
bengkalispos.com.CO.ID - JAKARTA.Harga tahu dan tempe di pasar lokal masih mahal meskipun harga kedelai global tergolong rendah.
Keadaan ini menimbulkan dugaan adanya masalah serius dalam sistem impor kedelai nasional, mulai dari lemahnya penyebaran harga hingga kemungkinan keuntungan besar di tingkat importir.
Lembaga riset NEXT Indonesia Center menganggap kenaikan harga di dalam negeri tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor global.
Kepala Peneliti NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menyatakan perbedaan harga kedelai internasional dengan harga jual di pasar lokal terlalu besar untuk hanya dijelaskan melalui biaya distribusi dan logistik.
"Ketimpangan ini menunjukkan adanya isu besar dalam penyebaran harga dari global ke lokal," kata Ade Holis kepada wartawan, Minggu (10/5/2026).
Berdasarkan data dari NEXT Indonesia Center, harga kedelai impor di pasar ritel lokal selama bulan Februari 2024 hingga Februari 2026 berkisar antara Rp13.300 hingga Rp15.100 per kilogram.
Sementara harga patokan di pasar global hanya sekitar Rp6.000-Rp8.100 per kilogram.
Artinya, perbedaan harga mencapai Rp5.600 hingga Rp8.500 per kilogram. Menurut Ade, perbedaan ini terjadi dalam jangka panjang dan menunjukkan sistem distribusi kedelai nasional yang dianggap tidak efisien serta kurangnya kejelasan.
Studi NEXT Indonesia Center juga memprediksi bahwa para importir mendapatkan margin yang sangat tinggi. Pada tahun 2025, rata-rata harga kedelai global diperkirakan sekitar Rp6.800 per kilogram, sementara harga eceran di dalam negeri mencapai Rp13.900 per kilogram.
Dengan perbedaan harga sebesar Rp7.100 per kilogram dan asumsi biaya pengiriman, asuransi, serta risiko sekitar 30%, para importir diperkirakan masih memiliki margin perkiraan sekitar Rp5.060 per kilogram.
Berdasarkan volume impor kedelai Indonesia pada tahun 2025 yang mencapai 2,56 juta ton, diperkirakan keuntungan yang bisa diraih oleh para importir mencapai Rp12,9 triliun per tahun.
Ade menganggap situasi ini disebabkan oleh struktur pasar yang tidak kompetitif. Akibatnya muncul fenomena transmisi harga yang tidak seimbang, yaitu harga dalam negeri tidak bergerak sesuai dengan harga internasional karena posisi tawar para importir terlalu kuat.
Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai dinilai sangat tinggi. Lebih dari 85% kebutuhan kedelai nasional berasal dari luar negeri, dengan Amerika Serikat menjadi pasokan utama.
Pada masa 2016 hingga 2025, kontribusi impor kedelai dari Amerika Serikat mencapai 91,12% dari total impor nasional. Jumlah pasokan dari negara tersebut terus berada di atas 2 juta ton setiap tahunnya.
Ketergantungan terhadap impor yang didasarkan pada dolar AS juga menyebabkan harga kedelai dalam negeri rentan terhadap penurunan nilai rupiah. Kondisi ini dianggap semakin memberatkan para pengrajin tahu dan tempe.
"Meskipun harganya sangat tinggi, masyarakat tetap harus membeli tahu dan tempe," ujar Ade.
NEXT Indonesia Center mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk melakukan perubahan menyeluruh dalam sistem perdagangan kedelai. Lembaga ini berpendapat bahwa akses impor harus diperluas agar pasar tidak hanya dikuasai oleh sejumlah kecil pelaku bisnis.
Selain itu, pengawasan harga lokal dan perbaikan rantai pasok dianggap penting dilakukan agar harga pangan yang menggunakan bahan dasar kedelai lebih stabil serta dapat diakses oleh masyarakat.