Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Jadi Peringatan bagi Indonesia -->

Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Jadi Peringatan bagi Indonesia

12 Mei 2026, Selasa, Mei 12, 2026
Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Jadi Peringatan bagi Indonesia

WARTA PONTIANAK- Kesadaran global terhadap kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius mengingatkan bahwa ancaman penyakit zoonosis masih ada dan bisa muncul kapan saja.

Menanggapi perkembangan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto mengajak pemerintah dan masyarakat untuk lebih waspada terhadap hantavirus, termasuk di Indonesia.

Peristiwa ini mendapat perhatian setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization mengawasi wabah hantavirus jenis Andes di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Tiga orang dilaporkan meninggal dan sejumlah lainnya dikategorikan sebagai kasus yang dicurigai.

Dua penduduk Singapura yang pernah berada di kapal tersebut dinyatakan negatif terhadap hantavirus setelah menjalani pemeriksaan dan karantina yang ketat. Meskipun demikian, WHO tetap melakukan penelusuran lintas batas negara karena Andes virus adalah satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui bisa menyebar dari manusia ke manusia.

"Peristiwa yang terjadi di kapal MV Hondius harus menjadi peringatan bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak berhubungan dengan Indonesia," ujar Edy.

Menurutnya, Indonesia memiliki risiko yang cukup tinggi karena kepadatan penduduk, urbanisasi yang pesat, masalah sanitasi lingkungan, serta jumlah populasi tikus yang besar di daerah permukiman.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dirujuk dari Detik Health, selama tiga tahun terakhir Indonesia melaporkan setidaknya 23 kasus hantavirus dengan jenis Seoul Virus yang menunjukkan gejala Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Sebanyak 20 pasien dinyatakan pulih, sementara tiga orang lainnya meninggal dengan riwayat kondisi medis seperti kanker hati dan gangguan multi organ.

"Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan hanya ancaman yang bersifat teori. Virus tersebut sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata. Masalahnya, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip dengan demam berdarah, tifus, atau leptospirosis," katanya.

Ia menjelaskan, terdapat perbedaan antara virus Andes dengan virus Seoul yang ditemukan di Indonesia. Virus Andes diketahui dapat menyebabkan Sindrom Paru-paru Hantavirus (HPS), yaitu infeksi berat yang menyerang paru-paru dan memicu kesulitan bernapas mendadak hingga kegagalan pernapasan.

Virus ini juga memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dan menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui hingga saat ini mampu menular dari manusia ke manusia.

Secara umum, hantavirus adalah penyakit zoonosis yang menyebar dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus sebagai sumber utama infeksi. Penularan bisa terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung partikel dari urine, kotoran, atau air liur tikus.

"Masih banyak warga yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau wilayah yang penuh kotoran tikus tanpa menggunakan alat pelindung. Hal ini perlu diberikan edukasi secara lebih serius," katanya.

Edy menganggap hantavirus sebagai ancaman yang sering terlewat karena tidak selalu memicu wabah. Padahal, beberapa jenis hantavirus memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi, khususnya virus Andes yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan parah.

"Justru karena sifatnya sebagai ancaman diam, kita tidak boleh meremehkannya. Dunia telah belajar dari wabah bahwa bahaya kesehatan sering muncul dari hal-hal yang awalnya dianggap remeh," kata seorang politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.

WHO telah memperingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan terkait wabah di kapal MV Hondius, mengingat masa inkubasi virus bisa berlangsung lebih dari dua minggu. Beberapa negara kini semakin ketat dalam memantau penumpang yang pernah berada di kapal tersebut.

Anggota legislatif dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah III juga mengajak pemerintah memperkuat sistem peringatan dini terhadap penyakit zoonosis, termasuk hantavirus, dengan pendekatan One Health yang menggabungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Menurutnya, beberapa langkah perlu segera diperkuat, antara lain memperluas pengawasan terhadap penyakit demam akut yang belum diketahui penyebabnya agar kasus hantavirus tidak terlewat dalam pemantauan, meningkatkan kemampuan diagnosis laboratorium seperti uji PCR dan serologi di rumah sakit rujukan, serta memperkuat pengendalian tikus dan kebersihan lingkungan berbasis masyarakat.

"Penanggulangan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Hal ini berkaitan dengan kondisi lingkungan sehari-hari masyarakat," katanya.

Selain itu, Edy menginginkan peningkatan edukasi masyarakat agar mereka memahami cara sederhana dalam mencegah penyebaran penyakit, seperti memakai masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang sering dihuni tikus, menjaga sirkulasi udara di dalam ruangan, serta menghindari kontak langsung dengan hewan tersebut.

"Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan besar sebelum bertindak. Pencegahan jauh lebih murah dan lebih penting dibandingkan mengatasi masalah ketika kondisi sudah memburuk," tegasnya.

TerPopuler