
AS Kembali Serang Iran, Harga Minyak Mencapai 95 Dolar AS per Barel, Ekonomi Dunia Terancam
Ringkasan Berita:
- AS kembali melakukan serangan terhadap Iran, sementara Teheran merespons dengan menyerang berbagai target militer Amerika Serikat di wilayah tersebut.
- Iran menghentikan akses di Selat Hormuz, jalur kritis yang digunakan oleh sekitar 25 persen perdagangan minyak global, menyebabkan kenaikan harga minyak secara global.
- Indonesia berpotensi mengalami dampak, karena kenaikan harga minyak global dapat memengaruhi biaya energi, logistik, dan transportasi di dalam negeri.
NEWS.COM- Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memburuk setelah pasukan AS melakukan serangan terhadap beberapa daerah di Iran selama dua hari berurutan, yaitu Rabu dan Kamis (11/6/2026).
Pemerintah Amerika Serikat menggambarkan operasi tersebut sebagai tindakan "self-defense" terhadap apa yang mereka anggap sebagai serangan dari Iran.
Serangan terbaru terjadi beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengatakan bahwa militer Amerika akan "bertindak tegas" terhadap Iran.
Washington menyatakan tujuan operasi adalah fasilitas militer krusial, seperti sistem pertahanan udara, radar, dan pusat pengendali drone.
Serangan Militer Iran, Teheran Merespons
Presiden Donald Trump juga menyatakan bahwa tekanan militer dilakukan agar Iran setuju dengan perjanjian yang diinginkan Amerika Serikat, khususnya mengenai program nuklir negara tersebut.
Namun, Iran menyangkal beberapa tuduhan yang menjadi dasar dari serangan tersebut.
Sebagai tanggapan, Teheran mengirimkan serangan rudal terhadap beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan memberi peringatan akan menanggapi dengan tindakan yang lebih besar jika serangan terus berlangsung.
Kondisi semakin memburuk setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz terhadap kapal-kapal niaga.
Lautan ini menjadi salah satu jalur energi paling kritis di dunia karena sekitar seperempat perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global melalui wilayah tersebut.
Harga Minyak Dunia Meroket
Kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi langsung memicu kenaikan tajam harga minyak global. Minyak Brent sempat mencapai lebih dari US$95 per barel, setara dengan Rp 1.708.670 berdasarkan kurs 1 dolar AS senilai Rp 17.982, sementara minyak mentah Amerika Serikat (WTI) meningkat mendekati US$93 per barel, atau setara Rp 1.672.326.
Pada saat yang bersamaan, pasar keuangan global juga mengalami tekanan. Indeks saham utama di Amerika Serikat turun karena para investor merasa cemas bahwa konflik bisa berkembang menjadi perang yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Meski operasi militer terus berlangsung, Trump tetap menyatakan bahwa pemerintahannya masih siap untuk berdialog.
Menurutnya, Iran hanya perlu menyetujui perjanjian yang telah diajukan agar menghentikan tindakan militer.
Di sisi lain, Iran membantah pernyataan bahwa mereka telah menghubungi Trump untuk meminta penghentian serangan dan menegaskan akan merespons setiap tindakan militer Amerika Serikat.
Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Tren ini mendapat perhatian dari berbagai negara karena tidak hanya berkaitan dengan keamanan wilayah Timur Tengah, tetapi juga stabilitas ekonomi global.
Bagi Indonesia, keadaan ini memiliki makna yang signifikan. Sebagai sebuah negara yang masih tergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar, kenaikan harga minyak global berisiko menaikkan biaya energi di dalam negeri.
Jika terjadi konflik yang berlarut dan pasokan global mengalami gangguan, tekanan terhadap harga bahan bakar minyak non-subsidi, biaya pengiriman, hingga tarif angkutan bisa semakin meningkat.
Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz juga mendapat perhatian dari sektor pelayaran dan penerbangan global.
Salah satu jalur ini merupakan titik penting dalam perdagangan global. Gangguan dalam distribusi energi dari wilayah tersebut dapat memengaruhi rantai pasok dunia, termasuk biaya pengiriman barang ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sampai saat ini, belum ada kejelasan apakah kedua belah pihak akan kembali berunding atau justru memperkuat aktivitas militer mereka.
Namun, pasar global tampaknya telah memprediksi bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga energi serta kondisi ekonomi dunia dalam waktu dekat.
(oln/rt/wn/*)