bengkalispos.comBeberapa orang sudah terbiasa menangis sejak kecil tanpa merasa bersalah. Namun ada pula yang setiap kali air mata mengalir, langsung merasa malu, lalu secara spontan berkata, "maaf..."—seolah-olah menangis adalah kesalahan.
Dalam psikologi perkembangan, kebiasaan ini biasanya tidak muncul secara spontan. Ia umumnya dibentuk melalui pengalaman berulang pada masa kanak-kanak dan remaja yang menentukan cara seseorang memandang perasaan, khususnya perasaan yang dianggap "lemah" seperti rasa sedih.
Jika kamu pernah meminta maaf karena menangis, itu tidak berarti kamu "terlalu emosional" atau "lemah". Mungkin saja ada pengalaman psikologis tertentu yang pernah kamu alami sejak kecil.
Dikutip dari Expert Editor, terdapat 7 kemungkinan yang sering dijelaskan dari sudut pandang psikologi.
1. Pernahkah kamu diajarkan bahwa menangis itu "terlalu berlebihan"
Di banyak keluarga atau lingkungan, terdapat pesan yang disampaikan secara tidak langsung seperti:
“Jangan cengeng.”
Menangis terus, seperti anak kecil.
“Gitu aja nangis?”
Pesan semacam ini mengajarkan anak bahwa menangis bukanlah respons yang diterima. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai pengabaian emosional (emosi tidak diakui).
Akibatnya, saat dewasa:
Kamu merasa wajib meminta maaf saat menangis
Kamu merasa emosimu "terlalu berlebihan"
Kamu mengendalikan diri meskipun sedang merasa sangat sedih
2. Kamu Berkembang di Lingkungan yang Kurang Menyediakan Ruang untuk Emosi
Beberapa orang berkembang di lingkungan yang berfokus pada:
logika
prestasi
ketahanan mental
Bukan pada ekspresi emosi.
Dalam bidang psikologi perkembangan, hal ini dapat membentuk kebiasaan menahan perasaan—yaitu kecenderungan untuk menekan emosi.
Hasilnya:
menangis terasa seperti “gangguan”
kamu merasa perlu segera kembali "normal" lagi
merasa bersalah setelah menunjukkan rasa sedih
3. Kamu Pernah Merasa Menjadi “Beban” Saat Sedih
Jika dahulu setiap kamu menangis:
orang tua kesal
orang sekitar tidak nyaman
atau kamu diminta “berhenti”
otakmu bisa mengasosiasikan emosi dengan “mengganggu orang lain”.
Dalam psikologi sosial, ini berkaitan dengan fear of burdening others (takut membebani orang lain).
Makanya saat dewasa:
kamu meminta maaf sambil menangis
kamu lebih suka diam saat sedih
kamu menyembunyikan perasaan agar orang lain merasa nyaman
4. Kamu mempelajari bahwa perasaan perlu dikendalikan, bukan dirasakan
Ada perbedaan besar antara:
mengatur emosi (healthy regulation)
menekan emosi (suppression)
Orang yang sering meminta maaf karena menangis biasanya lebih dekat dengan pola kedua.
Dalam jangka waktu yang lama, hal ini dapat menyebabkan:
kamu kesulitan mengidentifikasi perasaanmu sendiri
kamu merasa “tidak boleh” terlihat rapuh
kamu lebih nyaman menghadapi segalanya secara logis, bukan secara emosional
5. Pernahkah kamu menerima tanggapan yang negatif saat menangis
Pengalaman kecil yang sering terjadi seperti:
ditertawakan saat menangis
diabaikan
dibandingkan dengan orang lain yang "lebih unggul"
dapat menciptakan kondisi malu terhadap perasaan (pengondisian rasa malu emosional).
Hasilnya:
menangis = rasa malu
kamu merasa perlu meminta maaf agar "dimaafkan karena merasa"
6. Kamu Menghubungkan Kepribadianmu dengan "Kekuatan atau Ketidakkuatanmu"
Dalam berbagai budaya dan situasi, "kuat" sering dikaitkan dengan:
tidak menangis
tidak mengeluh
selalu tegar
Hal ini dapat menciptakan harga diri yang bersyarat—harga diri yang tergantung pada kinerja.
Akhirnya:
menangis terasa seperti kegagalan
kamu takut terlihat "tidak tangguh"
kamu meminta maaf karena merasa "turun dari standar"
7. Kamu sebenarnya sangat sensitif, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana mengelolanya.
Ini adalah hal yang sering diabaikan.
Banyak orang yang cepat menangis bukan berarti "lemah", tetapi:
sangat sensitif secara emosional
punya empati tinggi
mudah menangkap suasana sekitar
Di dalam psikologi, hal ini sering terkait dengan kepekaan emosional yang tinggi.
Kendalanya bukan di sisi perasaannya, tapi:
tidak diajarkan cara menyampaikan secara aman
tidak diberikan kesempatan untuk memahami perasaan
Akhirnya, satu-satunya hal yang terjadi adalah menangis—dan rasa bersalah turut menyertai.
Penutup: Menangis Bukan Sesuatu yang Perlu Minta Maaf
Menangis merupakan respons biologis dan psikologis yang wajar. Itu adalah cara tubuh:
meredakan tekanan
memproses emosi
memberikan tanda bahwa terdapat sesuatu yang penting menunjukkan adanya hal yang bernilai mengisyaratkan keberadaan sesuatu yang berarti menandakan bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan memberi petunjuk bahwa terdapat sesuatu yang signifikan menyampaikan isyarat bahwa ada hal yang penting mengindikasikan adanya sesuatu yang relevan memberi tanda bahwa ada sesuatu yang krusial menunjukkan adanya hal yang memerlukan perhatian mengirimkan sinyal bahwa terdapat sesuatu yang berharga