
bengkalispos.com.CO.ID - JAKARTA.Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan, pada kuartal II 2025, kontribusi sektor makanan dan minuman mencapai 41% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas. Sementara itu, dalam periode yang sama, sektor ini berkontribusi sebesar 6,94% terhadap PDB nasional.
Salah satu pelaku dalam industri makanan dan minuman adalah sektor industri air minum kemasan (AMDK). Sektor ini menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung, dengan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun dari lebih dari 700 pabrik yang tersebar di seluruh Indonesia. Tingkat penggunaan fasilitasnya berada di atas 70%.
Kini sektor AMDK sedang menghadapi tantangan berat. Dari sisi hulu, perubahan geopolitik global—termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah—menyebabkan kenaikan harga minyak dan gas. Akibatnya, dampaknya cepat menyebar ke industri petrokimia, khususnya bahan baku plastik yang menjadi komponen utama kemasan AMDK. Kenaikan biaya produksi menjadi tidak bisa dihindari, memberi tekanan besar pada struktur biaya.
Pada saat yang bersamaan, tekanan juga datang dari sisi hulu. Kebijakan pembatasan transportasiover dimension over load(ODOL), yang direncanakan mencapai penerapan penuh pada 2027, berdampak langsung terhadap efisiensi pengiriman. Kapasitas pengangkutan berkurang, frekuensi perjalanan meningkat, dan akhirnya biaya logistik melonjak.
Ahli politik ekonomi, Andreas Ambesa menganggap, jika tidak diatur dengan baik, keadaan ini dapat berdampak lanjutan terhadap harga di tingkat masyarakat. Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, kenaikan harga barang kebutuhan pokok seperti air minum berpotensi memicu tekanan inflasi yang lebih luas.
"Pelaku bisnis menghadapi dilema tradisional: menjaga kelangsungan usaha atau mempertahankan harga yang terjangkau bagi masyarakat," katanya, dikutip dari news, Sabtu (9/5).
Andreas menegaskan, kesiapan ekosistem logistik nasional menghadapi kebijakan zero ODOL belum sepenuhnya siap. Tanpa adanya transisi yang terencana, kebijakan yang pada dasarnya memiliki niat baik ini justru berisiko menyebabkan gangguan dalam rantai pasok. Terutama untuk industri dengan distribusi yang luas seperti AMDK.
Di luar tekanan struktural yang ada, sektor ini juga menghadapi perubahan lain yang tidak kalah penting: pergeseran pandangan masyarakat. Misalnya, kunjungan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke salah satu tempat produksi air minum dalam kemasan memicu diskusi yang luas terkait sumber dan mutu air minum dalam kemasan.
Secara ilmiah, sumber air minum dalam kemasan bisa berasal dari air pegunungan atau air tanah yang dalam, selama pengelolaannya mematuhi standar dan aturan yang ketat. Namun, di ruang umum, kenyataan ilmiah sering bertentangan dengan pandangan yang terbentuk dari cerita yang beredar.
Tanpa adanya tindakan yang tepat—baik berupa perubahan kebijakan, insentif, maupun koordinasi antar sektor—tekanan ganda yang saat ini dialami berisiko berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.
Pada akhirnya, keberlanjutan sektor AMDK bukan hanya tentang keuntungan bisnis. Hal ini berkaitan langsung dengan akses masyarakat terhadap air minum yang aman, kestabilan harga, serta kontribusi terhadap perekonomian negara.