Apakah pernah kamu meraih sesuatu yang sangat kamu impikan, namun rasa puas itu hanya bertahan sejenak? Setelah itu, muncul tujuan baru, kekurangan baru, atau alasan lain yang membuatmu merasa belum cukup. Padahal, jika melihat kembali, kamu telah melewati banyak hal yang dulu terasa mustahil untuk dijalani.
Peristiwa ini ternyata sering terjadi. Banyak orang terus berupaya untuk berkembang, namun pada saat yang sama kesulitan dalam menikmati hasil dari perjalanan yang telah dijalani. Akibatnya, kehidupan terasa seperti lomba tanpa garis finish. Mengapa hal itu bisa terjadi? berikut beberapa alasan mengapa kita sulit merasa puas dengan diri sendiri, menurut psikologi dan studi tentang kesejahteraan mental.
1. Otak Terbiasa Menyesuaikan Diri dengan Prestasi yang Baru
Manusia memiliki kemampuan luar biasa dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan, termasuk situasi yang positif dalam kehidupan. Berdasarkan penelitian yang dilakukanArah Terkini dalam Ilmu Psikologi (2018),fenomena yang dikenal dengan istilah hedonic adaptation menyebabkan kebahagiaan dari suatu pencapaian semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Akibatnya, apa yang sebelumnya dianggap luar biasa akhirnya dianggap biasa, dan kamu mulai mencari tujuan berikutnya.
2. Terlalu Sering Mengukur Diri Sendiri dengan Orang Lain
Di tengah era media sosial, kamu dapat melihat prestasi, penampilan, atau kehidupan orang lain kapan saja. Secara tidak sadar, kebiasaan ini menyebabkan standar kepuasan terus berubah. Berdasarkan penelitian dalamPerilaku Manusia dalam Komputer (2021),keterlibatan berlebihan dalam perbandingan sosial berdampak pada meningkatnya ketidakpuasan terhadap diri sendiri serta menurunnya kesejahteraan mental. Kamu cenderung lebih memperhatikan hal-hal yang belum dimiliki daripada pencapaian yang sudah diraih.
3. Standar yang Selalu Meningkat Seiring Berjalannya Waktu
Saat berhasil mencapai suatu tujuan, terkadang kamu langsung menetapkan target baru yang lebih tinggi. Meskipun hal ini bisa mendorong perkembangan, standar yang terus naik juga dapat menyulitkan munculnya rasa puas. Penelitian dalamSifat dan Perbedaan Individual (2019)menunjukkan bahwa kesempurnaan berkaitan dengan kecenderungan merasa hasil yang dicapai tidak pernah memadai.
4. Kamu Lebih Mengingat Kekurangan daripada Keunggulan
Otak manusia memiliki kecenderungan yang dikenal sebagai bias negatif, yakni cenderung lebih mudah mengingat kekurangan dan masalah daripada hal-hal baik. Berdasarkan penelitian dalamUlasan Psikologi Umum (2017),Dampak psikologis dari informasi negatif biasanya lebih besar dibandingkan informasi positif. Oleh karena itu, satu kekurangan kecil bisa terasa lebih berat daripada banyaknya keberhasilan yang telah kamu capai.
5. Kamu Menghubungkan Harga Diri dengan Prestasi
Banyak orang secara tidak sadar menilai harga diri mereka berdasarkan pencapaian yang berhasil. Ketika sukses, mereka merasa bernilai. Ketika gagal, mereka merasa kurang memadai. Berdasarkan penelitian dalamSelf and Identity (2020),menempatkan harga diri berdasarkan pencapaian luaran bisa membuat seseorang lebih mudah merasa tidak puas dan tertekan. Padahal, nilai dirimu tidak hanya ditentukan oleh apa yang telah kamu capai.
Oleh karena itu, mengapa kita sering kesulitan merasa puas dengan diri sendiri? Salah satu penyebabnya adalah otak cenderung memperhatikan hal-hal yang kurang, apa yang belum tercapai, serta apa yang masih bisa diperbaiki. Namun, jika tidak disadari, kebiasaan ini bisa membuatmu terus berlari tanpa pernah menikmati prosesnya.
Tumbuh dan memiliki tujuan memang penting. Namun, sesekali berhenti sejenak dan melihat sejauh mana kamu telah berjalan. Tidak semua orang mampu melewati hal-hal yang telah kamu lalui hari ini. Dan mungkin, kepuasan tidak terletak pada memiliki segalanya, tetapi pada kemampuanmu untuk menghargai diri sendiri meskipun hidup masih jauh dari sempurna.