
bengkalispos.com.CO.ID - JAKARTA.Prospek kinerja PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dianggap tetap kokoh sepanjang 2026.
Kinerja perusahaan didukung oleh peningkatan produksi listrik, efisiensi operasional, serta peluang berkembangnya bisnis energi hijau dan perdagangan karbon.
PGEO berencana meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi dari 727 megawatt (MW) yang ada saat ini menjadi 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028, kemudian mencapai sekitar 1,8 GW pada 2033.
Strategi perluasan ini sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, di mana Indonesia menetapkan target penambahan kapasitas listrik sebesar 69,5 GW.
Dalam jangka pendek hingga tahun 2028, perusahaan akan menitikberatkan pada pengembangan proyek-proyek yang memiliki risiko rendah dengan tingkat visibilitas yang tinggi, seperti Hulu Lais Unit 1 dan 2, Ulubelu Binary, Lahendong Low Pressure Binary, serta Lumut Balai Binary.
Analis Pasar Senior Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menganggap, dasar PGEO hingga saat ini masih cukup kuat.
Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan PGEO meningkat sebesar 14,83% dari tahun sebelumnya atauyear on year(YoY) mencapai US$ 116,56 juta pada kuartal I-2026, dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yaitu US$ 101,51 juta.
Sementara itu, laba bersih tahun berjalan yang dapat dialokasikan kepada pemilik perusahaan induk mencapai 43,91 juta dolar AS pada akhir kuartal pertama tahun 2026, naik sebesar 40,01% dibandingkan pencapaian kuartal pertama tahun 2025 yang sebesar 31,37 juta dolar AS.
Menurut Nafan, pertumbuhan laba bersih dengan angka dua digit ini terutama didorong oleh peningkatan pendapatan perusahaan yang berasal dari naiknya produksi listrik.
"Peningkatan pendapatan didukung oleh peningkatan produksi listrik. Di sisi lain, PGEO mampu mempertahankan efisiensi operasional," kata Nafan kepada bengkalispos.com, Senin (11/5/2026).
Ia menambahkan bahwa target peningkatan kapasitas menjadi 1 GW pada 2028 memberikan sentimen positif bagi PGEO, meskipun ekspansi pembangkit panas bumi memerlukan pengeluaran modal ataucapital expenditure (capex) yang besar.
Namun, pengembangan proyek panas bumi dianggap penting dalam meningkatkan produksi listrik serta memperkuat posisi PGEO di bidang energi baru dan terbarukan (EBT).
Selain peningkatan kapasitas, Nafan juga melihat PGEO berpeluang mendapatkan manfaat dari perkembangan perdagangan karbon di Indonesia.
Menurutnya, peningkatan penerapan pasar karbon dalam negeri dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi PGEO sekaligus berkontribusi pada peningkatan laba bersih perusahaan.
"PGEO juga menjadi aktor utama dalam perdagangan karbon di Indonesia," katanya.
Dari sudut pandang makroekonomi, Nafan menganggap komitmen pemerintah dalam mengejar targetnet zero emissionberperan sebagai katalis positif bagi PGEO.
Dukungan regulasi pemerintah mengenai tarif panas bumi dianggap mampu memberikan keuntungan tambahan bagi perusahaan.
Selain itu, sebagian besar kontrak pendapatan PGEO menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS), sehingga memberikan perlindungan alami ketika nilai tukar rupiah mengalami penurunan.
"Sebagian besar kontrak PGEO menggunakan mata uang dolar AS, sehingga dapat memberikan perlindungan alami ketika rupiah mengalami pelemahan," katanya.
Meskipun prospek dasar perusahaan dianggap menguntungkan, Nafan saat ini masih menyarankan sikapwait and seeterkait saham PGEO berdasarkan analisis teknis.