Ternyata Bukan Daging Kambing, Tapi Cara Memasaknya yang Tingkatkan Tekanan Darah -->

Ternyata Bukan Daging Kambing, Tapi Cara Memasaknya yang Tingkatkan Tekanan Darah

27 Mei 2026, Rabu, Mei 27, 2026

bengkalispos.com– Peningkatan kasus hipertensi dan kolesterol yang sering terjadi setelah mengonsumsi daging kambing pada Idul Adha ternyata lebih disebabkan oleh metode pengolahan makanan.

Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa penggunaan santan, organ dalam, serta bumbu berlebihan menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi setelah perayaan Idul Adha.

"Kambing itu sudah benar-benar sehat, sama seperti tukang masak yang menambahkan santannya, jeroannya, garamnya banyak, dan juga gula yang banyak. Jadi ingat, yang salah bukan kambingnya, yang salah adalah cara memasaknya," katanya di Instagram, dikutip pada Rabu (27/5).

Budi mengatakan bahwa daging kambing selama ini sering dianggap sebagai "kambing hitam" atas naiknya tekanan darah dan kolesterol setelah Idul Adha. Padahal, menurutnya pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar.

"Sayang sekali si kambing ini, selalu disebut sebagai kambing hitam. Dikatakan kolesterolnya tinggi, lemak jenuhnya tinggi," katanya.

Sapi Mengandung Lemak Jenuh yang Lebih Banyak

Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa jika dibandingkan, daging sapi sebenarnya mengandung lemak jenuh yang lebih tinggi daripada daging kambing. Dalam 100 gram daging, lemak jenuh kambing diperkirakan sekitar 0,8 gram, sedangkan sapi bisa mencapai 2 hingga 3 gram.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa kambing tidak dapat langsung disebut sebagai penyebab utama tekanan darah tinggi.

Kolesterol Kambing Lebih Sedikit

Dari segi kandungan kolesterol, Budi juga menyampaikan bahwa daging kambing memiliki angka yang lebih rendah. Dalam 100 gram daging kambing, kadar kolesterolnya sekitar 64 mg, lebih sedikit dibanding daging sapi yang mencapai sekitar 73 mg dan daging ayam sekitar 76 mg.

Oleh karena itu, Budi mengingatkan warga untuk tetap dapat menikmati daging kurban tanpa kekhawatiran berlebihan. Inti utamanya, menurutnya, adalah mengontrol porsi serta memperhatikan metode pengolahan agar tetap lebih sehat dan tidak menyebabkan gangguan kesehatan.

TerPopuler