
Ringkasan Berita:
- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperingatkan Iran untuk tidak menyerang Israel dan berjanji akan memberikan balasan yang jauh lebih besar jika hal tersebut terjadi.
- Hal ini disampaikan Netanyahu setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran, menyusul pengumuman Trump tentang penerapan kembali pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz.
- Iran membalas serangan Amerika Serikat dengan menargetkan Bahrain, Yordania, dan kapal tanker milik Uni Emirat Arab.
- Ketegangan di Selat Hormuz menyebabkan kenaikan harga minyak mentah global, termasuk minyak Brent dan minyak mentah Amerika Serikat.
NEWS.COM - Dalam situasi peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut memperburuk suasana dengan mengeluarkan pernyataan yang menimbulkan kontroversi.
Tokoh sekutu dekat Presiden Amerika Serikat Donald Trump di kawasan Timur Tengah menyatakan bahwa Israel akan memberikan respons yang sangat tegas jika terjadi serangan di wilayah kedaulatannya.
Pernyataan ini diungkapkan oleh Netanyahu saat berpidato dalam sebuah konferensi di kota Dimona, Negev, Israel pada Selasa (14/7/2026)
Ancaman Israel untuk Iran
Dalam pidatinya, Netanyahu menyampaikan pandangan negaranya terkait perkembangan terbaru di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas.
Dilaporkan oleh Times of Israel, Netanyahu memastikan bahwa militer Israel telah siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi nanti.
"Kami siap menghadapi segala kemungkinan," tegas Netanyahu di hadapan tamu undangan dan peserta konferensi tersebut.
Selanjutnya, ia menekankan bahwa pemimpin Iran tidak boleh menganggap remeh tekad Israel dalam menjaga keamanan wilayahnya.
Bahkan Netanyahu memberi peringatan kepada para pemimpin di Teheran bahwa mereka tidak akan selamat jika berani menyerang Israel.
"Saya memiliki pesan satu untuk para pemimpin Iran: Jangan berharap damai jika kalian menyerang kami," tegasnya.
Bahkan Netanyahu mengingatkan bahwa serangan berikutnya hanya akan memicu balasan yang jauh lebih kuat dibandingkan kejadian sebelumnya.
"Jangan mengharapkan hal yang terjadi sebelumnya akan terulang kembali, karena tidak akan pernah terjadi pengulangan. Respons sebelumnya sudah cukup kuat, namun setiap upaya tambahan untuk melukai kami akan dijawab dengan respons yang berbeda, respons yang jauh lebih kuat," lanjut Netanyahu.
Diketahui bahwa sebagai respons terhadap serangan rudal Iran sebelumnya, Israel pernah melakukan serangan terhadap fasilitas petrokimia di barat daya Iran pada 8 Juni lalu.
Bahkan Netanyahu menekankan bahwa masa di mana lawan bisa menyerang Israel tanpa mendapat konsekuensi berat telah berakhir.
"Masanya telah berakhir ketika seseorang dapat menyerang kami tanpa mengeluarkan biaya yang besar," kata Netanyahu.
Bekas Perdana Menteri juga berkomitmen untuk terus mengambil langkah-langkah keras terhadap siapa pun yang berusaha mengganggu keamanan negaranya.
"Kami telah membuktikan hal tersebut ketika menghadapi poros kejahatan Iran, dan kami akan terus bertindak tegas terhadap siapa saja yang menyakit kami. Inilah cara kami bertindak, dan inilah cara kami akan terus bertindak." tutupnya.
Peningkatan Kekuatan Militer di Selat Hormuz
Peringatan Netanyahu muncul tidak lama setelah militer Amerika Serikat melakukan serangan terhadap Iran pada awal minggu ini.
Serangan tersebut terjadi beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kembali pemberlakuan "blokade" terhadap Iran di Selat Hormuz.
Trump bahkan menyiratkan bahwa Amerika Serikat akan membebankan biaya kepada kapal-kapal lain demi menjaga keamanan lalu lintas.
Kebijakan ini dianggap sebagai perubahan besar dari kebijakan Amerika Serikat selama ratusan tahun yang menunjang kebebasan berlayar di seluruh dunia.
Iran merespons tindakan tersebut dengan melakukan serangan terhadap Bahrain, Yordania, serta dua kapal tanker yang berhubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang sedang melewati selat tersebut.
Peristiwa tersebut mengakibatkan kematian satu orang pelaut dan melukai delapan orang lainnya.
Pihak Uni Emirat Arab saat ini mengancam akan membalas serangan Iran, yang berpotensi mengembalikan negara tersebut ke dalam konflik terbuka dengan Teheran.
Tegangan di Selat Hormuz juga berdampak besar terhadap pasar energi global, karena wilayah ini menjadi jalur penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak mentah dan gas alam dunia.
Harga minyak mentah Brent naik ke posisi tertinggi dalam sebulan, berada di kisaran 87 dolar AS atau sekitar Rp1.566.000 per barel.
Nomor tersebut adalah angka tertinggi yang tercatat sejak bulan Juni.
Harga minyak mentah Amerika Serikat naik sebesar 4 persen, mencapai lebih dari 81 dolar AS atau sekitar Rp1.458.000 per barel.
Jika dihitung sejak dimulainya perdagangan pada malam Minggu waktu setempat (12/7/2026), harga minyak Brent telah meningkat lebih dari 15 persen, sedangkan minyak mentah AS naik lebih dari 12 persen.
Meskipun angka tersebut masih lebih rendah dari harga tertinggi perang yang pernah mencapai hampir 120 dolar AS atau sekitar Rp 2,16 juta.
Peningkatan ini juga berpotensi memicu kenaikan biaya di berbagai sektor ekonomi.
Keadaan ini semakin memperparah situasi pasca-perdamaian yang sebelumnya dijajaki dalam kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat guna mengakhiri konflik.
Saat ini, perjanjian tersebut sudah memasuki tengah waktu dari masa 60 hari yang direncanakan untuk negosiasi akhir, yang seharusnya juga mencakup program nuklir Iran yang sedang dipertanyakan serta masalah-masalah penting lainnya.
(news.com/Bobby)