
NEWS.COM- Pasukan Iran dilaporkan menyerang kapal perang dan kapal niaga milik Amerika Serikat (AS).
Hal ini disampaikan oleh Komandan United States Central Command atau Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper.
Laksamana Brad Cooper memberikan arahan kepada sejumlah anggota media Amerika Serikat melalui konferensi video mengenai perkembangan terkini di Selat Hormuz.
Cooper mengatakan bahwa Iran telah menyerang beberapa kapal perang Amerika Serikat serta kapal-kapal niaga yang mendampinginya yang sedang berlayar di Selat Hormuz.
Cooper menyebutkan bahwa Iran telah melakukan berbagai serangan rudal jarak jauh, serangan pesawat tanpa awak, dan kapal laut terhadap kapal-kapal yang dijaga oleh militer Amerika Serikat.
Namun, Cooper menyatakan bahwa ancaman Iran tersebut telah berhasil dikurangi.
Komandan CENTCOM mengungkapkan bahwa sebagai respons terhadap serangan Iran, pasukan Amerika Serikat menyerang dan menghancurkan enam kapal milik Iran yang menargetkan kapal-kapal niaga.
IRIB: Tentara Amerika Serikat Terlibat dalam Serangan terhadap Fasilitas Minyak Uni Emir Arab
Konflik di Timur Tengah terus mengalami peningkatan ketegangan.
Presenter nasional Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), melaporkan berdasarkan sumber militer bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) bertanggung jawab atas kebakaran di instalasi minyak di Uni Emirat Arab (UEA).
Kejadian itu dilaporkan dilakukan guna membuka rute pelayaran melalui Selat Hormuz.
Sumber yang tidak diungkap identitasnya membantah keterlibatan Iran dan menyatakan bahwa kejadian tersebut merupakan bagian dari operasi militer Amerika Serikat.
Ia juga menyebut bahwa Washington perlu dimintai pertanggungjawaban, bukan Teheran.
Iran tidak memiliki rencana untuk menyerang fasilitas minyak (di Uni Emirat Arab). Yang terjadi merupakan akibat dari tindakan militer AS yang bertujuan membuka jalan bagi kapal melewati Selat Hormuz.
"Ini adalah militer Amerika Serikat yang harus menanggung akibat dari apa yang terjadi," ujar sumber tersebut, merujuk pada Al Mayadeen, Selasa (5/5/2026).
UEA Tuding Iran
Sebelumnya pada hari yang sama, otoritas Uni Emirat Arab justru menghubungkan serangan terhadap Kawasan Industri Minyak Fujairah dengan Iran.
Mereka menyebut kejadian tersebut sebagai "pembangkitan yang berbahaya" dan menyatakan memiliki hak untuk merespons.
Di sisi lain, lembaga berita Tasnim News Agency melaporkan peringatan tajam dari sumber militer Iran.
Dikatakan bahwa jika Uni Emirat Arab mengambil keputusan yang tidak cerdas, maka seluruh kepentingannya bisa menjadi sasaran.
Sumber dari Iran tersebut juga mengingatkan bahwa jika Uni Emirat Arab menjadi alat atau pendukung Israel dan sampai terjadi kesalahan perhitungan, maka negara tersebut akan mendapatkan pelajaran yang tak akan pernah dilupakan.
Sumber juga menyebutkan bahwa Uni Emirat Arab saat ini berada dalam 'rumah kaca yang rapuh', yang berarti sangat rentan terhadap ancaman keamanan.
Selanjutnya, sumber tersebut menyebutkan bahwa jika Uni Emirat Arab mengulangi kesalahan yang sama dalam perang 40 hari sebelumnya, Iran akan menghentikan seluruh bentuk pembatasan dan menganggap negara tersebut sebagai bagian dari entitas Israel.
Eskalasi Konflik di Laut
Sementara itu, peningkatan ketegangan juga terjadi di laut.
Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya (UKMTO) melaporkan tiga kejadian laut yang berbeda di perairan Uni Emirat Arab pada hari Senin (4 Mei 2026).
Salah satu kejadian melibatkan kapal tanker minyak MV Barakah yang dikelola oleh ADNOC Logistics and Services, yang terkena proyektil sekitar 78 mil laut utara Fujairah.
Seluruh kru kapal dilaporkan dalam keadaan selamat.
Selain itu, kebakaran terjadi di ruang mesin kapal kargo sekitar 36 mil laut utara Dubai, serta peristiwa kebakaran kapal ketiga sekitar 14 mil laut di barat Pelabuhan Saqr.
Namun, tidak ada kerusakan lingkungan yang dilaporkan terkait ketiga kejadian tersebut.
(news.com/Garudea Prabawati)