjadi jelas: ia hanya bertindak sebagai pemasok, sementara VOC mengendalikan mekanisme akumulasi nilai. Di sinilah terletak pelajaran yang sering kali diabaikan, yakni penguasaan ruang tanpa penguasaan sistem adalah ilusi dari kekuasaan. Atau: Dalam kerangka sistem dunia, Immanuel Wallerstein menjelaskan bahwa "sistem dunia modern dibangun di sekitar inti yang menguasai produksi dengan keuntungan besar, sementara wilayah pinggiran menyediakan bahan mentah." Dari perspektif ini, posisi Banten menjadi jelas: ia hanya berperan sebagai pemasok, sedangkan VOC menguasai mekanisme akumulasi nilai. Inilah makna pelajaran yang sering kali diabaikan, yaitu penguasaan ruang tanpa penguasaan sistem hanyalah bayangan dari kekuasaan.

Dari Banten ke Indonesia: Pola Lama yang Terulang

Bukan sekadar peristiwa sejarah, kejadian yang menimpa Banten mencerminkan pola struktural yang sering muncul kembali dalam bentuk yang lebih modern. Indonesia saat ini masih memainkan peran penting dalam perdagangan internasional, tetapi sebagian besar berada di posisi sebagai pemasok bahan baku. Nikel, batu bara, dan kelapa sawit diekspor dalam jumlah besar, sementara keuntungan terbesar justru diraih oleh negara dan perusahaan asing.

Keadaan ini menggambarkan posisi pinggiran dalam sistem dunia: daerah yang menyediakan sumber daya, tetapi tidak memiliki kendali atas distribusi dan akumulasi nilai. Dalam konteks ini, Indonesia tidak jauh berbeda dengan Banten beberapa abad yang lalu.

Selat Sunda secara nyata menunjukkan paradoks tersebut. Ribuan kapal melewati jalur ini, namun Indonesia tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap arus perdagangan global yang melintasi wilayah tersebut. Tidak ada kendali atas tarif penting, tidak ada keunggulan dalam logistik internasional, dan tidak memiliki kemampuan untuk menjadikan jalur ini sebagai alat tawar dalam politik global.

Di sisi lain, kekuatan global modern, baik negara maupun perusahaan multinasional, berjalan dengan prinsip yang sangat mirip dengan VOC di masa lalu, di mana mereka menguasai sistem, bukan hanya wilayah. Mereka mengontrol rantai pasok, teknologi, pendanaan, dan pasar secara bersamaan.

Pertanyaan utama bagi Indonesia bukan lagi tentang apakah Selat Sunda memiliki nilai strategis, tetapi apakah Indonesia mampu memperkuat posisi strategisnya secara nyata. Tanpa adanya kebijakan yang sungguh-sungguh, Selat Sunda akan tetap berada pada posisi jalur cadangan yang hanya berguna dalam situasi krisis, bukan bagian dari sistem perdagangan global yang biasa.

Untuk mengubah situasi ini, Indonesia tidak cukup hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi perlu masuk lebih dalam dalam menguasai sistem: logistik global, industri hilir, teknologi maritim, serta struktur pembiayaan internasional. Tanpa hal tersebut, setiap kapal yang melewati Selat Sunda hanya akan memperkuat posisi Indonesia sebagai penonton di wilayah sendiri.

Dengan demikian, Selat Sunda bukan sekadar isu strategi laut, tetapi juga gambaran dari sejarah yang belum tuntas. Selama Indonesia belum mampu menguasai sistem yang mengatur jalur tersebut, maka Selat Sunda akan terus berada dalam pengaruh Banten, yang pernah menjadi titik penting, namun tidak pernah benar-benar merdeka.

TerPopuler