Waspadai Turunnya Cadangan Devisa Jika Rupiah Tembus Rp18.500 -->

Waspadai Turunnya Cadangan Devisa Jika Rupiah Tembus Rp18.500

8 Jun 2026, Senin, Juni 08, 2026

bengkalispos.com.CO.ID - JAKARTACadangan devisa Indonesia dianggap masih cukup kuat sebagai penopang dalam menghadapi tekanan luar dan penurunan nilai tukar rupiah.

Namun, risiko penurunan dapat meningkat jika kurs rupiah terus mengalami pelemahan hingga melewati angka Rp 18.500 per dolar Amerika Serikat (AS).

Karena kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) mungkin terpaksa mengeluarkan lebih banyak devisa guna mempertahankan stabilitas pasar keuangan.

Bank Indonesia mengumumkan cadangan devisa Indonesia sebesar 144,9 miliar dolar AS hingga akhir Mei 2026. Angka ini berkurang sebesar 1,3 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir April 2026 yang mencapai 146,2 miliar dolar AS.

Secara year to date (Ytd), posisi cadangan devisa telah turun sebesar 11,6 miliar dolar AS dibandingkan dengan posisi pada Desember 2025 yang mencapai 156,5 miliar dolar AS.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menyampaikan bahwa kondisi cadangan devisa Indonesia saat ini masih berada pada tingkat yang cukup stabil.

Pada akhir Mei 2026, cadangan devisa mencapai sekitar 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang masih melebihi batas aman standar internasional minimal sebesar tiga bulan impor.

Namun, Josua memperingatkan bahwa risiko terhadap cadangan devisa akan semakin besar jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dan terus melebihi angka Rp 18.500 per dolar AS secara terus-menerus.

"Resiko cadangan devisa akan meningkat jika rupiah terus melemah di atas Rp 18.500 per dolar AS. Pada situasi ini, tekanan psikologis pasar bisa semakin tinggi, kebutuhan intervensi Bank Indonesia mungkin lebih besar, dan cadangan devisa berisiko menurun lebih cepat," kata Josua kepada bengkalispos.com, Senin (8/6/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah kemungkinan masih akan terus berlangsung dalam waktu dekat.

Dari sudut pandang global, perasaan pasar dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, harga minyak dunia yang tinggi, imbal hasil aset Amerika Serikat yang masih menarik, serta kecenderungan investor global untuk mengurangi paparan terhadap aset negara berkembang.

Sementara di dalam negeri, pasar masih memantau perkembangan defisit fiskal, kualitas pengeluaran pemerintah, konsistensi kebijakan ekonomi, serta aliran keluar modal asing dari pasar saham dan obligasi.

Di skenario dasar, Josua memperkirakan kurs rupiah bergerak antara Rp 17.900 hingga Rp 18.200 per dolar AS hingga akhir tahun. Namun jika tekanan global dan dalam negeri memburuk, rupiah berpeluang menguji angka Rp 18.300 hingga Rp 18.500 per dolar AS.

Namun, ia berpendapat bahwa melemahnya rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara menyeluruh.

Dengan inflasi yang masih terkendali, surplus perdagangan yang tetap stabil, pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, serta cadangan devisa yang masih cukup memadai, nilai tukar rupiah diperkirakan berada dalam kisaran Rp 17.000 hingga Rp 17.500 per dolar AS.

"Secara saat ini, pasar tidak hanya mengevaluasi dasar-dasar ekonomi, tetapi juga memperhitungkan premi risiko akibat ketidakpastian kebijakan, tekanan fiskal, dan aliran modal. Oleh karena itu, nilai tukar rupiah mengalami penurunan lebih dalam dibanding dengan nilai wajar," ujar Josua.

Ia menganggap Bank Indonesia tetap perlu melakukan tindakan untuk mengurangi fluktuasi nilai tukar rupiah. Namun, tindakan tersebut tidak boleh dilakukan dengan cara yang terlalu keras demi menjaga tingkat kurs tertentu.

"Intervensi yang terlalu keras justru berpotensi menghabiskan cadangan devisa tanpa mampu memulihkan keyakinan pasar," katanya.

Josua menuturkan, jika rupiah tetap bergerak dalam kisaran proyeksi dasar antara Rp 17.900 hingga Rp 18.200 per dolar AS, dampaknya terhadap cadangan devisa masih bisa diatasi.

Pada situasi tersebut, BI cukup berupaya memastikan pergerakan rupiah tidak terlalu fluktuatif sambil meningkatkan daya tarik aset rupiah melalui tingkat imbal hasil yang kompetitif, likuiditas pasar yang cukup, serta komunikasi kebijakan yang jelas.

Di sisi lain, usaha dalam menjaga kestabilan luar negeri tidak dapat hanya bergantung pada cadangan devisa sebagai alat perlindungan.

Pemerintah juga harus memperkuat pasokan valuta asing melalui kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), menjaga kredibilitas keuangan negara, mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, serta meningkatkan iklim investasi agar dapat menarik lebih banyak aliran modal asing langsung.

Josua memprediksi cadangan devisa Indonesia akan berada sekitar US$ 140 miliar hingga US$ 145 miliar pada akhir 2026 dalam skenario dasar.

Namun jika harga minyak tetap tinggi, defisit transaksi berjalan akan membesar, dan arus keluar modal asing semakin meningkat, cadangan devisa berisiko turun antara US$ 135 miliar hingga US$ 140 miliar.

TerPopuler