Anak-anak dan Kaum Muda Marginal di Indonesia: Rentan Terdampak Iklim Tapi Tidak Sadar -->

Anak-anak dan Kaum Muda Marginal di Indonesia: Rentan Terdampak Iklim Tapi Tidak Sadar

9 Jun 2026, Selasa, Juni 09, 2026
Anak-anak dan Kaum Muda Marginal di Indonesia: Rentan Terdampak Iklim Tapi Tidak Sadar

● Banyak anak-anak dan pemuda yang kurang beruntung sering kali menganggap dampak perubahan iklim yang muncul secara perlahan sebagai hal yang biasa.

● Hal ini menggambarkan empat bentuk ketidakadilan iklim yang mereka alami sebagai kelompok yang rentan.

● Keadilan iklim memerlukan partisipasi aktif generasi muda melalui ruang yang aman, berdampak, dan didasarkan pada pengalaman nyata.

Bagi banyak anak dan pemuda dari keluarga miskin serta rentan, krisis iklim tidak selalu terlihat sebagai peristiwa yang spektakuler seperti bencana alam. Ia hadir dalam bentuk cuaca yang semakin panas, kabut asap yang mengganggu pernapasan, air bersih yang semakin mahal, atau genangan air yang terus-menerus membuat ruang bermain dan lingkungan tempat tinggal mereka perlahan berubah.

Studi partisipasi PUSKAPA bersama anak-anak dan pemuda di Jakarta, Pekalongan, Jawa Tengah, serta Pontianak, Kalimantan BaratPada tahun 2024 terlihat bahwa anak-anak dan generasi muda sebenarnya sadar akan perubahan lingkungan di sekitar mereka. Namun, tidak semua dari mereka menyebut pengalaman tersebut sebagai "perubahan iklim", apalagi "ketidakadilan iklim".

Mereka menganggap keadaan tersebut wajar karena keterbatasan akses terhadap bahasa politik, ruang partisipasi publik bagi pemuda masih kurang memadai, serta dominasi isu ekonomi yang lebih mendesak.

Krisis iklim tidak selalu muncul sebagai bencana yang tiba-tiba

Sebagian besar dampak yang diungkapkan anak-anak dan generasi muda dalam penelitian ini termasuk dalam kategorislow onset climate change, yaitu perubahan iklim yang terjadi secara perlahan dan bertahap.

Suhu yang semakin panas dapat mengubah kebiasaan hidup, mengganggu istirahat, serta berdampak pada kesehatan. Air bersih yang semakin langka dan mahal memaksa keluarga untuk mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk kebutuhan pokok.

Dampak-dampak kecil ini akhirnya menumpuk. Anak-anak kehilangan tempat bermain. Pemuda merasa tidak nyaman di lingkungan mereka sendiri. Keluarga beradaptasi secara mandiri dengan membeli air, mengubah kebiasaan sehari-hari, atau menerima bahwa panas telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pengalaman ini mirip dengan konsep "kekerasan perlahan" atauslow violenceBentuk kekerasan ini berlangsung secara bertahap, berkepanjangan, dan sering kali paling parah menimpa kelompok yang rentan.

Karena tidak bersifat dramatis, peristiwa kekerasan iklim sering kali tidak mendapat perhatian dari masyarakat maupun kebijakan pemerintah. Padahal, bagi anak-anak dan pemuda yang terpinggirkan, dampaknya sangat nyata.

Empat bentuk ketidakadilan iklim

Studi inimenemukan bahwa pengalaman anak-anak dan pemuda yang terpinggirkan mencerminkan setidaknya empat bentuk ketidakadilan iklim:

1. Ketidakadilan prosedural

Ketidakadilan terjadi ketika pemerintah tidak menyediakan informasi yang memadai dan tidak melibatkan masyarakat—khususnya anak-anak dan generasi muda—dalam proses pengambilan keputusan, penyusunan program, tindakan, serta kebijakan yang berkaitan dengan perubahan iklim.

2. Ketidakadilan distributif

Ketidakadilan distributif merujuk pada situasi di mana sumber daya, bantuan, dan intervensi yang diterima oleh masyarakat tidak sebanding dengan kemampuan mereka dalam menghadapi konsekuensi perubahan iklim di masa depan.

3. Ketidakadilan rekognitif

Ketidakadilan ini terjadi karena kecenderungan pemerintah yang mengabaikan dampak perubahan iklim yang berlangsung secara bertahap, dengan anggapan bahwa masyarakat dapat bangkit tanpa bantuan dari pihak pemerintah.

4. Ketidakadilan antargenerasi

Kurangnya perhatian pemerintah dalam menghadapi perubahan iklim serta menyusun strategi adaptasi jangka panjang menunjukkan ketidakadilan antar generasi terhadap anak-anak dan pemuda.

Meskipun menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan iklim, anak-anak dan generasi muda biasanya tidak merasa pengalaman mereka sebagai bentuk ketidakadilan. Keadaan ini bisa dianggap sebagai bentuk ketidakadilan epistemologis. Hal ini terjadi karena anak-anak dan generasi muda belum memiliki sarana, alat interpretasi, serta sumber konseptual untuk memahami danmenyampaikan pengalaman mereka dalam kerangka dan struktur sosial-politik yang sejajar.

Jika perubahan iklim hanya dipandang sebagai proses alami yang tak bisa dihindari, masyarakat merasa tidak memiliki dasar untuk meminta solusi dari pemerintah.

Akibatnya, masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim secara mandiri dan akibatnya dibebankan bersama. Namun, penyesuaian semacam ini tidak menyelesaikan penyebab utama perubahan iklim yang dapat meninggalkan dampak buruk yang berkelanjutan.

Kebijakan iklim masih terlalu sempit

Banyak kebijakan pemerintah (baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat) terkait perubahan iklim dan bencana masih mengandalkan pendekatan teknis, seperti pembangunan bendungan, pompa, atau sistem saluran air.

Kita memang memerlukan infrastruktur yang kuat. Namun, tanpa pemahaman terhadap kehidupan masyarakat, solusi teknis dapat menghasilkan masalah baru, seperti memindahkan risiko, mengganggu ruang hidup, atau tidak mampu menyelesaikan isu sosial ekonomi yang dihadapi warga.

Kita juga menghadapi keterbatasan informasi. Banyak definisi, indikator, dan kumpulan data iklim belum mampu mencerminkan perubahan yang terjadi secara perlahan dalam kehidupan sehari-hari.

Data mungkin bisa menunjukkan daerah yang rentan banjir atau suhu yang naik, tetapi belum tentu mencerminkan dampaknya terhadap jam belajar, biaya air, kesehatan kulit, beban pengasuhan, rasa aman, atau hilangnya area bermain anak.

Melibatkan generasi muda bukan hanya sekadar memanggil mereka

Partisipasi yang bermakna memerlukan perubahan dalam metode kerja.

Pertama, anak dan remaja perlu diberikan kesempatan untuk memulai dari pengalaman mereka sendiri. Anak dan remaja bisa merasa tidak percaya diri ketika diajak berpartisipasi dalam kegiatan oleh orang dewasa.

Meyakinkan anak-anak dan generasi muda bahwa pengalaman serta pengetahuan sehari-hari mereka memiliki nilai yang penting merupakan salah satu langkah awal dalam meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Kedua, mereka perlu didampingi dalam menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan struktur yang lebih luas.

Dengan memperkenalkan hak-hak mereka sebagai warga negara, anak-anak dan pemuda menjadi lebih memahami lembaga-lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam memenuhi hak-hak tersebut, termasuk hak untuk hidup yang layak dan aman dari ancaman perubahan iklim.

Ketiga, ruang partisipasi perlu menciptakan suasana yang nyaman. Anak dan pemuda harus merasa aman dari tekanan, harapan, atau rasa tidak nyaman saat mengikuti kegiatan. Pastikan bahwa mereka terlibat dalam kegiatan dengan motivasi sendiri dan tanpa adanya paksaan.

Keempat, partisipasi harus berdampak. Selain menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan struktur yang lebih luas, anak dan generasi muda perlu diberi kesempatan untuk mengubah kekhawatiran mereka menjadi tindakan nyata.

Partisipasi mereka bisa dimulai dari tingkat yang kecil, misalnya dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, hingga tingkat yang lebih besar, seperti berpartisipasi aktif dalam organisasi di komunitas pecinta lingkungan.

Dari “bertahan” menuju keadilan

Anak-anak dan generasi muda yang terpinggirkan telah lama beradaptasi dengan perubahan iklim. Namun, kemampuan mereka dalam bertahan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan ketidakadilan yang mereka alami.

Pemerintah perlu memberikan definisi yang lebih menyeluruh terhadap perubahan iklim. Sementara itu, masyarakat sipil dan aktivis perlu meningkatkan kesadaran kritis di kalangan pemuda.

Kemudian bagi para akademisi dan peneliti, tantangannya ialah menciptakan pendekatan yang lebih inovatif, partisipatif, serta bertanggung jawab.

Artikel ini dihasilkan dari kerja sama penyebaran ilmu oleh para ahli dengan KONEKSI dan The Conversation Indonesia.

Artikel ini pertama kali diterbitkan diThe Conversation, situs berita non-profit yang menyebarkan ilmu pengetahuan akademis dan para peneliti.

  • Penelitian selama dua puluh tahun menunjukkan bahwa terumbu karang kita cukup tahan terhadap panas, tetapi ketahanan ini memiliki batasnya.
  • Mengenal kalkulator laut Indonesia: Alat pengukur manfaat lingkungan dari perairan serta kondisi masyarakat pesisir

Widi Sari menjabat sebagai Kepala Penelitian PUSKAPA dan menerima dana pendanaan dari KONEKSI untuk penelitian ini.

Haratua Zosran Abednego bekerja sebagai konsultan PUSKAPA dan menerima pendanaan dari KONEKSI untuk penelitian ini.

TerPopuler