Ringkasan Berita:
- Amos Harel menggambarkan isu Iran sebagai kegagalan strategis terbesar kedua Netanyahu setelah peristiwa 7 Oktober 2023.
- Konflik Gaza dianggap belum berhasil membubarkan Hamas atau mencapai "kemenangan mutlak" yang dijanjikan oleh pemerintah Israel.
- Pemahaman antara AS dan Iran memicu kritik terhadap Netanyahu dan berpotensi memperluas perbedaan pendapat antara dia dengan Presiden AS Donald Trump.
NEWS.COM- Amos Harel, analis militer Haaretz, menganggap perkembangan terkait Iran sebagai kegagalan strategis terbesar kedua dalam karier politik panjang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, hanya kalah dari dampak peristiwa 7 Oktober 2023.
Dalam laporan yang dirilis pada Selasa (16/6/2026), Harel mengatakan bahwa konflik di Gaza belum berhasil mencapai tujuan utama yang sebelumnya diumumkan oleh pemerintah Israel.
Menurutnya, aksi perlawanan Hamas belum sepenuhnya dihentikan, sementara janji 'kemenangan mutlak' yang sering diungkapkan Netanyahu belum terwujud.
Harel juga menganggap, arah perkembangan isu Iran saat ini tidak menguntungkan bagi Israel.
Ia mengatakan bahwa setiap penyelesaian yang dicapai berdasarkan aturan yang sedang berkembang kemungkinan akan mengecewakan banyak pihak di Israel, seperti yang dilaporkan pada Selasa (16/6/2026).
Menurut Harel, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terlihat berusaha mengakhiri perang dan mengurangi partisipasi militer AS di wilayah tersebut.
Ia menganggap, perjanjian yang sedang berkembang antara Washington dan Teheran berpotensi jauh dari harapan yang selama ini diharapkan oleh Netanyahu.
Selain itu, Harel mengingatkan bahwa perbedaan pendapat antara Netanyahu dan Trump bisa semakin membesar, tidak hanya berkaitan dengan Iran tetapi juga berpotensi menyebar ke masalah Lebanon.
Penilaian ini muncul di tengah meningkatnya pengritikan terhadap kepemimpinan Netanyahu selama masa konflik.
Beberapa analis di Israel menganggap perjanjian yang muncul antara Amerika Serikat dan Iran sebagai kemunduran politik bagi perdana menteri tersebut.
Media Israel juga melaporkan terjadinya rasa kecewa di dalam negeri setelah pengumuman mengenai kesepakatan antara AS dan Iran.
Beberapa pejabat mengakui terjadinya penurunan kualitas hubungan dengan Washington, serta munculnya pandangan bahwa Amerika Serikat (AS) telah memenuhi beberapa tuntutan Iran terkait Lebanon.
Dalam konteks yang sama, mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, menyebut perjanjian antara AS dan Iran sebagai sesuatu yang dinilai sangat negatif.
Ia menilai, Israel kini perlu menerima akibat dari sikap Netanyahu.
Media Israel tersebut menyebut Netanyahu sombong dan buta dalam perseteruannya dengan Iran.
Dan menegaskan bahwa perjanjian tersebut belum mencapai tujuan perang yang diharapkan.
(news.com/Garudea Prabawati)