
Layar Berita– Penduduk Peru memberikan suara dalam pemilihan presiden putaran kedua yang menghadirkan kandidat konservatif Keiko Fujimori melawan kandidat dari sayap kiri Roberto Sanchez, hari Minggu, 7 Juni 2026.
Pemilu ini merupakan momen penting bagi negara Amerika Selatan tersebut yang dalam sepuluh tahun terakhir mengalami pergantian sembilan presiden karena ketidakstabilan politik.
Sekitar 27 juta pemilih yang terdaftar berhak memilih pemimpin baru Peru untuk periode lima tahun mendatang. Namun, proses pemungutan suara berlangsung di tengah tingginya rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi politik serta meningkatnya kekhawatiran terkait keamanan dan situasi ekonomi.
Keiko Fujimori, berusia 51 tahun, kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden untuk yang keempat kalinya. Putri mantan Presiden Alberto Fujimori ini mengusung program yang menekankan stabilitas politik, keamanan, serta pertumbuhan ekonomi berlandaskan kebijakan pasar.
Di sisi lain, Roberto Sanchez, 57 tahun, anggota kongres dan mantan menteri yang berasal dari kalangan progresif, berhasil menarik perhatian masyarakat setelah mengalami peningkatan dukungan yang signifikan menjelang putaran kedua. Dalam beberapa survei terbaru, tingkat popularitas kedua kandidat berada dalam posisi yang sangat mendekati.
Ahli politik David Sulmont menganggap hasil pemilu berisiko menimbulkan masalah kelayakan jika perbedaan suara sangat sempit.
"Siapa pun yang menang kemungkinan masih akan menghadapi pertanyaan terkait sahnya kekuasaan politiknya. Kondisi ini bisa memperpanjang ketidakstabilan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir," katanya.
Pemilu kali ini diadakan setelah putaran pertama yang berlangsung pada bulan April lalu, yang dihiasi oleh berbagai masalah teknis dan tuduhan adanya kecurangan. Tidak ada kandidat yang berhasil meraih dukungan yang dominan, bahkan jumlah suara yang diperoleh Fujimori dan Sanchez dalam putaran pertama belum mencapai 30 persen dari total suara sah.
Dalam kampanyenya, Fujimori menekankan perlunya menjaga kestabilan ekonomi serta memperkuat keamanan negara. Ia juga memberi peringatan kepada pemilih agar tidak membawa Peru menuju sistem ekonomi yang menurutnya bisa menghambat investasi dan perkembangan ekonomi.
Di sisi lain, Sanchez berusaha memperoleh dukungan dari kelompok masyarakat yang menginginkan perubahan dalam politik. Ia menawarkan rencana peningkatan kesejahteraan, reformasi lembaga, serta pemberantasan korupsi yang dianggap sebagai akar dari berbagai masalah nasional.
Sanchez juga berusaha meyakinkan kalangan bisnis dengan menegaskan komitmennya terhadap perekonomian yang terbuka serta kemandirian bank sentral yang selama ini menjadi dasar dari stabilitas ekonomi Peru.
Ketertiban menjadi topik utama dalam pemilu tahun ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Peru menghadapi peningkatan kegiatan kelompok kriminal, pemerasan, dan tindakan kekerasan yang menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat.
Fujimori mengusulkan pendekatan keras dengan memperkuat alat keamanan, pengawasan daerah yang rentan tindak kejahatan, serta kebijakan penegakan hukum yang lebih ketat.
Sebaliknya, Sanchez berpendapat bahwa masalah keamanan perlu diselesaikan dengan mereformasi institusi kepolisian dan sistem peradilan, termasuk mengatasi praktik korupsi yang dianggap memberi ruang bagi jaringan kriminal.
Meskipun menghadapi ketegangan politik, Peru tetap menjaga kondisi ekonomi yang cukup stabil. Pertumbuhan ekonomi mencatatkan angka di atas tiga persen dengan tingkat inflasi yang terkendali. Namun, masih ada tantangan besar karena sebagian besar tenaga kerja berada di sektor informal.
Ahli politik Jeffrey Radzinsky berpendapat bahwa siapa pun yang menang dalam pemilu akan menghadapi tantangan berat karena tidak memiliki dukungan mayoritas yang kuat di parlemen.
Menurutnya, pemerintahan yang baru perlu menciptakan aliansi dan kerja sama politik yang luas agar mampu menjalankan program pemerintahan secara efisien hingga akhir periode jabatannya.
Pemenang pemilu akan diambil sumpah pada 28 Juli 2026 dan menggantikan Presiden sementara Jose Maria Balcazar. Hasil pemungutan suara diprediksi akan menjadi penentu arah politik Peru di tengah upaya keluar dari krisis kepercayaan publik yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir.***