
bengkalispos.com.CO.ID - JAKARTA.Harga minyak mentah global terus meningkat seiring dengan memburuknya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Gagalnya diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta ancaman terhadap jalur distribusi energi global menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah tipe WTI meningkat 4,83% dalam sehari menjadi US$ 100,03 per barel. Di sisi lain, minyak Brent naik 4,19% menjadi US$ 105,53 per barel.
Ketua Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menyatakan kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap usulan nuklir Iran yang dianggap "tidak dapat diterima".
Keadaan ini mengurangi harapan tercapainya penurunan ketegangan konflik dalam waktu dekat.
"Ketegangan ini semakin memburuk berdasarkan laporan serangan drone terhadap kapal pengangkut di Teluk Persia serta pencegahan serangan udara di wilayah Kuwait dan Uni Emirat Arab yang memperkuat kekhawatiran bahwa konflik selama sepuluh minggu ini akan berkembang menjadi perang regional yang lebih terbuka," kata Sutopo kepada bengkalispos.com, Senin (11/5/2026).
Menurut Sutopo, faktor yang paling berpengaruh terhadap perubahan harga minyak dalam jangka pendek adalah kondisi operasional Selat Hormuz yang hingga saat ini masih mengalami gangguan terhadap sebagian besar lalu lintas komoditas global.
Meskipun demikian, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melalui jalur tersebut.
Ia menganggap kebuntuan militer yang menghambat pembukaan kembali Selat Hormuz telah menyebabkan adanya premi risiko perang (war premium) yang besar pada harga minyak.
Selain itu, pasar juga menantikan hasil pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing minggu ini. Para pelaku pasar berharap Tiongkok dapat memainkan peran diplomatik untuk mendorong Iran mengubah sikapnya terkait isu fasilitas nuklirnya.
"Hasil dari pertemuan tersebut menjadi faktor penting karena pasar mengharapkan adanya pengaruh diplomatik Tiongkok untuk meyakinkan Teheran agar mengendurkan sikapnya terkait fasilitas nuklir," ujar Sutopo.
Selanjutnya, Sutopo memprediksi harga minyak tetap cenderung naik (bullish) dengan tingkat fluktuasi yang tinggi.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan tetap berada di atas US$ 100 per barel jika gangguan pengiriman di Selat Hormuz terus berlangsung.
Bahkan, Badan Energi Internasional (IEA) menggambarkan situasi saat ini sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi global.
Berdasarkan pendapat Sutopo, peningkatan produksi dari Arab Saudi serta negara anggota OPEC+ lainnya belum mampu segera menggantikan kemungkinan kekurangan pasokan yang disebabkan oleh gangguan logistik di kawasan tersebut.
"Jika negosiasi di Beijing tidak mampu mencapai kesepakatan nyata, harga minyak bisa naik ke kisaran US$ 110 hingga US$ 120 per barel dalam kuartal ini," kata Sutopo.
Sutopo menambahkan, para investor juga perlu memperhatikan beberapa indikator dalam beberapa minggu mendatang, seperti pengumuman data inflasi Amerika Serikat (AS) dan laporan mingguan persediaan minyak mentah dari Energy Information Administration (EIA).
Selain itu, kemajuan dalam keamanan jalur pelayaran di kawasan Qatar dan Uni Emirat Arab akan menjadi indikator penting terkait stabilitas pasokan energi global.
Menurutnya, setiap pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun Teheran mengenai kondisi pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak global.