Dampak Produksi, Ini Rekomendasi Saham Amman Mineral (AMMN) -->

Dampak Produksi, Ini Rekomendasi Saham Amman Mineral (AMMN)

8 Jun 2026, Senin, Juni 08, 2026

bengkalispos.com.CO.ID – JAKARTA. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat kinerja yang baik pada kuartal I-2026. Tingkat produksi hingga harga komoditas diperkirakan menjadi beberapa faktor yang berdampak pada kinerja AMMN di masa depan.

Hasan Barakwan, analis dari Maybank Sekuritas, menyatakan bahwa kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan pemulihan yang signifikan karena sektor pertambangan berhasil mendapatkan akses yang lebih baik terhadap bijih dan peningkatan produksi di hilir tetap berlangsung.

AMMN menjual 30.013 ton metrik kering (dmt) konsentrat, 28.764 ton katoda, dan 16.043 ons emas murni.

Hambatan utama adalah biaya tambang yang lebih besar akibat jarak pengiriman yang lebih jauh dan penggunaan bahan bakar, ditambah dengan perawatan pabrik peleburan yang menyebabkan penggunaannya tidak maksimal.

"Pada kuartal kedua tahun 2026, produksi diperkirakan akan naik seiring berakhirnya pembatasan izin ekspor dan peningkatan kapasitas pabrik peleburan/PMR (pemurnian logam mulia)," kata Hasan dalam laporannya pada 3 Juni 2026.

Namun, mengingat tingkat penggunaan pada kuartal I – 2026 jauh lebih rendah dari perkiraan awal Maybank Sekuritas, Hasan menurunkan estimasi laba AMMN untuk tahun fiskal 2026 – 2028 karena model terbaru mengasumsikan pertumbuhan produksi peleburan yang lebih perlahan dan harga jual rata-rata emas yang lebih rendah.

Hasan mengurangi proyeksi pendapatan sebesar 5,4% dan menurunkan perkiraan laba bersih sebesar 28,4%, akibat penurunan volume penjualan tembaga dan emas serta tingkat utilisasi peleburan sebesar 75%.

Proyeksi laba bersih untuk tahun fiskal 2027 dan 2028 masing-masing dikurangi sebesar 27,5% dan 25%, karena margin yang lebih rendah serta harga jual rata-rata emas sebesar US$ 4.500 per troy ons, meskipun volume tembaga tetap sama.

Berbeda dengan proyeksi Maybank Sekuritas, Igor Putra, analis UBS Sekuritas Indonesia, memprediksi ekspor konsentrat mencapai 50.000 dmt pada kuartal keempat tahun 2026, naik dari 30.000 dmt pada kuartal pertama tahun 2026.

Hal ini disebabkan oleh fokus AMMN dalam meningkatkan produksi katoda tembaga.

Produksi konsentrat diperkirakan tumbuh signifikan menjadi 168.000 dmt (meningkat 110% year-on-year), didorong oleh penambangan bijih baru yang kuat dan pengurangan penambangan limbah.

Hal tersebut menghasilkan 46.000 kiloton tembaga dan 136.000 ounce emas dalam konsentrat, yang meningkat signifikan secarayear on year (yoy).

Produksi katoda tembaga naik 43 kali lipat secara tahunan berbanding tahun sebelumnya tetapi mengalami penurunan secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ) karena perawatan pabrik peleburan pada kuartal pertama tahun 2026.

Harga jual rata-rata (ASP) untuk logam tembaga dan emas pada tahun 2026 diperkirakan masing-masing sebesar US$ 11.627 per ton metrik dan US$ 5.000 per ons troi.

Menurut Igor, kenaikan penjualan katoda tembaga, asam sulfat, dan emas olahan dipengaruhi oleh pertumbuhan produksi konsentrat serta peningkatan kadar tembaga/emas yang diproses.

Biaya tambang mungkin tetap tinggi namun akan kembali normal seiring dengan meningkatnya produksi, pengurangan limbah pertambangan, dan biaya bahan bakar yang stabil.

"Kami memprediksi harga tembaga, emas, dan asam sulfat berat akan tetap tinggi, mengingat pergerakan pasokan dan permintaan tembaga serta ketegangan yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah," kata Igor dalam laporannya pada 30 April 2026.

Analis dari Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, memprediksi kinerja AMMN pada tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Keyakinan ini didasarkan pada peningkatan kualitas bijih, pemanfaatan smelter yang lebih optimal, serta tren harga komoditas yang tetap stabil.

"Meskipun demikian, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Termasuk risiko pelaksanaan teknis operasional, fluktuasi pasar luar negeri, serta perubahan sentimen ekonomi makro global," kata Adrian kepada bengkalispos.com, Senin (8/6/2026).

Dari segi kinerja saham, Research Investment Stockbit Sekuritas Theodorus Melvin & Andrian Tanuwijaya menyebutkan, saham Amman Mineral Internasional (AMMN) mengalami penurunan sebesar 52% secarayear to date(YTD) dan telah direvisi 79% dariall–time highMei 2024 disebabkan oleh 2 faktornon–strukturadia yang kini telah berubah.

Pertama, peralihan operasi pertambangan dari tahap 7 ke tahap 8 sertashutdown pabrik pengolahan, yang menyebabkan laba bersih tahun 2025 turun sebesar 61% secarayear on year (yoy) dan forced selling pasca–kecualiannya MSCI yang berlaku pada 29 Mei 2026.

“Kami menemukan tingkat yang menarik untuk akumulasi saham AMMN, seiring pemulihan kinerja yang telah terbukti pada kuartal I – 2026 dengan laba bersih sebesar US$ 160 juta dan pertumbuhan produksi konsentrat sebesar 110% year-on-year,” kata Melvin & Andrian dalam risetnya pada 30 Mei 2026.

Hasan memprediksi pendapatan dan laba bersih AMMN pada tahun 2026 masing-masing mencapai US$ 4,07 miliar dan US$ 871 juta. Sementara itu, pada tahun 2025, AMMN meraih pendapatan sebesar US$ 1,84 miliar dan laba bersih sebesar US$ 249 juta.

Hasan dan Igor menyarankan membeli saham AMMN dengan harga target Rp 5.500 per saham dan Rp 8.800 per saham. Melvin menyarankanaccumulative buysaham AMMN memiliki target harga sebesar Rp 4.900 per saham.

Sementara Adrian merekomendasikan sikap wait and sedengan mempertimbangkan kondisi pasar dalam negeri yang belum mendukung.

TerPopuler