bengkalispos.com– Meningkatkan efisiensi kerja ternyata tidak terletak pada menambah lebih banyak kegiatan rutin, tetapi justru pada menghilangkan kebiasaan yang malah mengurangi konsentrasi.
Psikologi menunjukkan bahwa sebagian besar hambatan dalam bekerja tidak datang dari luar, tetapi berasal dari pola perilaku yang tidak kita sadari sehari-hari.
Kemampuan sejati hanya dapat dicapai apabila seseorang berani mengenali dan meninggalkan kebiasaan yang selama ini mengurangi potensi terbaiknya.
Banyak orang terus-menerus mencari pendekatan yang baru, tanpa menyadari bahwa yang sebenarnya diperlukan adalah berhenti melakukan beberapa hal yang biasa dilakukan.
Dilansir dari laman YourTangopada hari Sabtu (2/5), berikut empat kebiasaan kecil yang sangat merusak dan perlu segera dihentikan agar kemampuan kerja terbaikmu muncul secara alami.
1. Bekerja dengan pola yang berkelanjutan alih-alih sesi singkat
Mencoba menyelesaikan tugas besar dalam satu sesi yang panjang tanpa istirahat merupakan salah satu perangkap produktivitas yang paling sering tidak disadari.
Saat seseorang menghadapi banyak tugas yang harus dikerjakan secara bersamaan, otak cenderung merespons dengan perasaan kewalahan yang akhirnya menyebabkan penundaan.
Sebaliknya, sprint merupakan sesi kerja yang fokus dengan tenggat waktu tertentu yang dibuat untuk menyelesaikan satu pekerjaan khusus secara intensif.
Membagi enam jam kerja menjadi beberapa sprint yang berlangsung empat puluh lima menit, misalnya, memberikan kejelasan mengenai tugas yang harus dikerjakan dan waktu pelaksanaannya.
Keterangannya mengurangi hambatan pikiran saat memulai dan membantu seseorang tetap fokus tanpa terjebak dalam prioritas yang salah.
Sprint juga memberikan rasa pencapaian yang lebih sering, yang secara psikologis memperkuat semangat untuk terus bekerja dengan penuh energi.
Penghargaan positif setelah setiap sprint selesai, meskipun bentuknya kecil, jauh lebih efektif dibandingkan mencoba menahan rasa puas selama berjam-jam.
Kemampuan sprint juga memungkinkan seseorang beralih ke pekerjaan lain ketika menghadapi hambatan, memberi otak kesempatan untuk menyelesaikan masalah secara tidak sadar.
2. Berusaha bertahan menghadapi gangguan daripada menghilangkannya
Banyak orang menganggap bahwa kunci keefektifan adalah belajar mengatur gangguan dengan lebih baik, padahal pendekatan ini justru menjadi salah satu penyebab masalahnya.
Dengan berusaha menghadapi gangguan, seseorang secara tidak sadar mengakui keberadaan hambatan tersebut sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari.
Tidak ada seseorang pun yang memiliki keinginan yang cukup kuat untuk terus-menerus menentang berbagai gangguan yang muncul dalam kehidupan modern.
Solusi paling efisien adalah menghentikan sumber gangguan secara langsung dari akarnya, bukan hanya berusaha mengendalikan diri di tengah kehadirannya.
Mematikan ponsel dan menyimpannya di laci saat mengerjakan tugas krusial lebih efisien dibanding hanya menonaktifkan notifikasi.
Menghilangkan ikon browser untuk situs hiburan, menghapus aplikasi media sosial dari ponsel, serta memastikan lingkungan kerja yang tidak terganggu merupakan tindakan nyata yang dapat segera diambil.
Gangguan yang sepenuhnya dihilangkan melepaskan kemampuan kognitif yang sebelumnya digunakan untuk mengatasi godaan dan mengembalikan perhatian yang sempat terganggu.
L lingkungan kerja yang tidak terganggu bukanlah kemewahan, tetapi keharusan wajib bagi siapa saja yang ingin bekerja dengan maksimal.
3. Memanfaatkan kritik diri dan rasa takut sebagai dorongan semangat
Banyak orang menganggap bahwa bersikap tegas terhadap diri sendiri merupakan cara yang penting untuk tetap berdisiplin dan menghindari kebiasaan malas.
Keyakinan ini menghasilkan kebiasaan menyampaikan ucapan negatif terhadap diri sendiri, yaitu pola pikir yang tidak sejajar dengan kenyataan dan jauh lebih keras daripada yang sebenarnya.
Kalimat-kalimat seperti "aku tidak akan pernah mampu melakukan ini" atau "aku memang tidak cukup layak" merupakan contoh nyata dari pikiran negatif yang merusak diri sendiri.
Keyakinan bahwa seseorang berhasil karena ucapan negatif mereka sendiri adalah anggapan yang salah, karena pada kenyataannya mereka berhasil meskipun terhalang oleh kebiasaan tersebut, bukan karena adanya hal itu.
Energi yang digunakan untuk mengkritik diri sendiri sebenarnya dapat dialihkan untuk melakukan hal-hal baru yang lebih berarti.
Studi menemukan bahwa suasana hati yang lebih positif dan tingkat tekanan yang lebih rendah secara konsisten berdampak pada peningkatan efisiensi kerja.
Saat seseorang berhenti menghukum diri sendiri secara batin, mereka tidak menjadi malas, justru sebaliknya, seringkali menjadi lebih efisien.
Penerimaan diri yang sehat tidak berarti menurunkan kualitas, tetapi menciptakan suasana mental yang paling mendukung untuk bekerja dengan kemampuan terbaik.
4. Melakukan tugas orang lain daripada pekerjaan yang benar-benar berarti bagi diri sendiri
Segala strategi efisiensi di dunia ini tidak akan cukup jika seseorang menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang tidak benar-benar penting baginya.
Motivasi luaran seperti takut dipecat atau menginginkan promosi jabatan hanya mampu menggerakkan seseorang dalam jangka waktu yang terbatas.
Hanya motivasi internal yang mampu menciptakan produktivitas nyata dalam jangka panjang, yang berasal dari rasa cinta terhadap pekerjaan itu sendiri.
Hanya ketika seseorang melakukan sesuatu yang benar-benar berarti baginya, ia mampu hadir sepenuhnya dan bekerja mendekati kemampuan terbaiknya.
Tidak ada metode, disiplin, atau pernyataan positif yang mampu menggantikan ketidakterlibatan mendalam yang timbul dari pekerjaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai paling dalam seseorang.
Artinya, terkadang diperlukan tindakan penting yang tidak menyenangkan, misalnya meminta perubahan posisi, meninggalkan pekerjaan, atau mengganti metode serta lingkungan kerja.
Ketangguhan dalam memilih melakukan hal-hal yang benar-benar penting merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar bagi siapa pun yang ingin mencapai tingkat produktivitas tertinggi.
Tanpa keberanian tersebut, semua usaha peningkatan produktivitas hanya akan berjalan di permukaan tanpa pernah menyentuh potensi terdalam yang sebenarnya dimiliki.