Warga yang mengungsi dari kota-kota di wilayah selatan Lebanon karena perintah evakuasi militer Israel kini merasa cemas bahwa Israel akan menduduki daerah mereka secara tetap, atau Israel terus memperluas serangan militer mereka.
Berkali-kali tentara Israel meminta penduduk Tyre untuk meninggalkan kota di wilayah selatan Lebanonitu, yang sebelumnya dihuni oleh lebih dari 100.000 penduduk serta sekitar 10.000 pengungsi dari wilayah sekitar. Namun, ayah dan anggota keluarga Lily tetap tinggal, menurut Lily, seorang tenaga sosial dari kota Tyre.
Lily, yang enggan mengungkapkan nama lengkapnya karena alasan keamanan, saat ini tinggal bersama teman-temannya di Beirut. Namun, setiap kali ada kesempatan, perempuan berusia 29 tahun ini kembali ke Tyre untuk membawa obat-obatan dan makanan.
"Ban kini terasa seperti kota yang kosong," katanya kepada DW.
Sejak awal bulan Maret, serangan udara Israel yang berkelanjutan menyebabkan penduduk pergi secara bertahap. Serangan drone dan senjata artileri juga masih berlangsung minggu ini, dengan Israel mengklaim menargetkan kelompok militer Lebanon, meskipun terdapat gencatan senjata baru antara Iran dan Israel.
"Tiga minggu yang lalu, hanya terdapat satu apotek yang beroperasi setiap dua atau tiga hari, kemudian tutup kembali karena alasan keamanan," tambah Lily. "Beberapa toko kelontong masih buka, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Dan mendapatkan pasokan sangat sulit. Tidak ada yang berani pergi ke Tyre melalui jalur darat karena terlalu berisiko," katanya.
Kekhawatiran yang tak pernah hilang
Terkadang militer Israel memberi peringatan sebelum menyerang sebuah bangunan, kata Lily. "Namun, kenyataannya mereka justru menyerang empat gedung. Atau bangunan yang diberi peringatan tidak diserang sampai seminggu setelahnya. Jadi, tidak ada kepastian waktu, dan ini membuat semua orang cemas karena tidak tahu apa yang akan terjadi," katanya.
Pada waktu lain, serangan terjadi tanpa ada peringatan sama sekali, katanya. Pada hari Minggu (07/06), sebuah rumah keluarga bersejarah milik teman dekatnya yang berada di dekat kawasan yang ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia hancur berantakan.
"Tidak ada peringatan, tapi untungnya tidak ada orang di lokasi tersebut," ujar Lily. Ia menambahkan bahwa temannya, seorang wanita berusia 32 tahun yang pernah menjadi relawan Palang Merah, sedang dalam proses pindah ke Prancis untuk pekerjaan baru. Korban utama dari serangan itu adalah belasan kucing yang selama ini ditangani oleh keluarga tersebut.
Dia sangat terluka," kata Lily. "Kami semua merasa terluka. Dan kami bertanya-tanya, mengapa. Karena tidak ada target militer di sana. Kecuali jika kucing sekarang dianggap sebagai target militer.
Pertanyaan yang sering diajukan oleh warga Lebanon Selatan, menurut Lily, adalah apakah mereka dapat kembali ke rumah mereka, selama berapa lama pasukan Israel akan berada di tanah mereka, dan apakah tentara Israel mungkin terus melangkah lebih dalam ke wilayah Lebanon.
Pada bulan Maret lalu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Kartz, mengatakan bahwa penduduk tidak akan dapat kembali ke selatan Lebanon hingga "keselamatan dan keamanan warga Israel di wilayah utara terjamin."
Israel telah menetapkan "garis kuning" yang disebut sebagai zona keamanan untuk menjaga warganya dari ancaman kelompok Hizbullah yang berada di Lebanon. Garis tersebut berada sekitar 10 kilometer dari perbatasan. Namun, terdapat laporan yang menyatakan pasukan Israel melakukan operasi melebihi garis kuning itu hingga Sungai Litani, yang merupakan pertama kalinya sejak tahun 2006.
Selain Tyre, baru-baru ini Israel juga mengeluarkan perintah pengungsian untuk kota selatan Lebanon lainnya, Nabatieh, yang juga berada di luar garis merah tersebut.
Dari penjagaan perbatasan ke kendali wilayah
Pada akhir Mei, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan ingin pasukannya "memperkuat dan memperluas" kendali mereka di wilayah Lebanon. Pemerintah Israel sebelumnya juga menyatakan menginginkan "kebebasan beroperasi" di Lebanon, meski para ahli berpendapat bahwa hal ini sebagian besar merujuk pada serangan udara.
Dalam sebuah laporan pada Juni, para pakar di lembaga konsultan risiko berbasis di AS, Institute for Applied Geopolitics, menyatakan bahwa semua ini menandai "pergeseran dari pertahanan perbatasan terbatas menuju strategi kendali wilayah dan pencegahan."
"Skala dan simbolisme operasi ini mengingatkan pada pendudukan Israel tahun 1982, serta menunjukkan kemungkinan pembentukan kembali wilayah keamanan jangka panjang," demikian laporan tersebut.
Namun, hal ini disangkal oleh Yossi Kuperwasser, direktur Jerusalem Institute for Strategy and Security serta mantan kepala divisi riset militer Israel. Menurutnya, Israel belum memasuki wilayah Lebanon sejauh itu.
"Jarak yang diinginkan militer di Lebanon, dan telah disetujui oleh pemerintah, adalah sekitar 10 kilometer dari perbatasan—untuk melindungi komunitas kami di sisi selatan perbatasan dari tembakan langsung rudal anti-tank," ujar Kuperwasser kepada DW.
Ia mengakui memang terjadi perdebatan mengenai apakah sebaiknya memperdalam keterlibatan lebih lanjut di Lebanon.
Kami mengeluarkan biaya tinggi akibat serangan drone yang terjadi hampir setiap hari, dan telah terjadi korban jiwa, jadi hal ini mungkin memengaruhi perdebatan," katanya. "Namun sampai saat ini, belum ada keputusan baru untuk melewati garis kuning.
Meski demikian, ia menambahkan bahwa kekhawatiran penduduk Lebanon bagian selatan tetap masuk akal. "Karena semakin besar tekanan yang diberikan kepada Israel, semakin tinggi kemungkinan Israel meninjau kembali kebijakannya."
Zona keamanan atau perluasan wilayah?
Saat ini, menurut David Wood, analis senior Lebanon dari lembaga think tank International Crisis Group, penduduk Lebanon tidak terlalu waspada terhadap kemungkinan "penjajahan Israel yang meluas hingga ke Beirut." Namun, mereka masih khawatir bahwa pasukan Israel mungkin akan bergerak lebih jauh ke wilayah lain di bagian selatan Lebanon, seperti Nabatieh.
"Menurut saya, inti dari kejadian yang sedang berlangsung saat ini adalah bahwa mereka (Israel) merasa memiliki kebebasan untuk bertindak," ujar H.A. Hellyer, peneliti senior di Royal United Services Institute for Defense and Security Studies di London dan Center for American Progress.
"Namun, mereka menyadari bahwa kebebasan untuk bertindak ini tidak akan berlangsung selamanya, terutama di bawah pemerintahan Trump, dan jelas tidak akan bertahan di bawah siapa pun yang menggantikannya. Oleh karena itu, saya rasa mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk menetapkan batas-batas baru, menciptakan area-area keamanan tertentu," katanya.
Meski pasukan Israel benar-benar mundur dari sebuah kota di Lebanonakhir pekan lalu, Hellyer menyatakan bahwa riwayat menunjukkan bahwa zona keamanan Israel sering berubah menjadi wilayah yang dikuasai atau diambil alih secara tetap. Ia memberikan contoh Dataran Tinggi Golan di Suriah serta pernyataan terbaru Netanyahu mengenai penguasaan 70% wilayah Gaza.
Ini merupakan bagian dari apa yang saya sebut sebagai dominasi Israel," kata Hellyer, merujuk pada konsep ilmu politik "paramountcy" yang menggambarkan bagaimana negara-negara kuat memperkuas negara-negara yang lebih lemah. "Intinya adalah mereka yang memiliki kendali penuh, mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, tidak ada yang berani menolak, dan hukum serta aturan tidak lagi berlaku.
Meski demikian, Hellyer dan Wood dari Crisis Group berpendapat bahwa masih terdapat cara untuk mengendalikan pasukan Israel di Lebanon, khususnya melalui partisipasi negara-negara seperti Amerika Serikat dan lainnya, termasuk Jerman.
Mereka bahkan tidak perlu memberikan sanksi terhadap Israel," ujar Hellyer. "Mereka cukup mengatakan, 'kami tidak akan lagi mendukung hal ini'.
"Sebagai sekutu utama Israel, Amerika Serikat perlu memberi tekanan kepada pemimpin Israel agar benar-benar mematuhi gencatan senjata, lalu mulai menarik pasukannya dan memberikan ruang bagi tentara Lebanon untuk masuk dan menjalankan pemerintahan," ujar Wood.
Ia menyebutkan bahwa rencana zona perlindungan Israel di wilayah selatan Lebanon akhirnya gagal, karena Hizbullah terus mengirimkan pesawat tanpa awak dan roket ke Israel serta menyebabkan korban di kalangan tentara Israel.
Sementara untuk Lily, penduduk Tyre yang sekarang mengungsi, ia juga tidak yakin rencana Israel terhadap kotanya akan berhasil, meskipun alasannya berbeda.
"Saya telah berbicara dengan begitu banyak orang di sini, dan semuanya mengatakan ingin kembali ke rumah," ujarnya kepada DW.
Meskipun demikian, ini bukan pertama kalinya kami menjadi korban serangan atau pendudukan, bukan pula pertama kalinya kami terpaksa meninggalkan tempat tinggal, kehilangan orang yang dicintai, atau kehilangan rumah. Oleh karena itu, kami akan membangun kembali. Itulah semangat masyarakat di selatan. Kami tangguh, dan tanah ini adalah milik kami.
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Fika Ramadhani
Penyunting Tezar Aditya Rahman/Yuniman Farid
ind:content_author: Cathrin Schaer