Penyebab Keracunan 500 Siswa Klaten, Tambah Lagi 252 Siswa Cakung Terkena Racun -->

Penyebab Keracunan 500 Siswa Klaten, Tambah Lagi 252 Siswa Cakung Terkena Racun

11 Mei 2026, Senin, Mei 11, 2026
Penyebab Keracunan 500 Siswa Klaten, Tambah Lagi 252 Siswa Cakung Terkena Racun

-MEDAN.com - Dinas Kesehatan mengungkap penyebab keracunan yang terjadi pada Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Tulung, Klaten, Jawa Tengah.

Diketahui, di antara ratusan siswa, beberapa guru yang juga terlibat dalam pemeriksaan MBG mengalami keracunan.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa sampel air yang digunakan di SPPG mengandung bakteri Escherichia coli atau E. coli.

Informasi terbaru, Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan sanksi berupa penundaan atau penghentian sementara kegiatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Sanksi tersebut diberikan setelah ratusan siswa SMPN 1 Tulung mengalami keracunan usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Untuk kasus Tulung, kami telah melakukan investigasi dan sudah selesai. SPPG dihentikan operasionalnya," ujar Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Klaten, Yoga Angga Pratama, saat dihubungi Kompas.com melalui pesan singkat, Minggu (10/5/2026).

 

Yoga menyampaikan bahwa operasional SPPG baru dapat dilanjutkan kembali setelah memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh BGN.

"Ada waktu yang diberikan untuk memenuhi persyaratan BGN agar dapat beroperasi kembali," katanya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, sampel air yang digunakan di SPPG menunjukkan adanya bakteri Escherichia coli atau E coli.

“Dikarenakan hasil lab pasca keracunan terdapat hasil positif bakteri E coli maka perlu evaluasi pengecekan sampel air yang digunakan SPPG, pembenahan bangunan infrastruktur SPPG, dan evaluasi relawan SPPG,” kata Yoga. 

Ia menekankan bahwa selama masa penangguhan, pihak mitra pengelola SPPG tidak akan mendapatkan insentif dari BGN.

"Rekan (SPPG) tidak memperoleh insentif selama masa penangguhan," tegasnya.

Contoh Makanan yang Mengandung Bacillus sp

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten telah melakukan pengujian terhadap sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan massal tersebut.

Contoh makanan dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (Balabkes) Yogyakarta untuk diperiksa.

“Dari hasil pemeriksaan sampel yang kami kirim ke Balabkes Jogja, baik telur puyuh, galantin maupun kuah timlo semuanya positif Bacillus sp,” kata Kepala Dinkes Kabupaten Klaten, Anggit Budiarto, Rabu (6/5/2026). 

Menurut Anggit, Bacillus sp adalah bakteri yang mampu berkembang biak pada bahan makanan dan membentuk spora.

"Kami menduga kejadian yang terjadi di Tulung kemarin disebabkan oleh (bakteri Bacillus sp)," katanya.

Anggit menambahkan, seluruh siswa yang pernah mendapatkan perawatan karena keracunan kini telah diperbolehkan pulang.

"Semua sudah kembali ke rumah dalam keadaan baik," ujar Anggit.

252 Siswa Keracunan

Isu dugaan keracunan yang terjadi setelah mengonsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan keguncangan di beberapa sekolah dasar di Jakarta Timur.

Hingga Sabtu (9/5/2026), ratusan siswa masih mendapatkan perawatan di berbagai rumah sakit, termasuk di wilayah Kota Bekasi.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat sebanyak 252 siswa melaporkan adanya gejala yang diduga akibat keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG pada hari Jumat (8/5/2026).

Dari jumlah tersebut, 188 siswa pernah mengunjungi fasilitas kesehatan dan 26 anak masih dalam proses perawatan intensif di berbagai rumah sakit.

Sebanyak 15 siswa di antaranya kini sedang menjalani perawatan di dua rumah sakit yang berada di Kota Bekasi, yaitu RS Citra Harapan dan RS Ananda.

Sejumlah Siswa Di Rawat di Kota Bekasi

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyebutkan bahwa para siswa dikirim ke beberapa rumah sakit setelah mengalami masalah kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG di sekolah.

"Semua pasien dirawat di ruang perawatan inap standar," kata Ani, Sabtu (9/5/2026).

Berikut adalah rincian rumah sakit di mana para siswa dirawat:

  • RS Citra Harapan Bekasi: 12 orang pasien
  • RS Ananda Bekasi: 3 orang pasien
  • RSI Pondok Kopi: 2 orang pasien
  • RS Resti Mulya: 2 orang pasien
  • RS Firdaus: 4 pasien
  • RSI Sukapura: 2 pasien
  • RS Pekerja: 1 pasien

Pihak Dinas Kesehatan DKI Jakarta memastikan kondisi para siswa terus diawasi oleh tim medis.

Dimulai dari Menu MBG di Tiga Sekolah Dasar

Kasus dugaan keracunan diduga bermula setelah siswa mengonsumsi hidangan MBG yang dibagikan di tiga sekolah dasar di wilayah Cakung, Jakarta Timur.

Ketiga sekolah tersebut yakni:

  • SDN Cakung Timur 01
  • SDN Ujung Menteng 02
  • SDN Ujung Menteng 03

Daftar hidangan yang disajikan pada saat itu mencakup bakmi Jawa, pangsit tahu, semangka, kacang hijau rebus, mentimun, dan tomat.

Namun, beberapa siswa mengeluhkan kondisi makanan, khususnya pada hidangan pangsit isi tahu yang dianggap memiliki rasa yang tidak biasa.

"Diduga berasal dari pangsit isi tahu, karena rasanya asam. Hasil pemeriksaan laboratorium baru akan keluar paling cepat Selasa depan," ujar Ani.

Keluhan yang terjadi umumnya meliputi rasa mual, muntah, nyeri perut, hingga kelelahan setelah siswa pulang dari sekolah.

Orang Tua Kehilangan Tenang, Pemeriksaan Masih Berlangsung

Peristiwa ini menimbulkan kecemasan di kalangan orang tua siswa.

Banyak orang tua segera membawa anak-anak mereka ke puskesmas dan rumah sakit setelah kondisi kesehatan memburuk.

Dinas Kesehatan Jakarta Pusat bekerja sama dengan Dinas Pendidikan masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut.

Contoh makanan juga telah diuji di laboratorium untuk mengetahui apakah terjadi kontaminasi bakteri atau kendala dalam proses pengolahan makanan.

SPPG Pulogebang Jadi Sorotan

Sementara penyelidikan berlangsung, Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga mengungkapkan perhatian terhadap operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Pulogebang, Jakarta Timur, yang diduga menjadi penyedia makanan MBG tersebut.

Ani menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap SPPG dengan melalui inspeksi kesehatan lingkungan serta pelatihan bagi para pengolah makanan.

"Penyelidikan IKL telah selesai, dan saat ini SPPG sedang dalam proses perbaikan serta pelatihan bagi para pengolah makanannya," jelas Ani.

Menurutnya, SPPG tersebut baru mulai beroperasi sejak 31 Maret 2026 dan masih dalam proses memenuhi persyaratan administrasi kesehatan.

Berdasarkan peraturan dari Badan Gizi Nasional (BGN), penyelenggara masih memiliki waktu selama tiga bulan untuk menyelesaikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Namun, kasus ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat mengenai kesiapan sistem distribusi dan pengawasan program MBG yang ditujukan kepada anak-anak sekolah.

Program MBG Disorot Publik

Program Makanan Bergizi Gratis sebelumnya dianggap sebagai langkah penting untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak di Indonesia.

Namun kejadian dugaan keracunan massal ini memberikan dampak besar terhadap keyakinan masyarakat, khususnya mengenai standar keamanan pangan yang berlaku.

Banyak pihak menginginkan dilakukannya peninjauan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang kembali, mengingat target program adalah anak-anak sekolah yang rentan terhadap dampak keracunan makanan.

Pemerintah diharapkan memperkuat pengawasan terhadap pendistribusian makanan, kualitas bahan baku, serta kebersihan dalam proses produksi agar program sosial ini benar-benar memberikan manfaat, bukan justru mengancam kesehatan siswa.

(*/medan.com)

Sumber: wartakota/ Kompas.com

Baca berita MEDAN lainnya di Google News

Ikuti pula informasi lainnya melalui Facebook, Instagram, Twitter, dan Channel WA

Berita menarik lainnya di Medan

TerPopuler