
IRANmengaku melakukan serangan terhadap basis militerAmerika Serikatdi Bahrain dan Kuwait, serta menargetkan dua kapal di Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat yang kembali dilakukan terhadap negara tersebut.
Angkatan Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah melakukan serangan drone terhadap Bandara Udara Sheikh Isa di Bahrain serta Bandara Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al-Jaber di Kuwait pada hari Kamis pagi tanggal 11 Juni 2026.
Dua kapal tanker minyak yang berusaha "melewati Selat Hormuz secara ilegal" juga menjadi sasaran serangan, menurut pernyataan mereka. Al Jazeera.
IRGC mengklaim Amerika Serikat melakukan "pelanggaran berulang" terhadap perjanjian gencatan senjata yang berlaku pada 8 April. Mereka juga menyatakan bahwa Selat Hormuz akan ditutup sampai ada pemberitahuan lebih lanjut. Mereka menegaskan bahwa seluruh lalu lintas di jalur laut tersebut — termasuk kapal tanker minyak dan kapal niaga — akan mengalami dampak.
Serangan itu terjadi setelah Komando Pusat Amerika Serikat mengumumkan serangan terhadap "berbagai sasaran" di dalam Iran. Militer menyatakan bahwa serangan tersebut diperintahkan oleh Presiden Donald Trump dan "sebagai respons terhadap agresi Iran yang tidak masuk akal dan terus-menerus".
Lembaga media pemerintah Iran melaporkan terjadinya ledakan di Pulau Qeshm serta di kota Bandar Abbas dan Sirik yang berada sepanjang Selat Hormuz.
Ledakan juga menyerang kota Kargan di bagian selatan, melukai paling sedikit dua orang.
Helikopter Apache
Pertukaran serangan terkini terjadi satu hari setelah kedua belah pihak saling menyerang akibat jatuhnya helikopter Apache Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Iran menyatakan bahwa mereka menargetkan Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain, pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait, serta pangkalan udara di Azraq, Yordania pada hari Rabu, sementara Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Pulau Qeshm serta pelabuhan Sirik, Jask, dan Bandar Abbas.
Teheran menyatakan serangan Amerika Serikat merusak dua bendungan air dan merusak menara komunikasi.
Di Gedung Putih pada hari Rabu, Trump menyalahkan Iran atas penundaan negosiasi untuk mencapai perdamaian dan memperingatkan akan melakukan serangan yang sangat keras terhadap negara tersebut.
"Kami melihat apa yang terjadi dengan perjanjian tersebut. Kita sudah sangat dekat mencapai kesepakatan. Namun mereka terus menunda-nunda. Mereka terus memperlakukan kami secara tidak serius," katanya kepada para jurnalis.
Sebelumnya pada hari yang sama, presiden Amerika Serikat menulis di platform Truth Social miliknya bahwa Iran telah terlalu lama berunding untuk mencapai kesepakatan damai dan "sekarang mereka harus merasakan konsekuensinya".
Dalam wawancara selanjutnya dengan Fox News, ia juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara tersebut enggan menandatangani kesepakatan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian merespons melalui unggahan di X.
"Infrastruktur yang penting adalah jantung rakyat. Ancaman terhadap infrastruktur ini—mulai dari jaringan transportasi hingga sektor listrik dan air—bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan tanda ketidakmampuan dalam menghadapi tekad sebuah bangsa," tulisnya.
"Iran, dengan memanfaatkan pengetahuan dan keahlian para ahlinya, persatuan nasional, serta solidaritas, akan tetap tangguh menghadapi segala tekanan atau ancaman," tambahnya.
Iran-Israel
Peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terjadi beberapa hari setelah Israel dan Iran saling menembak dalam bentrokan terberat sejak gencatan senjata bulan April. Hal ini mengakhiri serangan besar-besaran AS-Israel terhadap Iran selama berminggu-minggu serta balasan serangan Iran di seluruh Teluk.
Lalu lintas di Selat Hormuz tetap terbatas sejak saat itu, sehingga menyebabkan kenaikan harga minyak dan bahan makanan secara global.
Iran pertama kali menghentikan akses laut tersebut – yang dahulu dilalui sekitar 20% pasokan energi global – pada awal perang. Iran pernah mencabut pembatasan itu sebelum menerapkannya kembali setelah Amerika Serikat memberlakukan larangan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Perkembangan menuju kesepakatan perdamaian tetap berjalan perlahan.
Pihak-pihak yang terlibat dalam diskusi tidak langsung berupaya mencapai kesepakatan sementara guna menghentikan perselisihan sambil menunda program nuklir Iran ke pembicaraan di masa depan.
Namun, masih terdapat beberapa hal yang menjadi hambatan. Iran meminta pencairan aset dalam miliaran dolar yang telah dibekukan serta penghapusan sanksi.
Yang semakin memperburuk situasi adalah serangan Israel yang semakin gencar di Lebanon melawan Hizbullah yang didukung oleh Iran.
Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai dengan Washington harus melibatkan berhentinya pertikaian di Libanon. Sementara itu, Israel bersikeras bahwa serangannya ke sana merupakan konflik yang terpisah.