
Ringkasan Berita:
- Tim Tari Saman dari Duta Saman Institute (DSi) menggelar pelatihan di Sekolah Dasar Chungriyeoul, Busan.
- Kegiatan ini termasuk dalam rangkaian Busan International Dance Festival (BIDF) 2026.
- Siswa SD di Korea Selatan mengikuti pelajaran tentang nilai kerja sama serta dasar-dasar tari Saman.
- Partisipasi ini berfungsi sebagai alat diplomasi budaya yang alami antara Indonesia dan Korea Selatan.
Liputan Jurnalis Gayo Fikar W Eda | Busan, Korea Selatan
Gayo.com, BUSAN- Pada pagi hari, Aula Sekolah Dasar Chungriyeoul di Busan, Korea Selatan, dipenuhi dengan suara tawa anak-anak.
Mereka duduk berbaris dengan rasa penasaran yang besar.
Di hadapan mereka, para penari Saman memperagakan gerakan demi gerakan yang selama ratusan tahun diwariskan dari dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh, Indonesia.
Workshop Tari Saman di Sekolah Dasar Korea Selatan
Pada Senin (8/6/2026), Tari Saman tidak hanya menjadi hiburan dalam rangkaian Busan International Dance Festival (BIDF).
Untuk beberapa jam, tarian yang telah diakui dunia itu berubah menjadi pelajaran hidup bagi puluhan siswa sekolah dasar Korea Selatan.
Workshop Saman tersebut dipimpin langsung oleh Aminullah Adnan, CEO sekaligus pelatih Duta Saman Institute (DSi), didampingi dua asisten pelatih muda, Khairul Anwar dan Said Ahmad.
Seluruh anggota tim Saman yang hadir di Busan ikut serta mendampingi siswa-siswi.
Kegiatan dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama diikuti siswa kelas satu hingga kelas tiga, sementara sesi kedua diperuntukkan bagi siswa kelas empat hingga kelas enam.
Pembagian tersebut dilakukan agar setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar dengan lebih dekat dan nyaman.
Pada awal kegiatan, Aminullah menjelaskan bahwa Tari Saman bukan hanya sekadar tarian khas Aceh.
Ia menjelaskan bahwa di balik gerakan yang cepat dan seragam, terdapat nilai-nilai kehidupan yang senantiasa dilestarikan oleh masyarakat Gayo.
"Saman bukan sekadar tentang keindahan gerakan. Namun lebih pada semangat persatuan dan saling menjaga," ujar Aminullah di depan para siswa.
Kalimat sederhana menjadi jembatan yang menyatukan dua budaya yang berbeda.
Siswa Sekolah Dasar Korea Selatan Mengikuti Pelajaran Tari Saman
Anak-anak yang sebelumnya hanya mengamati dengan penuh rasa penasaran, perlahan mulai mematuhi petunjuk.
Mereka mempelajari cara duduk berbaris, menjaga postur tubuh, serta mengikuti irama tepuk yang menjadi ciri khas Saman.
Terkadang, terdengar tawa saat gerakan mereka belum seirama.
Namun, justru di tempat itulah suasana yang hangat muncul.
Para siswa tidak merasa sedang mengikuti pelajaran yang sulit. Mereka menikmati setiap prosesnya sebagai permainan yang menyenangkan.
Anggota tim Saman dengan sabar memberikan pendampingan. Mereka memperbaiki posisi tangan, mengajarkan pola tepuk yang sederhana, serta memberi dukungan ketika anak-anak mampu mengikuti gerakan secara bersamaan.
Pemandangan tersebut menyentuh hati. Di sebuah sekolah dasar di Busan, budaya yang lahir jauh ribuan kilometer dari sana menemukan tempat sementara di hati anak-anak Korea.
Bahasa mungkin berbeda, namun irama kebersamaan ternyata bisa dengan mudah dipahami oleh siapa pun.
Beberapa murid terlihat sangat antusias. Mereka terus-menerus berusaha menghafal gerakan yang baru diajarkan.
Saat sebuah kelompok mampu bergerak secara bersamaan, tepuk tangan spontan terdengar dari rekan-rekan mereka.
Untuk DSi, acara tersebut memiliki makna yang lebih mendalam daripada sekadar pembelajaran tari.
Ini merupakan bentuk diplomasi budaya yang terjadi secara alami. Bukan melalui pidato panjang atau pertemuan formal, tetapi melalui interaksi sederhana antara anak-anak yang sedang belajar mengenal dunia melalui seni.
Momentum ini juga menjadi tanda penting dalam perjalanan Tari Saman di panggung dunia.
Jika sebelumnya Saman lebih sering tampil dalam pertunjukan festival, kali ini ia muncul sebagai bahan ajar dalam lingkungan sekolah.
Satu Langkah Kecil yang Mengandung Makna Besar
Di dalam kelas dan gedung aula sekolah, anak-anak Busan pertama kali mengenal Indonesia-Aceh.
Mereka mungkin belum pernah mendengar nama Gayo sebelumnya.
Namun, melalui tepukan tangan yang ritmis, gerakan yang kompak, dan pesan tentang kebersamaan, mereka mulai memahami nilai yang hidup di balik Tari Saman.
Setelah workshop selesai, para siswa masih terlihat antusias dalam meniru gerakan yang baru saja mereka pelajari.
Sementara para penari Saman siap pergi dari sekolah, mereka membawa sebuah kenangan yang tak terlupakan.
Pada hari itu, Saman juga tampil di Korea Selatan.
Ia diajarkan, dipelajari, dan sementara menjadi bagian dari kehidupan anak-anak Busan.
Suatu pertemuan budaya yang sederhana, namun menyimpan harapan bahwa persahabatan antar bangsa bisa berkembang melalui gerakan tangan, senyum, dan semangat persatuan yang sama.
Undangan dari Panitia BIDF kepada Kelompok Seni Indonesia
Sebelumnya, kelompok kesenian tradisional Tari Saman Gayo asal Provinsi Aceh berkunjung ke Korea Selatan untuk tampil di panggung internasional, mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi Busan International Dance Festival, yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 9 Juni 2026 di Busan, Korea Selatan (Korsel).
Ketua Lembaga Seni Budaya Gayo Aceh (Lesbuga), M Aris kepada wartawanGayo.comFikar W Eda pada saat berada di Jakarta, Senin (4/5/2026), menekankan bahwa Tari Saman Gayo bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi merupakan identitas budaya yang penuh makna tentang kerja sama, disiplin, dan spiritualitas.
"Saman merupakan wajah Indonesia yang utuh. Ia lahir dari kearifan lokal, berkembang dengan kekuatan bersama, dan telah diakui oleh dunia," katanya.
Panitia Busan International Dance Festival (BIDF), dalam surat undangannya yang dikirimkan kepada Lesbuga, menyampaikan bahwa festival ini mengundang kelompok seni dari berbagai negara untuk mempersembahkan tarian tradisional maupun modern sebagai bagian dari pertukaran budaya global dan penguatan jaringan seni pertunjukan internasional.
Panitia juga menegaskan bahwa mereka menyediakan ruang bagi karya-karya yang mencerminkan identitas budaya yang kuat, memiliki ciri khas, serta mampu menyampaikan pesan yang dapat diterima oleh masyarakat internasional.
Merespons hal tersebut, M Aris menganggap bahwa Tari Saman memenuhi kriteria yang dimaksud.
"Yang diminta oleh panitia festival tersebut ada pada Saman. Keunikan, kekuatan, dan pesan yang universal semuanya bersatu dalam satu tarian," katanya.
Tari Saman telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO.
Pernyataan ini menjadi dasar yang kuat bahwa Saman memiliki hak sah untuk berpartisipasi dalam forum internasional.
Menurut M Aris, keikutsertaan Saman dalam festival internasional tidak hanya terkait dengan pertunjukan, tetapi juga sebagai bentuk diplomasi budaya.
"Ketika Saman tampil, dunia tidak hanya menyaksikan gerakan yang seragam, tetapi juga merasakan pesan persatuan, keselarasan, serta kekuatan budaya Indonesia," katanya.
Jadwal Pertunjukan Kelompok Saman di BIDF 2026
- Jumat (5/6/2026): Pembukaan Festival Tari Internasional Busan di Pusat Budaya Busan
- Sabtu (6/6/2026) dan Minggu (7/6/2026): Pertunjukan Saman pertama kali tampil di Handeu Beach Stage
- Senin (8/6/2026): Pelatihan Saman di Sekolah Dasar Chungriyeoul
- Selasa (9/6/2026): Penampilan terakhir di Gedung Teater Grand Geoje Arts Centre, sekaligus penutupan BIDF.(*)