Perang Iran Hari ke-67: UEA Gagalkan Rudal Balistik, Ketegangan Hormuz Meningkat -->

Perang Iran Hari ke-67: UEA Gagalkan Rudal Balistik, Ketegangan Hormuz Meningkat

5 Mei 2026, Selasa, Mei 05, 2026
Perang Iran Hari ke-67: UEA Gagalkan Rudal Balistik, Ketegangan Hormuz Meningkat
Ringkasan Berita:
  • Perang Iran memasuki hari ke-67 dengan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, yang ditandai oleh serangan rudal, drone, serta saling tuduhan antara Iran dan Amerika Serikat.
  • Beberapa negara Teluk dan Barat mengkritik dugaan serangan terhadap Uni Emirat Arab, sementara ancaman terbuka dari Presiden Donald Trump memperparah kondisi tersebut.
  • Peristiwa ini menyebabkan kenaikan harga minyak dan memperbesar kekhawatiran mengenai stabilitas energi serta keamanan internasional.
 

NEWS.COM - Perang Iran memasuki hari ke-67, Selasa (5/5/2026).

Tegangan di kawasan Timur Tengah semakin memburuk, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi pasokan energi global.

Emirat Arab Bersatu (EAB) melaporkan bahwa mereka berhasil mencegat beberapa rudal balistik dan jelajah yang diduga ditembakkan dari Iran, sementara kebakaran besar terjadi di fasilitas minyak Fujairah akibat serangan pesawat tanpa awak.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan peringatan tajam kepada Teheran di tengah situasi yang semakin memburuk.

"Negara Iran akan hilang dari permukaan bumi jika kapal-kapal Amerika Serikat menjadi sasaran," kata Trump.

Al Jazeera melaporkan, peningkatan ketegangan ini terjadi di tengah ketidakstabilan gencatan senjata dan meningkatnya kegiatan militer di Selat Hormuz, yang menjadi jalur transportasi sekitar seperlima pasokan energi global.

Di Iran

Kondisi di dalam Iran dipenuhi dengan penolakan dan pernyataan yang saling bertentangan terhadap pihak Amerika Serikat.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyangkal adanya kapal perdagangan yang melewati Selat Hormuz, meskipun militer Amerika Serikat mengklaim dua kapal berbendera AS berhasil melintasi jalur tersebut dengan perlindungan.

Media pemerintah Iran juga mengklaim bahwa kapal yang dihancurkan oleh AS bukan merupakan milik angkatan laut, tetapi kapal niaga.

"Lima orang yang tidak bersalah meninggal setelah dua kapal sipil diserang," demikian laporan media pemerintah Iran.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa masalah ini tidak dapat diatasi melalui kekuatan militer.

"Keadaan ini menunjukkan bahwa tidak ada jalan keluar militer bagi krisis politik," katanya.

Di sisi lain, Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyatakan bahwa pengelolaan Selat Hormuz merupakan "hak sah" Iran.

Di Teluk

Kekakuan memburuk tajam setelah Uni Emirat Arab mengklaim menjadi sasaran serangan Iran.

Pihak otoritas Uni Emirat Arab mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil menggagalkan serangan dari 15 rudal dan empat pesawat tak berawak.

Serangan itu menyebabkan kebakaran besar di fasilitas energi Fujairah dan melukai tiga warga negara India.

Selain itu, dua orang dilaporkan mengalami luka-luka di Oman setelah sebuah bangunan tempat tinggal terkena serangan di kawasan pesisir.

Tentara Amerika Serikat juga mengirimkan kapal perang ke wilayah Teluk sebagai bagian dari tugas pengawalan kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.

Di Amerika Serikat

Di Washington, pendirian keras kembali ditunjukkan oleh pemerintahan Trump.

Selain ancaman militer, Amerika Serikat tetap melaksanakan operasi pengawasan jalur laut melalui misi "Proyek Kebebasan".

Laksamana Brad Cooper sebelumnya mengatakan bahwa pasukan Amerika Serikat telah menghancurkan enam kapal kecil Iran yang dianggap membahayakan lalu lintas laut.

Namun pernyataan ini ditolak oleh Iran, yang menyatakan bahwa tidak ada kapal milik mereka yang menjadi sasaran serangan.

Diplomasi dan Global

Kritikan global terus meningkat terkait dugaan serangan terhadap Uni Emirat Arab.

Negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Yordania, bersama dengan Council Kerjasama Teluk serta Uni Eropa, mengutuk tindakan tersebut.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menunjukkan dukungan terhadap Uni Emirat Arab dan meminta penurunan ketegangan.

Di sisi lain, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa "peningkatan ketegangan harus dihentikan" dan meminta semua pihak kembali pada jalur diplomasi.

Al Jazeera melaporkan bahwa langkah-langkah diplomatik terus dilakukan, tetapi belum menunjukkan hasil yang nyata.

Di Israel dan Lebanon

Kekacauan juga menyebar ke wilayah lain di Timur Tengah.

Tentara Israel dilaporkan dalam kondisi siaga tinggi dan terus mengawasi perubahan situasi.

Di Lebanon, Presiden Joseph Aoun menekankan bahwa keamanan perlu tetap terjaga sebelum ada pertemuan dengan Israel.

Kelompok Hezbollah dilaporkan terlibat dalam pertikaian dengan pasukan Israel di kawasan selatan Lebanon.

Dampak ke Pasar Global

Tensi yang semakin meningkat langsung berpengaruh terhadap pasar energi global.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan naik lebih dari 5 persen setelah terjadinya serangan terhadap Uni Emirat Arab.

Al Jazeera melaporkan bahwa ketidakpastian di Selat Hormuz kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Ancaman Meningkat

Bertambahnya tingkat ketegangan konflik dan sedikitnya kemajuan dalam diplomasi membuat risiko perluasan konflik semakin jelas.

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian global yang berisiko memicu krisis energi dan keamanan internasional.

Sampai saat ini, belum ada indikasi penurunan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

(news.com/Andari Wulan Nugrahani)

TerPopuler