bengkalispos.com– Perilaku seseorang dalam memesan makanan di sebuah restoran dapat menggambarkan berbagai hal terkait kesadaran sosial dan etika yang dimilikinya.
Dari sudut pandang psikologis, kebiasaan yang mengganggu saat makan di luar biasanya tidak dilakukan secara sengaja, tetapi lebih merupakan hasil dari kurangnya kesadaran terhadap orang-orang di sekitar.
Etiket sederhana di sebuah restoran bukan hanya sekadar aturan formal, tetapi merupakan wujud nyata dari rasa hormat terhadap sesama manusia.
Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (27/5), berikut sepuluh kebiasaan yang paling sering membuat orang-orang di sekitar meja makan merasa tidak nyaman dan terganggu.
1. Tidak memperhatikan daftar menu sampai terpaksa
Saat pelayan meminta beberapa menit, itu merupakan tanda untuk segera membuka menu dan memilih pesanan, bukan melanjutkan percakapan.
Mengabaikan tanda-tanda sosial ini tidak hanya menyia-nyiakan waktu pelayan yang telah berusaha keras, tetapi juga menyebabkan teman se meja menunggu lebih lama.
Mengakhiri pesanan lebih cepat merupakan cara sederhana untuk menghargai waktu semua orang yang berada di meja makan.
2. Menunggu anak memesan sendiri tanpa batas waktu
Mengajarkan anak untuk memesan sendiri di restoran adalah praktik parenting yang baik dan mendukung perkembangan kemandirian mereka.
Namun, membiarkan proses tersebut berlangsung tanpa batas hingga menghabiskan waktu orang lain adalah hal yang perlu dipertimbangkan kembali.
Terkadang orang tua perlu mengambil langkah untuk membantu sehingga seluruh meja tidak terus-menerus merasakan ketidaknyamanan.
3. Mengaku siap melakukan pemesanan namun belum melakukannya
Memanggil pelayan ke meja seharusnya dilakukan hanya ketika kamu sudah benar-benar tahu apa yang ingin dipesan.
Mengizinkan pelayan berdiri sambil mendengarkan penjelasan yang panjang dan pertanyaan yang terus-menerus merupakan pemborosan waktu yang tidak perlu dilakukan.
Setiap orang berhak menikmati makan dengan tenang, tetapi terdapat batasan antara menikmati saat-saat tersebut dan tidak memperhatikan orang sekitar.
4. Mengajukan permintaan yang sama kepada beberapa pelayan yang berbeda
Jika kamu telah meminta sesuatu kepada seorang pelayan, meminta orang lain untuk hal yang sama hanya akan menyebabkan kebingungan yang tidak diperlukan.
Pelayan tidak mampu berkomunikasi dengan cara telepati, dan tindakan ini secara tidak langsung menyia-nyiakan waktu dari dua orang sekaligus.
Derajat rasa tidak nyaman semakin meningkat ketika permintaan tersebut disertai dengan isyarat jari atau teriakan dari kejauhan agar mendapatkan perhatian yang lebih cepat.
5. Memesan secara terburu-buru kemudian menyalahkan orang lain
Mengunjungi restoran di waktu yang tidak sesuai dan berharap layanan yang sangat cepat adalah harapan yang tidak masuk akal.
Memesan steak matang sempurna lalu kecewa karena tidak selesai dalam sepuluh menit, hanya menunjukkan ketidaktahuan mengenai proses memasak.
Psikolog Reena B. Patel menemukan bahwa memanfaatkan tenaga kerja layanan sebagai tempat menyalurkan frustrasi merupakan kebiasaan yang merusak pengalaman bagi semua pihak.
6. Tidak memandang mata pelayan saat berinteraksi
Mengangkat kepala atau terus memandang layar saat pelayan datang bisa mengirimkan pesan bahwa kamu tidak memperhatikan mereka.
Penelitian yang diterbitkan oleh Frontiers in Psychology mengungkapkan bahwa kontak mata bukan hanya bentuk penghormatan dasar, tetapi juga berperan dalam mempertahankan perilaku sosial agar tetap sesuai batas yang wajar.
Mengakui kehadiran seorang pelayan dengan pandangan dan senyuman yang sederhana merupakan dasar terendah dari kesopanan yang bisa dilakukan oleh siapa saja.
7. Mengedipkan jari untuk memanggil pelayan
Mengedipkan jari ke arah seseorang di mana pun merupakan tindakan yang secara sosial dianggap merendahkan martabat orang tersebut.
Di lingkungan restoran, tindakan ini segera menimbulkan kesan bahwa pelayan tidak dianggap sebagai manusia yang sama derajatnya dan pantas dihormati.
Cukup dengan mengangkat tangan atau menunggu sejenak hingga pelayan memperhatikan, karena hal itu sudah cukup untuk mendapatkan perhatian mereka.
8. Menginginkan terlalu banyak perubahan pada daftar menu
Terkadang meminta penyesuaian makanan karena alergi atau kebutuhan diet tertentu adalah sesuatu yang sangat wajar dan dapat diterima.
Namun, mengganti hampir semua komponen dalam sebuah hidangan justru memberatkan dapur dan menunjukkan ketidakmenghargai usaha para koki.
Di restoran mewah khususnya, mengubah banyak hal dari menu yang telah dipilih dengan hati-hati dapat dianggap sebagai bentuk ketidak hormatan.
9. Kesal karena tidak menyukai makanan yang dipesan sendiri
Jika kamu memesan sesuatu yang ternyata tidak sesuai dengan selera kamu, hal itu merupakan akibat dari keputusanmu sendiri, bukan kesalahan dari restoran tersebut.
Kondisinya berbeda apabila makanan datang dalam keadaan buruk akibat kesalahan dari dapur, namun ketidaksesuaian selera bukanlah alasan untuk mengeluh secara berlebihan.
Membuat seluruh pengalaman makan di luar sebagai ajang untuk menyampaikan kekecewaan pribadi hanya mengakibatkan ketidaknyamanan bagi semua orang yang duduk di meja tersebut.
10. Mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah tersedia dalam menu
Menanyakan hal-hal yang sudah tertera dengan jelas pada menu, seperti pilihan lauk atau pelengkap hidangan, merupakan kebiasaan yang mudah untuk dihindari.
Membuang satu menit untuk memperhatikan menu dengan cermat dapat menghemat waktu bagi semua orang yang duduk di meja yang sama.
Hubungan dengan pelayan akan menjadi lebih berarti jika digunakan untuk hal-hal yang benar-benar memerlukan penjelasan tambahan, bukan hanya sekadar informasi yang tercantum di menu.
***