Koin Tanah Liat hingga Diskusi Warga, Wajah Baru Ekonomi Kreatif Anak Muda Bulukumba di 'Siruntu Baku Dapa' -->

Koin Tanah Liat hingga Diskusi Warga, Wajah Baru Ekonomi Kreatif Anak Muda Bulukumba di 'Siruntu Baku Dapa'

18 Mei 2026, Senin, Mei 18, 2026
Koin Tanah Liat hingga Diskusi Warga, Wajah Baru Ekonomi Kreatif Anak Muda Bulukumba di 'Siruntu Baku Dapa'

Warta Bulukumba- Di bawah dedaunan bambu yang lebat, orang-orang duduk berhadapan, beberapa masih memegang koin tanah liat di tangan mereka, sementara yang lain memandang sungai yang mengalir perlahan tidak jauh dari tempat diskusi. Kemudian terjadi jeda lama yang diisi dengan pertunjukan seni, angin, dan suara gesekan ranting.

Seorang peserta sesekali menulis di kertas kecil, sementara di belakangnya, anak-anak berlari melewati jalur tanah yang agak basah. Terdapat percakapan yang berlangsung tanpa panggung, tanpa batas, seperti obrolan yang secara tidak sengaja menjadi serius.

Di Kebun Bersama, Desa Bontosunggu, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, ruang terbuka berubah menjadi tempat pengujian sosial melalui "Siruntu Baku Dapa". Kegiatan yang diadakan pada hari Minggu, 17 Mei 2026 ini tidak mengikuti format festival kota yang biasanya formal. Justru, acara ini berkembang dari kebun bambu, aliran sungai, serta interaksi warga yang hadir tanpa batas.

Di area aktivitas, lapak UMKM berdiri berdampingan dengan kerajinan tangan, lukisan, dan stan baca buku. Musik mengalun dari sudut-sudut sempit tanpa panggung utama, menyebabkan pengunjung bergerak bebas dari satu lokasi ke lokasi lain.

Namun yang paling menarik adalah sistem pembayaran dengan menggunakan koin tanah liat. Pengunjung mengubah uang rupiah sebelum melakukan belanja di area aktivitas. Metode ini membangkitkan rasa penasaran, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mencobanya.

Bagi sejumlah penduduk, koin bukan hanya alat transaksi, tetapi juga lambang dari upaya ekonomi yang lebih dekat dengan lingkungan masyarakat. Terdapat rasa bermain, namun juga ada kepentingan serius di baliknya: bagaimana jika sistem ekonomi tidak selalu tergantung pada struktur yang jauh dari kehidupan sehari-hari warga?

Lebih dari tentang produk

Sesi diskusi merupakan bagian paling dinamis dalam rangkaian kegiatan. Tidak ada meja panjang maupun panggung. Peserta duduk berlingkar di bawah pohon bambu, saling berhadapan saat berbicara.

Topik yang dibicarakan mencakup ekonomi kreatif, peran masyarakat, serta kesempatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal yang berbasis sumber daya desa. Di tengah-tengahnya, suara aliran sungai menjadi latar yang tidak dijadwalkan, namun justru memperkuat suasana.

Harlina dari Dana Mitra Tani menjelaskan bahwa partisipasi mereka tidak hanya terbatas pada pemasaran produk tebu petani di kawasan DAS Balangtieng, tetapi juga memperluas jaringan dengan kelompok-kelompok lain.

"Ini bukan hanya mengenai produk, melainkan tentang hubungan yang dapat berkembang setelah acara berakhir," katanya.

Ruang temu yang longgar

Muhammad Harisah, pendiri Komunitas Kebun Bersama, menyebut "Siruntu Baku Dapa" sebagai tempat yang dibiarkan berkembang bersama pengunjungnya.

"Orang datang bukan hanya untuk menonton, tetapi untuk ikut serta. Dari sana muncul percakapan yang mungkin tidak terjadi di tempat lain," katanya.

Tidak ada batasan jelas antara pelaku, penonton, dan peserta. Semua berada di dalam ruang yang sama, dengan peran yang bisa berubah kapan saja.

Di akhir acara, tidak ada garis finish atau penutupan yang terasa kaku. Yang tersisa justru percakapan yang masih tergantung di antara bambu, ide-ide yang belum selesai, dan perspektif baru mengenai ekonomi yang tidak selalu harus dimulai dari kota. Siruntu Baku Dapa menunjukkan bahwa ruang sempit di desa bisa menjadi tempat lahirnya gagasan besar, selama orang-orang di dalamnya bersedia duduk sejajar tanpa batas.

TerPopuler