
Pergi Haji di Usia Muda, Generasi Z Rela Menabung Selama Beberapa Tahun Untuk Mendapatkan Nomor Porsi
JATENG.COM, BATANG -Sebuah fenomena baru mulai muncul di Kabupaten Batang, di mana dahulu ibadah haji sering dikaitkan dengan usia tua, kini generasi Z justru memburu kesempatan untuk berhaji sejak usia masih muda.
Bukan hanya mengikuti arus keagamaan, mereka memahami bahwa panjangnya antrean keberangkatan menjadikan pendaftaran lebih awal sebagai investasi dalam ibadah jangka panjang.
Peningkatan minat terlihat di Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Batang dalam beberapa minggu terakhir.
Pemuda datang membawa dokumen pendaftaran, beberapa di antaranya baru menikah beberapa tahun lalu dan masih dalam proses membangun bisnis.
Mereka bersedia menabung selama bertahun-tahun agar bisa mendapatkan nomor porsi haji lebih dulu.
Salah satu pasangan muda dari Kecamatan Blado, yaitu Krisna Abdul Yusuf (27) dan Nurul Istiqomah (26).
Pasangan suami istri itu berhasil mendaftar sebagai calon jamaah haji setelah mengumpulkan hasil usaha mereka selama dua tahun.
Bagi keduanya, keputusan untuk mendaftar di usia muda bukan hanya bertujuan memperoleh status mampu, tetapi juga strategi agar bisa menjalankan ibadah haji ketika kondisi tubuh masih sehat.
"Jika mendaftar sekarang, perkiraan keberangkatannya sekitar 26 tahun lagi. Jadi nanti saat berangkat, usia kami masih cukup sehat untuk menjalani seluruh rangkaian ibadah haji," ujar Krisna kepada jateng, Selasa (9/6/2026).
Pasangan muda tersebut mengakui telah mengumpulkan dana secara bertahap hingga akhirnya memiliki tabungan sebesar Rp50 juta agar bisa mendapatkan kesempatan berhaji bersama.
Setelah secara resmi menerima nomor antrian, mereka berencana untuk kembali menabung guna membayar lunas di masa depan.
"Karena masih lama, kami mulai menyiapkan dana pelunasan sekarang. Apalagi kemungkinan biaya haji juga bisa meningkat," katanya.
Peningkatan minat masyarakat muda dalam melakukan ibadah haji juga diakui oleh petugas layanan Bank Muamalat di Kantor Kementerian Haji Batang, Rizky Yoga.
Hanya sejak awal bulan Juni, pihaknya telah membantu sekitar 60 calon jemaah dalam mendapatkan kuota haji dengan kisaran usia antara 20 hingga 50 tahun.
Menurutnya, sebagian besar pendaftar muda datang dengan kesadaran sendiri tanpa tekanan dari orang tua.
Mereka mulai menyadari bahwa antrian yang panjang menjadikan pendaftaran awal sebagai langkah yang penting.
"Kini banyak pemuda yang berpikir secara realistis. Jika mendaftar terlalu lama, usia untuk berangkat bisa terlalu tua," katanya.
Di sisi lain, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Batang, Siti Mahmudah, menganggap besarnya minat generasi Z sebagai tanda meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan ibadah haji sejak awal.
Pada bulan Mei 2026, sekitar 200 warga Batang terdaftar untuk mendapatkan nomor porsi haji, dengan sebagian besar berasal dari kalangan pemuda.
"Didominasi oleh generasi Z. Mereka mulai menyadari bahwa haji adalah ibadah yang bersifat fisik, sehingga persiapan sejak muda menjadi pilihan terbaik," kata Siti.
Ia bahkan menyarankan para orang tua yang memiliki kemampuan ekonomi untuk mulai mendaftarkan anak mereka sejak berusia 12 tahun.
Dengan masa tunggu sekitar 26 tahun, calon jemaah diperkirakan akan berangkat ketika masih dalam kondisi usia yang produktif dan tubuh lebih sehat.
"Jika mendaftar pada usia 12 tahun, kemungkinan akan berangkat sekitar usia 39 tahun. Itu masih sangat ideal untuk menjalankan ibadah haji," tutupnya. (Ito)