Jadilah raja, bukan hamba di tanah airmu -->

Jadilah raja, bukan hamba di tanah airmu

9 Jun 2026, Selasa, Juni 09, 2026

bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA-Terdapat sebuah pertanyaan yang lebih tua dibandingkan dengan republik ini.

Pertanyaan ini selalu mengiringi manusia sejak awal mereka mengenal kekuasaan, membangun kota, mengumpulkan harta, dan menciptakan peradaban.

Bukan tentang bagaimana menjadi besar. Tapi bagaimana tidak runtuh saat kesempatan untuk menjadi besar akhirnya tiba.

Sejarah membuktikan bahwa banyak bangsa yang gagal bukan disebabkan oleh kemiskinan. Banyak kerajaan yang jatuh bukan karena kekurangan sumber daya. Banyak peradaban yang menghilang bukan karena musuhnya terlalu kuat. Mereka runtuh karena tidak mampu mengatur diri sendiri.

Mesir pernah menjadi pusat peradaban dunia. Yunani pernah menjadi cahaya pemikiran manusia. Romawi pernah menguasai wilayah yang sangat luas. Abbasiyah pernah menjadi tempat berkembangnya ilmu pengetahuan. Ottoman pernah menjadi kekuatan yang dihormati oleh seluruh dunia.

Namun waktu memberikan pelajaran yang sama kepada semua orang: mendapatkan kekuasaan terbukti lebih mudah dibandingkan mengelola kekuasaan. Mengumpulkan kekayaan terbukti lebih sederhana daripada memanfaatkan kekayaan secara bijak. Menjadi besar terbukti lebih mudah dibandingkan tetap sehat pikiran ketika kebesaran itu tiba.

Oleh karena itu, jika kita mempelajari sisa-sisa peradaban yang pernah berkembang, penyebab kehancuran mereka sering kali tidak terletak di luar dinding mereka.

Ia ditemukan di dalam.

Dalam keinginan yang berkembang tanpa batas.

Dalam kalangan elit yang lebih mengutamakan pengaruh daripada tanggung jawab.

Dalam kelompok-kelompok yang lebih aktif, menjaga keistimewaan lebih diutamakan daripada meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dalam masyarakat yang perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara kebenaran dan kepentingan.

Jatuhnya sering kali tidak muncul seperti badai yang terlihat dari jauh.

Ia berkembang perlahan di ruang tengah rumah tersebut.

Pekerja membersihkan debu jalan di Exit Pemalang Beji tol Brebes-Gringsing, Jateng, Selasa (12/6/2026). - (bengkalispos.com/Prayogi)
 

Mungkin itulah mengapa tantangan terbesar yang saat ini dihadapi Indonesia bukanlah pertanyaan ekonomi.

Bukan pula pertanyaan politik.

Bukan pertanyaan militer.

Bukan pertanyaan mengenai sumber daya alam.

Semua hal tersebut penting, namun semuanya berada di permukaan.

Pertanyaan yang lebih mendalam adalah: apakah negara ini sudah cukup matang untuk menghadapi peluang sejarah yang sedang berada di depan mata?

Indonesia memasuki abad ke-21 dengan bekal yang tidak dimiliki oleh banyak negara.

Di bawah permukaan bumi terdapat berbagai sumber daya penting yang diperlukan oleh dunia modern. Nikel, tembaga, emas, bauksit, gas, serta berbagai mineral kritis yang menjadi bahan dasar teknologi di masa depan.

Di lautnya membentang jalur perdagangan yang menghubungkan dua samudra dan berbagai pusat ekonomi dunia.

Di daratannya hidup lebih dari 280 juta manusia yang menjadikan Indonesia salah satu kekuatan sosial dan ekonomi terbesar di planet ini.

Dalam bahasa geopolitik, Indonesia bukan negara pinggiran.

Indonesia merupakan salah satu pusat penting bagi masa depan dunia.

Dan justru karena hal itu, Indonesia tidak pernah hidup dalam suasana yang kosong dari kepentingan.

Masa lalu selalu memiliki pendekatan yang mudah untuk berjalan.

Di mana ada kekayaan, di sanalah muncul persaingan.

Di mana ada pengaruh, di situ timbul persaingan.

Di mana ada kesempatan besar, di situ muncul banyak pihak yang ingin ikut serta.

Oleh karena itu, ketika Indonesia saat ini melakukan perbaikan besar-besaran di berbagai bidang seperti ekonomi, sumber daya alam, pangan, energi, pertahanan, birokrasi, kepolisian, intelijen, pendidikan, dan sektor-sektor lainnya, sebenarnya tidak ada alasan untuk kaget jika muncul konflik kepentingan, perbedaan pandangan, persaingan narasi, bahkan upaya-upaya untuk memanfaatkan situasi.

   

Yang justru mencurigakan adalah jika perubahan sebesar itu terjadi tanpa adanya penolakan.

Karena tidak pernah ada suatu bangsa yang berhasil mengganti posisi sejarahnya tanpa mengganggu kenyamanan lama.

Jepang mengalaminya saat memasuki masa restorasi Meiji.

Korea Selatan mengalaminya saat keluar dari kondisi miskin.

Tiongkok mengalaminya saat melakukan perubahan ekonomi.

Bahkan negara-negara Barat yang kini dianggap maju pernah mengalami perjuangan berat saat melakukan perubahan diri.

Karena yang benar-benar berubah bukan hanya sekadar aturan.

Yang berbeda adalah penyebaran manfaat.

Yang berubah adalah penyebaran kekuasaan.

Yang berbeda adalah penyebaran kekuasaan.

Dan setiap perubahan dalam pembagian kekuasaan selalu menghasilkan kelompok yang berharap dan kelompok yang merasa kehilangan.

Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia mulai menunjukkan semangat yang makin kuat untuk meninggalkan posisi lama.

Kemauan untuk berhenti menjadi penyedia bahan baku.

Keinginan untuk menciptakan nilai tambahan.

Keinginan untuk memperkuat ketersediaan pangan.

Keinginan untuk memperkuat kemandirian energi.

Keinginan untuk menata birokrasi.

Keinginan untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya alam.

Keinginan untuk memperkuat peran pemerintah dalam melindungi masyarakat kecil.

 

Berbagai kebijakan dapat diperdebatkan.

Berbagai pelaksanaan dapat dikritik.

Banyak kelemahan perlu terus diperbaiki.

Namun di balik semua perdebatan tersebut terdapat pertanyaan yang lebih besar.

Apakah Indonesia berupaya mengubah dirinya dari objek menjadi subjek dalam sejarah?

Jika jawabannya adalah ya, maka bangsa ini perlu bersiap menghadapi seluruh akibatnya.

Karena dunia seringkali tidak sepenuhnya nyaman dengan munculnya pemain baru.

Selama beberapa dekade, Indonesia sering dianggap sebagai pasar.

Sebagai sumber bahan mentah.

Sebagai wilayah pengaruh.

Sebagai objek investasi.

Sebagai lokasi di mana berbagai kepentingan bersatu.

Namun sejarah yang besar tidak pernah ditulis oleh suatu bangsa yang puas hanya menjadi objek.

Masa lalu dicatat oleh bangsa yang berani menentukan jalannya sendiri.

Di sinilah keputusan penting itu berada.

Apakah Indonesia akan menjadi geostrategic player yang ikut membentuk arah kawasan dan dunia?

Ataukah Indonesia akan tetap menjadi objek geopolitik yang arah perjalanannya lebih banyak ditentukan oleh kekuatan dari luar negeri?

Pilihan ini tidak ditentukan oleh pidato dan ceramah ilmiah dari satu forum seminar ke seminar lainnya.

Tidak ditentukan oleh slogan.

Tidak dipengaruhi oleh kegaduhan di media sosial.

Pilihan tersebut ditentukan oleh tingkat kesadaran bersama masyarakat.

Karena negara yang kaya tidak selalu memiliki kedaulatan.

Negara yang luas belum tentu memiliki pengaruh.

Negara yang kuat belum tentu memiliki kemerdekaan yang sebenarnya.

Banyak orang menganggap ancaman terbesar bagi suatu bangsa selalu datang dari luar.

Meskipun sejarah justru menunjukkan kebalikannya.

Ancaman terbesar sering kali muncul dari dalam.

Bukan dalam bentuk ancaman fisik atau senjata serta kudeta kekuasaan.

Bukan berupa kapal perang.

Bukan dalam wujud pasukan asing.

Namun dalam bentuk yang jauh lebih lembut.

Kebutuhan yang disamaratakan sebagai ambisi.

Permusuhan yang bersembunyi di balik kebenaran.

Pengaruh yang disampaikan dengan tampak seperti data.

Kepentingan pribadi yang berpura-pura sebagai perjuangan umum.

Pada saat itu, bangsa mulai kehilangan ketajaman pikirannya.

Dan ketika suatu negara kehilangan keterjelasan pikirannya, ia mudah dikendalikan oleh rasa takut.

Meskipun sebagian besar peristiwa besar dalam sejarah manusia muncul ketika rasa takut menguasai akal sehat.

Oleh karena itu, ukuran keberhasilan Indonesia tidak boleh terbatas pada angka-angka.

Tidak boleh berhenti pada pertumbuhan ekonomi.

Tidak boleh berhenti hanya pada investasi.

Tidak boleh berhenti pada pengembangan infrastruktur.

 

Semua itu penting.

Tetapi semuanya hanyalah alat.

Tujuan akhirnya tetap manusia.

Apakah petani mendapatkan harga yang pantas?

Apakah nelayan mampu melaut dengan tenang?

Apakah buruh bekerja dengan martabat?

Apakah guru dihormati?

Apakah anak-anak memiliki masa depan yang lebih baik daripada orang tuanya?

Apakah rakyat kecil merasa negara hadir ketika mereka membutuhkan perlindungan?

Di situlah sesungguhnya seluruh teori ekonomi, geopolitik, pertahanan, dan pembangunan diuji.

Karena pada akhirnya, sebuah negara tidak dibentuk untuk memperkuat negara itu sendiri.

Negara didirikan guna memulyakan warga yang tinggal di dalamnya.

Namun, hal itu belum mencapai lapisan paling dalam.

Karena masalah utama Indonesia sebenarnya bukan terkait dengan Indonesia.

Masalah utama Indonesia adalah masalah manusia.

Masalah yang sama yang pernah dihadapi oleh Mesir, Romawi, Abbasiyah, Ottoman, serta sebagian besar peradaban besar sepanjang sejarah.

Apakah manusia mampu mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi?

Apakah manusia mampu mengendalikan diri ketika memiliki kekuasaan?

Apakah manusia bisa tetap adil jika diberi kesempatan untuk bertindak sebaliknya?

Apakah manusia bisa melihat masa depan ketika keuntungan singkat berada di hadapannya?

Pada akhirnya, nasib suatu negara selalu mencerminkan kualitas individu yang membentuknya.

Karena negara hanyalah nama.

Institusi hanyalah alat.

Konstitusi hanyalah teks.

 

Yang memberi kehidupan kepada segalanya adalah sifat manusia.

Mungkin karena hal itu, ujian terbesar Indonesia di abad ini bukanlah ujian kemakmuran.

Bukan ujian teknologi.

Bukan ujian militer.

Bukan ujian geopolitik.

Melainkan ujian kedewasaan.

Apakah ketika sejarah akhirnya memberi kesempatan kepada bangsa ini untuk menjadi besar, kita cukup cerdas untuk tidak menjadi lawan bagi diri sendiri?

Karena bangsa tidak selalu kalah karena dunia terlalu kuat.

Tidak semua kegagalan bangsa disebabkan oleh keterbatasan sumber daya.

Tidak semua negara jatuh karena musuhnya terlalu kuat.

Terkadang suatu bangsa kalah karena tidak mampu mengatasi hal-hal yang jauh lebih dekat.

Kebutuhan yang tersembunyi di dalam dirinya.

Kebanggaan diri yang mengurangi kewajaran.

Ketakutan yang memecah persatuan.

Kepentingan pribadi yang mengorbankan masa depan bersama.

Jika hal tersebut terjadi, Indonesia tidak akan menjadi pihak yang tunduk di tanah airnya sendiri karena bangsa lain terlalu kuat.

Indonesia akan menjadi pelayan di rumah sendiri karena gagal menjadi pemilik atas dirinya sendiri.

Namun jika bangsa ini mampu menjaga ketajaman pikirannya, keberanian moralnya, serta kemauannya untuk menjadikan rakyat sebagai tujuan dari seluruh kekuasaan yang dimilikinya, maka Indonesia tidak hanya akan berkembang menjadi sebuah negara yang sukses.

Indonesia bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Peradaban yang menunjukkan bahwa kelimpahan bisa beriringan dengan keadilan.

Bahwa kekuasaan dapat beriringan dengan tanggung jawab.

Bahwa perkembangan bisa beriringan dengan kemanusiaan.

Dan bahwa kemerdekaan yang sebenarnya bukanlah saat bangsa lain berhenti menindas kita, melainkan ketika kita mampu mengendalikan diri sendiri.

TerPopuler