AS-Iran Beradu di Hormuz, Harga Minyak Tembus 101 Dolar, Perang Kembali Memanas? -->

AS-Iran Beradu di Hormuz, Harga Minyak Tembus 101 Dolar, Perang Kembali Memanas?

8 Mei 2026, Jumat, Mei 08, 2026
AS-Iran Beradu di Hormuz, Harga Minyak Tembus 101 Dolar, Perang Kembali Memanas?
Ringkasan Berita:
  • Harga minyak global kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran saling melepaskan serangan di Selat Hormuz.
  • Harga minyak Brent sempat mencapai US$103 per barel karena khawatir gencatan senjata antara dua negara hampir berakhir.
  • Pasaran mengharapkan konflik telah menurunkan produksi minyak global sebesar 14,5 juta barel per hari.

NEWS.COM - Kekakuan terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz kembali mengganggu pasar energi global.

Harga minyak mentah meningkat tajam setelah kedua negara saling menyerang di jalur laut yang paling kritis bagi perdagangan energi global.

Al Jazeeramelaporkan harga minyak mentah Brent sempat meningkat sebesar 7,5 persen dalam perdagangan hari Kamis, namun akhirnya sedikit turun saat pasar Asia dibuka pada pagi hari Jumat.

Harga minyak Brent mencapai posisi 101,12 dolar AS per barel setelah sebelumnya menembus rekor harian sebesar 103,70 dolar AS.

Sementara itu, CNBC melaporkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mengalami kenaikan menjadi sekitar 95,64 dolar AS per barel.

Peningkatan harga terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Teheran bisa pecah kapan saja.

Pertikaian Terbaru Meletus di Selat Hormuz

Selat Hormuz adalah jalur laut penting yang berperan sebagai jalan utama pengiriman minyak dan gas global.

Lebih dari 20% pasokan minyak dan gas alam dunia biasanya melintasi wilayah tersebut setiap hari.

Menurut laporan Al Jazeera, bentrokan terbaru meletus setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menuduh Iran menyerang tiga kapal perusak rudal berpemandu milik Angkatan Laut AS dengan menggunakan rudal,drone, dan kapal kecil.

Tentara Amerika kemudian melakukan serangan balasan yang mereka namakan sebagai tindakan perlindungan diri.

Di sisi lain, Iran justru mengklaim Amerika Serikat melanggar perjanjian damai.

Kantor Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengklaim pasukan Amerika Serikat menyerang kapal tanker minyak Iran beserta sejumlah kapal lainnya di dekat Selat Hormuz.

Iran juga mengklaim Amerika Serikat menargetkan area penduduk sipil, termasuk kawasan Pulau Qeshm.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berusaha menenangkan kekhawatiran pasar dengan menyatakan bahwa gencatan senjata masih berlaku.

Namun, pernyataannya diikuti dengan ancaman terbaru terhadap Teheran.

"Diskusi berjalan sangat baik, tetapi mereka harus memahami bahwa jika perjanjian tersebut tidak ditandatangani, mereka akan menghadapi banyak kesulitan," ujar Trump kepada para jurnalis.

Trump bahkan menyebut serangan terbaru terhadap Iran sebagai "sentuhan kasih sayang".

Pasar Khawatir Jalur Energi Dunia Lumpuh

Ketegangan di Selat Hormuz langsung menimbulkan kekhawatiran besar di pasar internasional.

BBC melaporkan kegiatan pengiriman di selat tersebut hampir mandek sejak akhir Februari karena ancaman serangan terhadap kapal tanker minyak.

Para pedagang kini melihat perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran sebagai sesuatu yang sangat tidak stabil.

Dosen madya Universitas James Cook Australia, Jiajia Yang, menyatakan pasar khawatir dengan tindakan militer lanjutan yang dapat mengganggu pasokan energi global.

"Kekhawatiran terbesar pasar adalah gangguan pengiriman energi global melalui Selat Hormuz," katanya sebagaimana dilaporkan BBC.

Ahli ekonomi dari Universitas Nasional Singapura, Huifeng Chang, menyatakan bahwa pasar merespons dengan sangat rentan karena para investor melihat risiko konflik masih sangat besar.

Menurutnya, ketidakpastian dalam pembicaraan perdamaian menyebabkan harga minyak mengalami perubahan yang sangat besar.

"Para pedagang menganggap gencatan senjata ini sangat tidak stabil," kata Chang.

Al Jazeera melaporkan harga minyak saat ini telah meningkat sekitar 40 persen dibandingkan dengan tingkat sebelum perang dimulai.

Pasaran mengharapkan konflik telah menurunkan produksi minyak global sebesar 14,5 juta barel per hari.

Bursa Saham Asia Mengalami Ketidakstabilan

Peningkatan harga minyak juga menyebabkan tekanan signifikan di pasar saham Asia.

Al Jazeera melaporkan bahwa indeks Nikkei 225 Jepang, KOSPI Korea Selatan, dan Hang Seng Hong Kong masing-masing mengalami penurunan lebih dari 1 persen dalam perdagangan pagi hari Jumat.

Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 turun sekitar 0,4 persen setelah sebelumnya mencatatkan rekor tertinggi yang baru.

Para investor khawatir perang yang kembali memanas dapat memperparah inflasi dunia serta menaikkan biaya energi di berbagai negara.

Keadaan ini dikhawatirkan akan menghambat pemulihan ekonomi global yang masih lemah pasca-pandemi dan krisis geopolitik dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, kenaikan harga energi berpotensi menaikkan harga bahan bakar, biaya pengangkutan, hingga harga makanan di berbagai negara.

Negosiasi Damai Masih Berlangsung

Meskipun kondisi semakin memburuk, Amerika Serikat dan Iran diketahui tetap menjalani negosiasi perdamaian.

BBC melaporkan bahwa Iran saat ini sedang mengevaluasi proposal terbaru dari Washington mengenai upaya mengakhiri konflik.

Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan masih mungkin tercapai dalam waktu dekat.

"Saya percaya mereka lebih menginginkan perjanjian tersebut daripada saya," ujar Trump.

Namun, di lapangan, kondisi tetap penuh dengan ketegangan.

Tentara Iran menyatakan pasukannya telah menyebabkan "kerusakan besar" terhadap kapal-kapal militer Amerika Serikat.

Sebaliknya, militer Amerika Serikat menyangkal bahwa kapal mereka mengalami serangan.

CENTCOM juga menyatakan bahwa mereka tidak ingin memperparah konflik lebih lanjut.

Lembaga media pemerintah Iran kemudian mengabarkan bahwa keadaan di Selat Hormuz telah kembali "normal".

Namun, pasar global terlihat masih belum sepenuhnya yakin bahwa situasi benar-benar aman.

Bahaya Harga Minyak Masih Tinggi

CNBC melaporkan bahwa sejumlah pakar memprediksi harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Lembaga riset ANZ Investment menganggap bahwa risiko kegagalan perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran dapat menyebabkan ketidakstabilan di pasar energi.

"Kemungkinan kegagalan kesepakatan damai dapat membuat pasar minyak tetap tidak stabil," tulis ANZ dalam laporannya.

Di sisi lain, para analis dari Citi memprediksi bahwa pasar keuangan global akan perlahan kembali stabil, namun proses menuju normalisasi diperkirakan akan menghadapi berbagai tantangan.

Kekhawatiran utama para investor saat ini masih berfokus pada Selat Hormuz.

Jika konflik kembali membesar dan jalur tersebut benar-benar terganggu, dunia berisiko menghadapi krisis energi yang baru dengan dampak yang sangat luas secara global.

(news.com/Andari Wulan Nugrahani)

TerPopuler