
Perselisihan Amerika Serikat-Israel di Tengah Perang Iran, Departemen Pertahanan Meningkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Terbesar
Ringkasan Berita:
- Beberapa media Amerika Serikat melaporkan bahwa Pentagon meningkatkan tingkat ancaman spionase Israel menjadi "sangat serius" di tengah ketegangan yang berkaitan dengan Iran dan Lebanon.
- Laporan tersebut menyebutkan bahwa pejabat tinggi pemerintahan Donald Trump menjadi target pengumpulan informasi intelijen oleh Israel.
- Pihak Gedung Putih dan Kedutaan Besar Israel menyangkal tuduhan tersebut, sementara hubungan antara Trump dengan Benjamin Netanyahu dikabarkan sedang memburuk.
NEWS.COM- Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat (AS) (Defense Intelligence Agency/DIA) dilaporkan meningkatkan tingkat ancaman yang datang dari kegiatan spionase Israel menjadi paling tinggi.
Data tersebut diungkap oleh beberapa laporan media Amerika Serikat,NBC News dan The New York Timesdi tengah meningkatnya ketegangan hubungan antara Washington dan Tel Aviv terkait isu Iran serta perselisihan di Lebanon.
Berdasarkan laporan dua media tersebut, penilaian internal yang beredar dalam beberapa minggu terakhir meliputi dokumen sebanyak tujuh halaman dan grafik yang mengklasifikasikan kemampuan pengumpulan intelijen manusia serta teknis Israel pada tingkat "kritis".
Laporan The New York Timesmengatakan beberapa pejabat tinggi pemerintahan Presiden Donald Trump menjadi objek pengawasan.
Beberapa pejabat pemerintah Amerika Serikat antara lain utusan utama AS dalam pembicaraan dengan Iran, Steve Witkoff, pejabat kebijakan tinggi di Pentagon, Elbridge Colby, serta salah satu wakilnya, Michael DiMino.
Mengutip sumber yang mengetahui permasalahan tersebut,NBC News dan The New York Timesmenyebutkan bahwa aparat intelijen Amerika Serikat semakin cemas terhadap kegiatan intelijen Israel yang diduga berusaha mengumpulkan informasi mengenai pembicaraan internal pemerintahan Trump tentang Iran dan Lebanon.
Penilaian tersebut juga mencakup beberapa contoh kejadian tertentu, meskipun detailnya tidak diumumkan.
Seorang pejabat tinggi yang dikutipThe New York Timebahkan menyebut kegiatan pengawasan intelijen Israel terhadap pejabat pemerintah AS sejak awal masa jabatan kedua Trump berlangsung dengan tingkat serangan yang tidak biasa.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa tindakan mata-mata antar negara aliansi bukanlah hal yang baru.
Namun, aktivitas yang diduga dilakukan Israel dinilai melebihi kebiasaan yang umum, sehingga memicu peningkatan tingkat ancaman tersebut.
Sampai saat ini, Pentagon belum memberikan pernyataan resmi. Di sisi lain, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada NBC News bahwa semua laporan tersebut tidak benar.
Kedutaan Besar Israel di Washington juga menyangkal klaim tersebut dan menyebut laporan itu memiliki niat politik. Menurut perwakilan kedutaan, kegiatan intelijen Israel ditujukan kepada lawan-lawannya, bukan kepada negara aliansi.
Laporan mengenai dugaan tindakan mata-mata muncul di tengah ketegangan antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, khususnya terkait kebijakan terhadap Iran serta operasi militer Israel di Lebanon.
Meskipun gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang tercapai pada awal April telah diperpanjang hingga 8 Mei, pembicaraan mengenai penyelesaian menyeluruh masih menghadapi kebuntuan, khususnya terkait program nuklir Iran.
Friksi AS-Israel Makin Panas
Pada saat yang bersamaan, Israel secara terang-terangan meragukan pendekatan diplomatik Trump dan menginginkan agar opsi militer tetap dilanjutkan.
Tegangan juga dipicu oleh operasi militer Israel di Lebanon yang dimulai pada bulan Maret terhadap kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran.
Awal minggu ini, Trump mengonfirmasi laporan bahwa ia pernah menyebut Netanyahu sebagai "gila" dalam percakapan telepon yang berlangsung panas terkait operasi militer tersebut.
Trump mengakui bahwa dirinya merasa terganggu oleh terus berlangsungnya operasi militer Israel di Lebanon.
Beberapa laporan sebelumnya juga menyebutkan bahwa ia menganggap tindakan Netanyahu berpotensi mengganggu upaya negosiasi Amerika Serikat dengan Iran.
Meski Washington mengumumkan bahwa Israel dan Hizbullah telah sepakat untuk gencatan senjata, pertempuran masih berlangsung.
Pihak berwenang kesehatan Lebanon mengungkapkan serangan Israel di wilayah selatan dan timur negara tersebut dalam minggu ini menyebabkan puluhan warga sipil meninggal dan cedera.
Di sisi lain, Iran sebelumnya menyatakan bahwa mereka tidak akan menyetujui perjanjian tetap dengan Amerika Serikat jika masalah Lebanon tidak dibahas, serta memberi peringatan bahwa mereka bisa menghentikan pembicaraan jika serangan Israel terus berlangsung.
(oln/*)