Harga minyak dan rupiah melemah bisa tingkatkan defisit APBN Rp 200 triliun -->

Harga minyak dan rupiah melemah bisa tingkatkan defisit APBN Rp 200 triliun

12 Mei 2026, Selasa, Mei 12, 2026

bengkalispos.com.CO.ID-JAKARTA.Peningkatan harga minyak global dan melemahnya nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian dunia berpotensi memperbesar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan, tekanan terhadap kebijakan fiskal pemerintah bisa bertambah jika konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah berlangsung terus-menerus dan menyebabkan harga energi tetap tinggi dalam jangka panjang.

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah tidak hanya memengaruhi biaya impor energi, tetapi juga memberikan tekanan terhadap subsidi energi, inflasi, biaya pengangkutan, hingga anggaran pemerintah.

"Masalah energi ini tidak boleh hanya dianggap sebagai isu komoditas, tetapi harus dilihat sebagai risiko makro yang dapat memengaruhi APBN, rupiah, dan kemampuan belanja masyarakat," kata Josua dalam acara Media Briefing, Selasa (12/5/2026).

Josua menyampaikan bahwa harga minyak mentah Brent saat ini masih berada pada posisi tinggi dan bahkan pernah mendekati rata-rata sebesar US$ 86 per barel sejak awal tahun.

Nomor tersebut jauh melebihi perkiraanIndonesian Crude Price(Harga Minyak Mentah) dalam APBN yang ditetapkan sekitar US$ 70 per barel.

Ia mengingatkan, skenario terburuk dapat terjadi jika konflik regional di Timur Tengah semakin membesar dan menyebabkan harga minyak melebihi US$ 130 per barel.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan Permata Institute for Economic Research (PIER), pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp 17.400 per dolar AS serta harga minyak mentah sekitar US$ 100 per barel berisiko meningkatkan defisit anggaran lebih dari Rp 200 triliun.

Di sisi lain, Josua menganggap pemerintah masih memiliki cadangan keuangan berupa surplus anggaran (SAL). Namun, ia menekankan perlunya menentukan skala prioritas pengeluaran negara agar APBN tetap dapat dipercaya oleh para investor.

"Terutama tadi bagaimana agar spending ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang produktif untuk mendorong pertumbuhan dalam jangka menengah, tetapi juga bagaimana memastikan bahwa produktivitas benar-benar terlihat nyata," katanya.

TerPopuler